Im Back! : Sakit Cacar di Usia 21 Tahun
Hello. Ternyata sudah lama tidak menulis cerita harian. Huh. Kuliah di pendidikan kimia lumayan menyita waktu menulisku, hehehe. Engga deh, lebay! Kalau dulu sih aku sibuk sama jurnal, tugas, organisasi, dan lainnya. Sekarang cuman sibuk sama skripsi yang lebih banyak dipikirin dibanding di kerjain.
Oke fix, buat kalian yang menyangka kalau aku mulai menulis lagi untuk menghindari menulis skripsi, kalian hampir benar, haha. Hmm, engga seperti itu sih. Jadi, alasan lebih ilmiahnya adalah bahwa kapasitas setiap orang untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan suatu hal berbeda-beda, ada yang fokusnya bisa lama dan ada yang fokusnya kurang lama. Dan kalau sudah mulai tidak fokus, orang itu akan mencari hal-hal lain yang dapat memuaskan hatinya sebelum nanti mengerjakan tugasnya lagi. Yah seperti itulah yang sedang aku kerjakan sekarang.
Btw, aku bingung harus mulai darimana. Karena untuk membahas waktu yang udah lama kita lewati kurang memungkinkan, aku bakalan cerita hal-hal yang baru-baru ini terjadi.
Skripsi
Bulan ini aku sudah masuk bulan akhir dari semester 8, artinya seharusnya aku sudah menyelesaikan skripsi atau tugas akhir sebagai mahasiswa s1. Tapi ternyata, aku belum bisa menyelesaikannya. Banyak tugas yang belum dikerjakan. Aku masih harus terus mencoba dan mencoba. Hmm. Rasanya, pengorbanan yang aku lakukan sekarang belum bisa disandingkan dengan teman-temanku lainnya yang sudah bercucuran keringat demi skripsi.
Oke, tapi aku sama sekali tidak sedih dengan keadaan aku sekarang. Teman-temanku udah ada yang lulus, udah ada yang daftar sidang. Sekilas, mungkin untuk orang yang masih skripsinya seujung kuku kayak aku terlihat menyedihkan, tapi aku –selaku yang menjalaninya- tidak merasa menyedihkan. Aku selalu berpikir bahwa Allah akan memberikan rencana istimewa untuk setiap takdir ini. hmm. Bismillah. Semoga bagaimanapun takdir ini, kita bisa melewatinya.
Mahasiswa Akhir
Dan ternyata, bulan-bulan sebagai mahasiswa akhir telah menyadarkan aku mengenai banyaknya anugrah yang diberikan oleh Allah Subhanawata’ala kepadaku. Alhamdulillah.
Singkat cerita, awal semester 7 aku dititipkan sakit cacar. Sakit yang kata orang dialami hanya sekali seumur hidup. Dan notabene dialami oleh orang lain ketika masih kanak-kanak. Dan ternyata, aku malah mendapatkan ketika sudah menginjak umur 21 tahun. Bisa dibilang itu merupakan sakit aku yang paling parah. Alhamdulillah, dari kecil aku termasuk anak yang jarang sakit. Kalau sakit pun paling demam dan itupun tidak lebih dari tiga hari.
Sakit itu mulai aku rasakan pada malam hari, sepulang dari suatu tempat. Kepalaku sakit sekali. Tapi ini bukan sakit kepala yang biasa aku rasakan, tapi sakit yang terus menerus menghantam walaupun aku sudah mencoba untuk beristirahat. Selain itu, badanku mulai demam, saking demamnya aku merasa tidak bisa turun dari tempat tidur dan tentunya tidak bisa tidur pulas.
Waktu itu aku sedang di kosan, dan esoknya harus mengikuti perkuliahan pagi. Aku pun ikut kuliah –memaksakan- dengan rencana kalau sesudah kuliah aku akan ke poliklinik buat berobat. Eh ternyata, buat duduk di kelas aja badanku lemes banget. Aku cuman bisa diam di kursi, menundukan kepalaku, dan jam perkuliahan kali itu ingin segera diakhiri.
