Antara Tuhan, Manusia, dan Alam Semesta di Mana Dirimu Berada
Sungguh sesuatu yang menyenangkan bisa bertukar pikiran dengan kawan-kawan sehimpunanku. Seharian ini, Sabtu (7/8) aku mengisi materi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) himpunanku. Materi ini adalah materi yang mengandung penjelasan mengenai pemaknaan Islam secara khusus yang akan menjadi landasan peran perjuangan himpunanku.
Materi ini menarik. Sebab memantik begitu banyak diskusi dan bahkan perdebatan. Juga menggugah lapisan-lapisan kesadaran. Ada begitu banyak hal yang pada akhirnya terbongkar selama materi ini berlangsung. Karena memang materi ini secara sederhana adalah kerangka berpikir, kerangka yang sebelumnya tertanam harus diidentifikasi, dibongkar, dan dimusnahkan terlebih dahulu.
Belum lagi topik-topik yang dikemukakan adalah topik-topik yang sangat mendasar. Beberapa orang enggan menyinggung hal-hal mendasar ini karena merasa bahwa hal-hal tersebut sudah final dan tak boleh diganggu gugat lagi. Bagaimana tidak, jika hal-hal mendasar itu dibongkar, tentu bangunan pemikiran dan tindakan yang telah dibangun di atasnya akan ikut terbongkar juga. Hancur berantakan.
Tapi tentu kita tetap berusaha bertanya-tanya, bagaimana jika hal-hal mendasar ini sebenarnya salah? Yang mengakibatkan bangunan di atasnya juga salah? Untuk itulah meski mungkin berat dan melelahkan, kita tetap terus berusaha mengidentifikasi hal-hal tersebut dan jika ternyata terbukti salah, kita mesti berani membongkar dan membuangnya. Meski itu berarti kita mesti memulai segala sesuatunya dari kekosongan lagi.
Hal-hal mendasar itu pertama-tama adalah tentang Tuhan. Banyak orang yang takut berbicara tentang tuhan. Orang-orang ini takut jika pembicaraan tersebut menggusur kepercayaan yang selama ini mereka pegang. Namun tentu saja kita mesti bertanya lagi, bagaimana jika kepercayaan tersebut salah? Siapakah manusia yang mau menjalani hidup dalam kesalahan? Secara naluriah, kita cenderung kepada kebenaran. Maka kesalahan akan menggelisahkan kita. Namun sayangnya orang-orang itu lebih memilih kesalahan yang menyenangkan ketimbang kebenaran yang menyakitkan. Bukan karena mereka mau berkehidupan secara salah, melainkan semata-mata karena ketakutan berlebihan atas kebenaran yang membuat mereka tidak nyaman, apalagi kebenaran yang menggugat posisi mereka.
Perbincangan tentang tuhan kemudian diikuti dengan perbincangan mengenai hal-hal mendasar lainnya; mulai dari manusia, alam semesta, dll. hingga masyarakat yang pada akhirnya merupakan ruang di mana peradaban Islam itu harus diwujudkan.
Kita sehari-hari berada di tengah-tengah hal-hal mendasar ini namun enggan membahasnya lebih jauh, lebih luas, dan lebih dalam. Mengapa? Problem ini adalah imbas dari kamandegan berpikir yang melanda umat Islam beberapa abad belakangan. Kemandegan ini diiringi doktrin bahwa pembahasan hal-hal mendasar tersebut adalah tabu karena dogmanya sudah final dan tidak boleh digugat lagi.
Pada forum-forum dan organisasi seperti inilah, kami berusaha untuk membongkar kerangka berpikir yang salah, dan membangun kerangka yang benar demi kemajuan para mahasiswa Islam untuk bisa berjuang mewujudkan peradaban Islam yang gemilang sekali lagi dalam Sejarah.