Alkisah tersebutlah Mukidi, seseorang yg paling malas bangun pagi. Mukidi benci bangun pagi sebab leyeh-leyeh dalam selimut itu nikmat . Mukidi pun benci sinar matahari sebab ia penanda pagi telah datang, yg berarti harus meninggalkan segala kemalasan . Namun memang dasar Mukidi merasa sok kuasa, daripada harus menghadapi pagi dan beranjak dari nikmat kasur yg membuai, ia lebih memilih menggunakan akal bulusnya untuk menghalangi terbit fajar . Mukidi berupaya keras untuk mengubah seluruh setelan jam di rumah dan di rumah tetangganya agar tak pernah menyetuh pukul 4 pagi . Mukidi lalu bersusah payah membangun tembok yg amat tinggi untuk menghalangi sinar matahari menembus jendela rumahnya . Tak lupa Mukidi pun memberi obat bius kepada seluruh ayam di RT dan di RT tetangga, supaya teler dan tak berkokok lagi . Dengan sukacita Mukidi berfikir bahwa setelah apa yg dilakukannya, ia bisa menikmati buaian kasur sepuas-puasnya . Apa yg terjadi kemudian, kita bisa menebaknya. Walau jam distel untuk berhenti, waktu tetap berjalan . Walau tembok dibangun tinggi menjulang, matahari tetap bersinar cerah . Walau ayam tak ada lagi yg berkokok, fajar tetap menyingsing . Sunnatullah. Tak ada seorang Mukidi pun yg dapat menghalangi apa yg Allah telah tetapkan untuk terjadi, ia akan tetap terjadi. Janji Allah itu pasti, tak ada yg mampu melawan kehendak-Nya . Sayang seribu sayang, segala upaya akhirnya sia-sia. Padahal investasi yg dilakukan demi melanggengkan kemalasannya itu bukanlah investasi yg sedikit . Kalau saja Mukidi lebih menggunakan akal sehat ketimbang akal bulus, ga mungkin Mukidi rugi bandar kayak begitu . Ngapain juga berinvestasi untuk menghalangi terbitnya fajar? Mending Mukidi berinvestasi untuk belajar bangun pagi dan meninggalkan kemalasannya, ya ga sih? 😂 ... #keepistiqomah #dakwah #mukidi #mukidiland #negrimukidi #wkwkland