Sesudah kuliah, harusnya ada kuliah lagi sih, tapi aku bolos dan langsung cabut ke poliklinik. Temen-temenku yang lain pada menyarankan buat ke poliklinik sesudah kuliah aja, tapi badanku udah nggak kuat. Akupun langsung ke poliklinik.
Disana, aku mulai menunggu panggilan dokter. Badanku masih sama, lemas dan mulai mual. Kepalaku masih pusing. Akhirnya, bagianku untuk diperiksa.
Dokter memeriksaku. Oh iya, waktu pagi aku melihat sesuatu yang berbeda muncul ditubuhku, tepatnya dipunggung dan di tangan. Waktu itu ada benjolan kecil, seperti jerawat gitu. Dalam hatiku, aku mulai mencurigai kalau aku terkena sakit cacar. Hipotesis ini aku utarakan karena beberapa hari sebelumnya aku bertemu dengan temanku yang katanya baru selesai sakit cacar. Dalam hatiku, sepertinya aku tertular!
Mendengar penjelasanku serta melihat benjolan di tanganku dokter pun menyimpulkan bahwa aku mengalami sakit cacar. Aku diminta untuk seminggu tidak masuk kuliah. Ah, mana bisa- dalam hatiku. Sebenarnya, ada alasan sendiri mengapa aku merasa harus kuliah. Jadi, disemester 7 ini aku mengontrak matakuliah yang mewajibkan untuk kuliah fulltime. Nggak ada jatah bolos. Dan esoknya adalah hari pertama matkul itu. aku masih nggak kebayang aku harus bolos di matkul itu. hmm, sedih.
Tapi bagaimanapun, sakit ini sudah menyita waktuku. Aku akhirnya harus bolos juga.
Oke, jadi untuk teman-teman yang belum pernah mengalami cacar dan menyatakan bahwa kalau cacar itu hanya sakit gatal pada kulit saja, kalian sependapat denganku sebelum aku mengalami sakit ini. Ternyata, sakit cacar itu tidak sesimpel itu.
Fase awal ketika sudah mulai mengetahui menderita sakit ini, aku belum merasakan gatalnya benjolan-benjolan meskipun sudah mulai muncul. Namun, yang sangat aku rasakan adalah sakit kepala, demam, badan yang sakit-sakit dan sakit tenggorokan. Hampir setiap malam selama seminggu aku selalu merasa demam. Dan itulah yang membuat badan kita jadi lemas dan tidak bisa beraktivitas seperti biasanya.
Setelah aku googling, ternyata cacar itu disebabkan oleh suatu virus, dan untuk menghadapinya, kita harus punya sistem imun yang kuat. Cacar akan menyerang orang dengan sistem imun yang lemah, dan mungkin waktu itu sistem imunku sedang lemah dan waktu itu adalah beberapa hari setelah aku melakukan donor darah untuk pertama kali (cerita lengkap tentang donor darah yang pertama akan segera menyusul).
Sebagai anak kosan, aku mulai merasa tidak bisa bertahan di dalam kamar terus. Waktu itu, aku terus menerus diam di kamar karena takut menularkan sakit ini ke temen-temen kosanku. Dan aku pun tidak ingin pulang ke rumah karena takut menularkannya pada keluargaku yang notabene belum pernah menderita cacar (kecuali mamah). Tapi, pertahananku pun runtuh. Aku tidak bisa beli makan, dan bertahan disini. Akhirnya, aku pun dijemput Bapak dan pulang kerumah. Kata Bapak, aku nanti diam di kamar saja. Dan mamahku nanti yang mengurusku.
Aku pun pulang ke rumah. Benjolan di muka dan badanku semakin banyak. Jujur untuk melihat wajahku saja aku merasa takut. Aku merasa mamah melihatku dengan iba. Aku sedih berada di posisi ini.
