Hari ini, adikku berpulang ke tempat ia berasal. Bukan lagi pulang ke rumah, tapi pulang ke pangkuan penciptanya. Usianya masih sangat muda, 14 tahun. Baru SMP kelas 2. Itupun belum sempat masuk sekolah lagi karena hampir setiap hari dihabiskan di rumah sakit, atau rumah. Kalau tidak salah, sudah dua tahun ini Nisa mencoba bersahabat dengan Lupus, yang bersarang di tubuhnya.
Nisa anak tunggal, tinggal bersama ibunya di Karawang sementara ayahnya harus bekerja di luar kota. Dulu hampir setiap bulan Nisa dirawat di RSHS, karena harus sikloterapi. Setahun belakangan, frekuensinya ke rumah sakit sebetulnya berkurang (karena siklonya sudah tiga bulan sekali). Tapi ternyata, kondisinya seringkali tidak stabil dan mau tidak mau harus dibawa ke RSHS, lagi. Begitu terus rutinitasnya sehari-hari. Kontrol ke dokter, minum obat. Tidak sempat main, tidak sempat sekolah, ya karna kondisinya yang terus menerus drop.
Hampir dua tahun ini pula aku menjadi volunteer pendampingnya. Baru sebentar saja kami kenal, tapi rasanya Nisa sudah seperti adik sendiri.. :’) Inget banget dulu gimana malu-malunya dia saat pertama kali ketemu. Diajak ngobrol malah liat papa-mamanya buat minta jawaban. Hehe. Tapi kesini-sini, anak ini jadi manja banget. Duh, bener-bener kaya adik sendiri. Minta diajarin ini itu, nanya ini itu, cerita dan ngeluh ini itu, minta dibeliin ini itu. Begitu juga ayah-ibunya yang udah dianggap seperti kakak sendiri. Sering curhat, soal apapun.
Memang sudah beberapa bulan ke belakang kondisi Nisa tidak stabil. Drop-ada keluhan di perut-dirawat-dosis obat dinaikkan-nafsu makan naik-segar-drop-ada keluhan-… begitu terus polanya. Sehat sebentar, lalu ngga lama drop lagi. Dan dua bulan ini, kondisinya semakin menurun bahkan sampai masuk ICU.
Di sisi lain, dua bulan ini kuliahku semakin padat. Jadwalku selain kuliah, jadi ngga keruan. Susah atur jadwal quality time sama keluarga, temen, kakak, bahkan Nisa juga jadi korban. Dua bulan ini Nisa bulak-balik RSHS, tapi rasanya suliit sekali nyari waktu luang buat nengok Nisa. Waktu itu akhirnya menyempatkan diri untuk nengok, ternyata tiba-tiba ngga sengaja papasan dengan Nisa yang lagi dibawa ke ICU. Ibunya panik luar biasa, terus menerus nangis. Aku yang kaget, ngikut aja dari belakang dan berusaha nenangin ibunya. Saat itu katanya Nisa pendarahan hebat. Aku inget banget Nisa saat itu bilang, “Eh ada Teh Hasya..”, sambil senyum. Dia pake kerudung, terlihat cantik sekali.
Di hari itu, butuh waktu sampai akhirnya ibu Nisa bisa tenang, baru setelahnya aku bisa pulang. Beberapa hari setelahnya aku masih sempat berkunjung kesana. Nisa kondisinya jauh membaik, Nisa juga lebih ceria. Kami tertawa-tawa, cerita banyak hal, main game, bahkan disana Nisa masih sempet-sempetnya pengen ngejodohin aku sama dokter jaga. Anak ini emang pengen banget liat aku nikah, setiap ketemu selalu nanyain soal pacar, calon suami, dan nanya kapan aku akan nikah. Kami tertawa-tawa, lalu aku pamit pulang. Kukecup keningnya, tanpa tahu kalau itu adalah kali terakhir kami bertemu di dunia.
Dan siang ini.. Aku dapat berita mengejutkan itu. “Sya udah dapet kabar? Nisa meninggal Sya tadi”, itu bunyi sms Indah. Entah apa yang persisnya aku rasa saat itu. Sedih, bersalah, takut, kecewa pada diri sendiri, ah semua campur jadi satu. Tanpa pikir panjang, langsung izin sama temen sekelompok yang lagi diskusi, buat pulang duluan, mau langsung ke RSHS. Sepanjang jalan kesana nangis, inget banget hari Minggu lalu berniat kesana tapi ngga jadi (lagi-lagi karna tugas), dan rasanya menyesal luar biasa. Sangaat menyesal dan kecewa sama diri sendiri yang lalai dan ngga bisa mendampingi Nisa di saat-saat terakhirnya.
Duh, Allah.. Lagi-lagi aku kehilangan adik. Nisa, maafin teteh yah :(
Tapi ya dipikir-pikir, ini yang terbaik buat Nisa. Sudah lama Nisa kesakitan, terus menerus mengeluh karna sakitnya yang ngga kunjung reda, terus bertanya kapan ia bisa sekolah dan beraktivitas kaya anak pada umumnya. Kasian kalau terus menerus sakit. Bahkan beberapa waktu terakhir Nisa sampai minta ampun ke ayah-ibunya, minta diudahin aja sakitnya.. Pasti sekarang dia sudah tenang, sudah ngga sakit, sudah lega karna semuanya selesai.
Ya, apapun yang terjadi, pasti itu yang terbaik menurut Allah. Memang sudah waktunya, mau diapakan lagi? Memang ini yang terbaik, mau dipertahankan sampai kapan? Memang harus seperti ini jalannya, mau mengingkari sampai kapan? Tapi kadang, kita yang tidak siap dengan kehilangan. Tidak akan pernah siap, apalagi dengan semuanya yang serba mendadak. Semua berakhir pada penyesalan karna tidak memanfaatkan waktu yang tersisa dengan baik. Tapi, kita memang tidak pernah tahu.. Seperti kata seorang sahabat, “Takdir Allah, siapa yang dapat menyangka?”. Tidak ada, termasuk aku.
Ya.. Semoga Allah memberi kesabaran yang baik bagi keluarga yang Nisa tinggalkan. Mudah-mudahan Allah juga terus menjaga Nisa, mengampuni dosanya (yang pasti tidak seberapa karna ia masih kecil), menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Terimakasih ya Nisa, sudah mewarnai hidup teteh. Membuat teteh lebih bersyukur karna diberi kesempatan bertemu kamu yang kuat dan tabah. Terimakasih sudah memberi rasa hangat disini, setiap kali melihat kamu tersenyum. Terimakasih sudah mendoakan teteh, sudah menyayangi teteh, dan menjadikan teteh seperti tetehmu sendiri.
Teteh sayang banget sama Nisa, tapi Allah lebih sayang lagi.. :’)
Insya Allah kita ketemu lagi ya.