JANGAN HANYA BELAJAR UNTUK UJIAN SEKOLAH! YANG ADA MALAH JADI BODOH! (Part 1)
Seringkali kita hanya bertanya โkurang apalagi usahaku dalam menggapai tujuan?โ Namun kita lupa bertanya โhal apa yang telah kita lakulan secara berlebihan โ
Belajar itu tidak boleh berlebihan dengan buku teks dan soal ujian. Melainkan harus dibarangi life skills seperti masak, berdagang, berberes rumah, merakit barang, olahraga, dsb.
Ini dibutuhkan untuk melihat langsung praktik ilmu dalam kehidupan. Inilah filosofi belajar yang sering terlewatkan.
Hidup saya adalah salah satu dari sekian bukti bahwa terlalu banyak belajar untuk sekolah itu bahaya. Apalagi jika dilakukan sejak kecil.
Sejak saya SD sampai lulus SMP, performaku di akademik masih aman. Adapun turunnya performa akademik saya karena kendala bahasa setelah pindah negara. Tentunya saya cepat bangit setelah menguasai bahasa Indonesia.
Merosotnya akademik saya mulai usai saya lolos masuk SMA Negeri favorit. Itu terus berlanjut sampai saya butuh hampir 6 tahun untuk lulus kuliah arsitektur.
Setelah saya mencari akar penyebabnya, ternyata sejak kecil saya lebih banyak mengasah kemampuan akademis dibandingkan life skills. Kondisi itulah yang membuatku burnout untuk mengejar akademik di masa dewasa.
Seringkali jawaban masalahku ada di depan mata. Namun aku tidak melihatnya, karena tugas dan ujian sekolah jarang mengajarkanku tentang cara menyelesaikan masalah hidup.
Saya sering menjadi bahan perundungan sejak kelas 6 SD. Awalnya saya didoktrin bahwa saya dirundung karena salah saya sendiri. Namun saat saya sedang tidak berulah, saya tetap dirundung.
Dalam kondisi itu, saya belajar habis habisan untuk Ujian Nasional 6 SD untuk mengalihkan pikiranku terhadap teman-teman sekelas yang merundungku.
Alhasil, saya meraih nilai UN murni yang mendekati 100. Nilai saya tersebut juga mendapatkan peringkat tertinggi ketiga di angkatan saya.
Namun setelah keberhasilan tersebut, saya semakin tidak paham dengan masalah hidup saya.
Pintar menjawab soal ujian di kertas, tapi bingung menjawab masalah hidup nyata.
Saya punya banyak kesempatan untuk mengadu ke guru terkait ulah teman-teman sekelas terhadap saya. Namun tidak saya lakukan karena terdoktrin bahwa ini semua salah saya.
Padahal ulah teman sekelas sudah keterlaluan sejak 6 SD. Mulai dari menampar saya tanpa sebab, mengambil bukuku tanpa izin, membuang bateraiku saat ujian praktik IPA, melempar botolku, mengusikku sebelum ujian dimulai dan masih banyak lagi.
Ujian sekolah hanya menguji kemampuan kita dalam menyerap ilmu. Namun jika ingin survive in real life, ilmu yang diserap harus diterapkan.
So keep studying, but always take care of your real life problems.












