Blessings in disguise
Latihan menari bersama crew gamelan minggu kemarin, rupanya adalah moment yang istimewa. Bagaimana tidak?, Saya sebagai koordinator penari yang selama ini selalu kesulitan untuk merekrut penari baru, tiba-tiba saja mendapat anugrah seorang penari belia yang sangat bersemangat dan pemberani, sebab hanya dialah satu-satunya penari cilik diantara kami penari dewasa.
Proses bergabungnya pun tak kalah dramatis, di saat mulai bosan menonton tv sambil menunggu ayahnya yang khusus datang untuk berlatih Kecak dalam rangka Pagelaran Sendratari yang berkolaborasi dengan Komunitas Warga Indonesia lainnya, dia memperhatikan kami berlatih menari. Kemudian salah seorang dari kami memberinya bokor bunga untuk menari pendet, lalu dia pun langsung bangkit dan ikut menari.
Kami semua bersorak gembira dan memberinya applause, dan dalam sekejab suasana latihan menjadi lebih bersemangat dan penuh suka cita.
Sesi latihan bersama crew gamelan pun tidak kalah serunya, kejutan kecil ini ternyata membawa dampak yang luar biasa hebat bagi kami semua.
Misi untuk menghidupkan kembali grup menari yang sebelumnya terasa berat dan penuh tantangan itu, sedikit demi sedikit mulai terasa lebih ringan.
Sebab di sepanjang perjalanan, banyak sekali perjumpaan dengan orang-orang baru dari latar belakang berbeda namun memiliki visi serta semangat yang sama, melakukan yang terbaik yang kami bisa dan bersuka cita.
Optimise untuk bisa menghidupkan lagi grup penari dengan perspektif baru, yang menghargai perbedaan, inklusif, kolaboratif, serta melakukan yang terbaik dengan ketulusan, namun tetap bersuka cita pun muncul kembali.
Saya sadar, ke depan tantangan pasti akan lebih besar tapi keyakinan bahwa kami pasti bisa melewatinya tak pernah redup. Dan lewat peran ini pula, jalan untuk belajar dan memperbaiki diri serta kinerja terbentang luas. Tugas saya selanjutnya adalah memastikan untuk bisa tulus dan bersungguh-sungguh dalam apapun yang saya kerjakan dan usahakan.













