I lost, again.
Kepada manusia yang tidak pernah terlintas akan kujatuhkan rasaku padanya.
Kepada ia yang dari awal hanya teman celoteh belaka.
Memang, ia terjebak lebih dulu ke dalam pusaran rasa. Kemudian aku menyusul setelahnya. Mana mungkin nyaman saja tidak menghasilkan apa-apa.
Aku banyak memikirkannya. Mengajaknya menjalani kegiatan langka menyenangkan bersamaku. Memikirkan apa kado terbaik dan berkesan yang bisa kuberikan di hari lahirnya. Tapi ternyata, memikirkanku saja sepertinya sudah tak lagi terlintas di kepalanya.
Rasa gembiraku hangus begitu saja. Dibakar tiba-tiba saat kutahu ia hanya memikirkan bagaimana cara ia datang ke lokasi dengan menghindari kemacetan, sehingga ia memilih penginapan jauh dari rumahku. Masih mungkinkah ia menawariku sebuah jemputan?
Rasa semangatku sirna begitu saja. Saat dia menyatakan bahwa inginnya hadir setelah lewat pukul dua, sedangkan aku mengajaknya hadir sebelum pukul dua. Hanya berbeda beberapa menit saja, tapi dia tidak mau mengusahakan. Tidak adakah terlintas di kepalanya mengapa aku ingin hadir lebih cepat di acara?
Dia bilang dia ikut caraku saja. Namun, setelahnya dia dengan sengaja menyatakan kehendaknya.
Dan tidak sedikitpun dia bertanya, bagaimana caraku menuju lokasi, dan mengapa aku ingin hadir lebih awal.
Padahal, rencana ini disusun karena aku ingin bersenang-senang dengannya, sekaligus merayakan hari ulang tahunnya. Berharap hadiah ulang tahun dariku ini, dapat terkenang dengan indahnya.
Lagi-lagi aku kalah. Mengusahakan tapi tidak diusahakan. Terlalu peduli padahal tak lagi dipedulikan.
Yang jatuh hati lebih dulu saja, bisa mengabaikanku begitu saja. Apalagi ia yang kukejar mati-matian.
Lagi-lagi aku harus menyadari, bahwa dalam keadaan apapun aku harus kembali menjadi mandiri dan sendiri.
Hobingetik.
Mengawali agustus dengan tengah malam terbangun, hanya untuk meratapi. Emosi marah berakhir dengan kecewa dan air mata.
