Kembali bicara soal imun tubuh, untuk meningkatkan imun tubuhku, aku mulai mengkonsumsi madu, bahkan aku mengkonsumsinya hampir setiap 3 jam sekali. Menurut artikel yang aku baca, madu bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Dan untuk kasus sakit cacar sepertiku, madu bisa membuat benjolan-benjolan itu cepat kering.
Hmm. Disisi lain, dengan dititipkan sakit ini, banyak hal yang semestinya aku syukuri.
Pertama, mungkin ini pengingat untukku. Aku berharap ini disebabkan karena Allah merindukanku. Selama ini, aku hanya fokus dan menggunakan banyak waktuku untuk urusan dunia. Sedangkan, untuk urusan akhirat aku menggunakannya dari waktu-waktu sisaku. Astagfirullah. Sungguh aku merasa lalai. Qadarullah, sakit ini menjadi cara untuk bermuhasabah kepada Allah. Setiap aku merasa sakit –sakit di badan, aku teringat syair lagu:
“Wahai, pemilik hatiku. Betapa lemahnya diri ini. berat ujian dari-Mu, kupasrahkan semua pada-Mu. Tuhan baru ku sadar, indah nikmat sehat itu, tak pernah aku bersyukur....”
dan lagu ini
“Saat kau terpuruk dan terjatuh, pegang pundakku dan kita akan lalui itu, karena Tuhan tahu kita mampu, kita mampu”
Ya Allah, aku hanya diuji dengan sakit ini, tapi aku begitu lemah dalam menghadapinya. Seharusnya aku kuat, karena yang berkehendak atas semua ini adalah Engkau, dan seharusnya kesembuhan ini hanya aku minta kepada Engkau.
Kedua, dengan sakit ini menyadarkanku bahwa nikmat sehat adalah nikmat yang paling besar. Selain itu, disana aku merasa bahwa waktu lebih berharga dari apapun.
Ketiga, Allah membuatku sadar bahwa dititipkan keluarga dan sahabat yang shalih-shalihah membuatku harus selalu bersyukur. Mendapat dukungan dari mereka adalah jalan-jalan untuk melihat betapa besar karunia-Mu.
Baik. Itu mungkin sedikit cerita mengenai cacar. Aku bahagia pernah merasakan cacar diusiaku yang 21 tahun ini. Kok gitu? Iyalah, aku harus bersyukur. Cacar diusia 21 tahun banyak loh nikmatnya. Karena udah gede, jadi lebih bisa mengontrol diri kalau gatel-gatel mulai menyerang. Kalau udah gatel, dipikiran tuh selau aku ulang-ulang perkataan mamah “Jangan digaruk, nanti berbekas loh” haha. Dan dikondisi aku yang sekarang itu tidak cukup berbahaya. Cacar bisa menjadi bahaya ketika penderita sedang mengalami hamil gitu.
Oh iya, banyak yang nanya kenapa bekas bekas cacar dimukaku tidak terlihat. Sebenarnya, kalau dilihat dengan teliti dan mendalam (hehe) bekas itu ada, tapi karena bekasnya nggak merusak jaringan kulit, jadi kaya noda-noda bekas jerwat gitu. Dan itu hal yang paling aku syukuri (karena salahsatu hal yang paling aku takuti bekas –bekas cacarnya bersisa). Bahkan kata temen-temenku, setelah cacar mukaku malah bersihan wkwk. Iya sih ya orang aku nggk kemana-mana selama seminggu lebih dan mandi cuman 4 hari sekali wkwk (itu juga pake air anget dan diusapusap handuk doang, wkwk).
Oke, cerita ini sebenernya ngga detail banget karena aku nulis cerita ini kurang lebih hampir 10 bulan setelah kejadian jadi yahh banyak yang dilewatnya. But, thank you udah mau baca cerita curcol si gue haha. Kalau kalian mau nanya-nanya tentang cacar atau sharing apapun, komen ya guys. See you di cerita selanjutnya.














