Di akhir dekade 1970-an dan awal 1980-an banyak penjual miras atau minuman keras di Yogyakarta terutama di wilayah Kota Yogyakarta. Tidak hanya di toko-toko yang menyediakan, tetapi banyak juga warung-warung kecil yang membuka usaha dengan berjualan minuman keras.
Jika toko menjual minuman keras pabrikan, dengan jenis jenever, scotch whiskey, bourbon whiskey, rum dan sebagainya hingga anggur ketan hitam yang biasa disebut KTI (ketan item) hingga anggur malaga. Aneka macam bir juga tersedia dengan mudah didapat konsumen.
Membelinya pun tidak dibatasi, tinggal sebut saja terang-terangan. Pembeli lain di toko juga maklum.
Selain miras pabrikan, ada pula yang merupakan oplosan.
Ada dua jenis oplosan. Oplosan yang berarti jenis minuman keras pabrikan dicampur dengan bahan lain, atau minuman keras itu hasil buatan sendiri, baik dari membeli alkohol obat yang mudah didapat maupun dengan membuat memproses sendiri dari awal hingga menjadi minuman keras sejenis arak atau tuak.
Saat itu memang kondusif, tak banyak tawuran. Meski katanya banyak gali (genk anak liar) namun aman. Apalagi duduk bersama di warung minuman keras.
Beberapa lokasi favorit yang menjadi tempat jujugan penikmat miras di Kota Yogyakarta antara lain di Jalan Soedirman. Warungnya relatif kecil berukuran 3X4 meter. Penjualnya saya sebut saja CH, orangnya ramah dan sehari-harinya bekerja di salah satu instansi. Penjual mepet dinding barat, di depannya ada meja yang dihiasi dengan taplak plastik dan terdapat lodhong berisi makanan kecil yang biasa digunakan sebagai tambul.
Gelas yang digunakan adalah gelas kecil yang ukuran isi sekitar separoh dari gelas 200 mililiter. Harganya? Rp150 per gelar plus satu bungkus plastik kacang goreng. Kalau mau nambah kacang ada yang dijual dengan ukuran kemasan yang lebih besar, harganya Rp50 per plastik. O iya, miras di tempat CH ini hanya satu jenis, oplosan CH sendiri.
Atau yang paling legendaris adalah tempatnya Bu Al yang berada di bawah gauk (sirine perang) di sebelah selatan Pasar Lempuyangan timur jalan. Di tempat ini yang dijual adalah KTI atau malaga. Tidak menyediakan yang lainnya.
Meski banyak yang berjualan, meski banyak yang mengkonsumsi, dahulu jarang terjadi tawuran gara-gara mabok. Konsumen tahu diri, kalau minum kemudian matanya berair, ia akan menghentikan dan berusaha memuntahkan, karena pertanda fisik tidak kuat.
Atau kalau mau adu kuat minum atau yang diistilahkan tomprang atau cidukan, akan dilakukan di rumah. Tomprang biasanya dilakukan dua sampai empat orang. Seorang yang mengawali, minum satu sloki, akan diikuti oleh lainnya juga satu sloki, terus begitu sampai ada yang tidak kuat dan meletakkan slokinya.
Atau cidukan, satu panci miras oplosan sendiri, diambil dengan menggunakan gelas lainnya dan dituang, gelas yang digunakan minum, akan bergantian memutar ke kiri atau ke kanan. Kalau salah satu minta dilewati hingga dua kali, ia harus mundur.
Oplosan yang paling banyak adalah moscow cold. Whiskey dicampur dengan perasan jeruk dan es batu kemudian soft drink.anja?
Biasanya baik tomprang maupun cidukan, sangat meriah, karena dipastikan ada yang memnawa gitar dan menyanyi, sampai semua tertidur sekitar pukul 03.00 pagi.
Jarang menimbulkan perkelahian diantara mereka. Lotse untuk gembira, muthuy (muthus) tidur. (***)