bahagia? tenang? senang?
diumur yang sudah menginjak kepala orang ini dan semakin dewasa semakin sering saya menanyakan hal ini pada diri saya. pagi-pagi setelah mandi di depan kaca, malam-malam menjelang tidur di atas kasur, atau siang-siang saat lapar di tengah pekerjaan kantor yang gak ada habisnya.
pertanyaan ini butuh kejujuran. saya tak perlu malu dan merasa kalah sekalipun jawabannya adalah tidak. setidaknya saya mengerti perasaan saya sendiri. setidaknya saya jujur pada apa yang saya rasakan. ini yang penting.
perihal tindakan yang kemudian harus saya lakukan atas perasaan saya itu adalah soalan lain. bertahan juga bukan kesalahan jika memang tak ada pilihan lain yang dapat dijangkau. putar arah atau berganti jalan juga bagus. intinya, menyesuaikan kemampuan dan keadaan.
yang bikin kesal itu jika saya membuat-buat alasan untuk menutupi rasa bersalah saya atas kemalasan dan kelalaian saya, padahal ada kesempatan dan ada kemampuan. kenapa kesal? jelas kesalahan saya tidak bahagia karena ketidakmampuan saya melawan rasa malas dan lalai saya sendiri.
bertahan hidup itu memang gak gampang ya, tapi bukan gak mungkin. memang perlu dipikirin dan diseriusin, bukan sekenanya.
ah, ayolah semangat!














