Olahraga Para Bedebah (sebuah refleksi tentang PSSI)
“Para leluhur yang ingin mewujudkan kebajikan di bawah langit, pertama-tama akan mengelola negara. Orang-orang yang ingin mengatur negara, pertama tama harus mengatur keluarga. dan barangsiapa hendak mengatur keluarga, pertama-tama harus menjaga kehidupan pribadinya. Kemudian, mereka yang ingin menjaga kehidupan pribadi, pertama-tma harus mengkehendaki hati bersih. Sedangkan mereka yang mengkehendaki hati bersih, pertama-tama  harus memiliki niat ikhlas..”
-Mohamad Sobary, mengutip
Persepakbolaan Indonesia dikuasai oleh para bajingan. Pada suatu masa para bajingan mulai merasuki tubuh persepakbolaan hingga membuatnyakeblinger tanpa aturan. Tak ada yang bisa dibanggakan dari olahraga paling populer ini. Tak ada prestasi sama sekali. Hanya menghasilkan aib dan aib lagi untuk negeri. Tak ada alasan untuk mencintai olahraga ini lagi. Nyatanya, masyarakat masih memilih untuk menikmati hiburan gerak seniman lapangan dan semua atribut kebesaran baju perangnya. Menjadikannya alasan untuk menutup mata terhadap segala kebobrokan. “Terlalu cinta!”, katanya. “Sepakbola bukan hanya tentang organisasinya. Kita tak perlu jatuh cinta pada organisasinya untuk dapat menikmati sepakbola.”
Sepakbola sedang sakit, kronis dan menahun. Terlalu lama ia sakit hingga kita lupa Pemimpin-pemimpinnya buta kalau tidak tuli. Mereka lupa, melayani rakyat harusnya ada di atas kepentingan pribadi. Entah demi nafsu gila macam apa orang-orang yang catatan hidupnya dikenal mbalelo terhadap rakyat berlomba memiliki kekuasaan atas sepakbola.
Dimulai dari Nurdin Halid. Tanpa halangan berarti melenggang memimpin PSSI sebanyak dua kali. Dua kali. Bisa jadi, tak ada ada tokoh lain yang memiliki kompetensi. Bisa juga, ia memiliki orang-orang yang loyal terhadap kapital. Kisah pertama tak begitu romantis dan berbuah jasa. Tak tahu rasa malu ia pun merasa terpanggil untuk memimpin lagi.
Meski tak memiliki prestasi, dengan bangga ia berkata, “aku telah memberikan segalanya untuk negeri.” Sekali, ia ibarat singa yang membabi buta menerkam siapa saja mengusik kedamaiannya. Begitu gigih dan bernafsu mempertahankan kekuasaan. Bukan main ia tersangkut kasus korupsi. Mengambil uang hak rakyat untuk kepentingan pribadinya. Kemudian ia pun dipenjara, gilanya ia masih memiliki kuasa di balik sana. Ia masih dijunjung tinggi oleh orang orangnya yang entah loyal terhadap apa. Gila! NH diperlakukan bagaikan raja titisan dewa. Dipelintirnya statuta PSSI agar ia masih memiliki kendali. Memelintir aturan. Mengendalikan dari jeruji besi. Ia adalah manifestasi masyarakat, tentang tokoh penjahat super ala Hollywood.
Angin perubahan dihembuskan nama Djohar Arifin (Panigoro). Janji-janji manis diucapkan. Harapan akan kemauan untuk melakukan pembaruan pun didengungkan. Waktu pun berlalu, ternyata jargon hanya sebatas jargon. Akal pikirnya semakin tidak waras dan jiwanya semakin terpecah belah antar anggota. Masyarakat yang sudah terlanjur kecewa pun semakin putus asa melihat adanya perbaikan. Kisah cinta ini tak berlangsung lama, meninggalkan PSSI dalam keadaan sakit dan makin terluka.
Bingung dan tersakiti, PSSI justru ke pelukan orang yang lebih edan. La Nyalla!! Mendengar hal ini sang dewa pun murka dan merasa sudah saatnya ia memperlihatkan kuasanya. Dengan terpaksa Jokowi memaksa PSSI mati suri. Berharap sentuhan Tuhan akan memberikan rasa dan jiwanya kembali. Masa pun berlalu. Ia terbangun, namun tak lama ia sakit dan roboh lagi. “Semua ini konspirasi”, katanya. Kata pemimpin baru yang memilih menghilang pergi saat hukum mendatangi.
Dan, pemimpin kita seorang buron!
Masyarakat sebenarnya sudah semakin putus asa akan adanya perubahan yang benar benar nyata. PSSI pun sendiri, jika mungkin akan memilih untuk tidak pernah dilahirkan daripada berakhir dalam kondisi seperti ini. Mungkin disana, terlalu banyak kekuatan yang beradu memperebutkan kekuasaan atas sepakbola. Mungkin juga, orang-orang disana memiliki ego yang terlalu tinggi untuk mau mengalah dan setidaknya duduk bersama membicarakan sedikit rasa kemanusiaan dalam olahraga. Mungkin juga, sepakbola Indonesia memang sudah dikutuk untuk hidup dalam kesengsaraan. Penggemar setia mungkin juga merasakan kepedihan tiap kali ada berita mengenai sepakbola di layar kaca televisi mereka. Yang jelas masyarakat masih terlalu cinta untuk berhenti memperdulikan sepakbola. kisah cinta ini masih berlanjut hingga saat ini.
Sepakbolaku, sesungguhnya aku sayang kepadamu.