Beberapa memori
Ketakutan terbesar.
Tulisan ini sekedar membahas takut yang dapat secara emosional dideskripsikan atau dirasakan dan diungkapkan baik verbal maupun dalam mental saja.
Apa ketakutan terbesarmu? Untukku adalah, merasa tertinggal atau ditinggalkan di belakang.
Aku hidup dan percaya pada suatu kutipan dari film Lilo and Stitch,
Ohana means family, and family means nothing left behind.
-Lilo.
Aku punya rasa takut yang amat pada keadaan ditinggalkan. Ditinggalkan di sini macam-macam sebenarnya, bukan hanya ditinggalkan sendiri seperti orang-orang dalam kubur yang katanya hanya berkawan amal.
Ditinggalkan di sini lebih kompleks, lebih luas abstraksinya. Seperti, ditinggalkan oleh zaman.
Zaman dibentuk oleh waktu, waktu ini jadi variabel terhadap sesuatu you named it, seperti skill, hubungan, dan lainnya seperti yang bisa secara implisit dibaca pada tulisan yang sebelumnya sebenarnya. Aku sendiri takut ditinggal zaman, ataupun ketinggalan zaman.
Takut tidak bisa catch up dengan perkembangan teknologi, dengan kemampuan orang-orang sekitar, takut tidak bisa memulai hubungan normal dengan orang lain, takut yang difaktori zaman.
Aku ingat suatu memori tentang ditinggalkan. 5 tahun, hari pertama TK. Masuk jam 7 pulang jam 10. Masuk diantar mama, pulang tidak dijemput mama. Ditinggal. Dijemput oleh teman mama, diajak ke kantor mama, mama lagi kunjungan ke kantor lain. Terus mojok, sedih nangis karena merasa ditinggal.
Memori lain, 10 tahun, kelas 5 SD. Hari pernikahan saudara. Keluarga besar sedang kumpul di rumah saudara yang menikah. Pernikahan sudah selesai, beberapa saudara lain berangkat liburan duluan, tapi sayangnya kena malaria, terpaksa yang masih di rumah saudara harus cepat-cepat nyusul buat bantuin. Nyusul dibagi 3 mobil. Mobil yang aku di dalamnya berangkat terakhir. Mobil yang kedua berangkat, sedih, ke toilet buat pura-pura cuci muka biar gak kentara kalau nangis, nangis karena ditinggal duluan buat nunggu berangkat (di mobil 2 ada saudara teman main yang sebaya dan beberapa kakak yang juga teman main). Terdengar cengeng, memang. Tapi yang saya ingat itu sekedar bentuk ekspresi terhadap rasa takut saya, ditinggalkan.
Satu memori terakhir, sekitar 12 tahun lalu. Tengah malam--pukul 22.00--setidaknya untuk anak umur 7/8 tahun. Belum bisa tidur. Papa masih nonton Bioskop Trans TV atau apalah tontonan malam waktu itu. Dengan polos tanya, "pah, kalau nanti kiamat bagaimana sa cari bapak atau mama? katanya orang lari terpencar-pencar, bagaimana kalau sa di sekolah, bapa di kantor?" sedih, seingatanku aku menangis, terisak, iya terisak, polos, sayangnya aku tidak ingat jawaban papa.
Setidaknya sudah 20 tahun, tahu soal bagaimana rasanya ditinggalkan ataupun meninggalkan meski hanya untuk sementara tetap timbul.
Ditinggalkan, ketakutan terbesar.
Jakarta, 11 Juni 2017














