Hari ini, tepat tiga puluh dua tahun lalu, seorang bayi perempuan lahir ke dunia.
Tiada kata yang terucap, hanya suara tangis yang menggema.
Tanda pertama bahwa hidup akan selalu diiringi oleh rasa indah, pedih, bahkan tak terdefinisi.
Entah apakah tangisan itu ungkapan selamat datang,
atau justru ungkapan getir dari jiwa yang menjawab "Ya" sebanyak tujuh puluh tujuh kali atas takdir yang kini dijalani.
Rasanya, terlalu naif untuk menyesali.
Namun, untuk bilang nggak, rasanya seperti sebuah kepalsuan.
Tiga puluh dua tahun sudah kamu menapaki jalan ini,
Mengabdi pada dunia, juga mencoba tetap setia pada Sang Pencipta.
Aku tahu ini tidak mudah.
Ada masa yang membuatmu jatuh terlalu dalam,
Masa yang membuatmu bangkit,
Masa yang membuatmu tertatih,
Dan ada masa yang tak akan pernah kembali, sekeras apa pun kamu merindukannya.
Maaf, jika di perjalanan ini, ada luka yang tidak sembuh.
Aku tidak akan memintamu melupakan,
Karena aku tahu, di setiap luka itu kamu belajar menerima.
Kamu belajar bahwa hidup bukan tentang seberapa keras kamu menahan sakit,
Tapi seberapa tulus kamu bertahan tanpa kehilangan arah.
Terima kasih sampai hari ini masih memilih untuk bertahan.
Masih mau mencoba, meski lelah.
Masih mau percaya, meski kadang goyah.
Masih mau mencintai hidup, meski hidup tak selalu berpihak.
Usia tiga puluh dua bukan tentang angka yang bertambah,
Tapi tentang iman yang semoga semakin kokoh,
Tentang janji yang semakin dikuatkan,
Dan tentang perjalanan pulang yang semoga semakin dekat dengan-Nya.
Barakallahu fii umrik, dear self.
Semoga setiap helaan napasmu disertai keberkahan,
Setiap langkahmu semakin mendekat pada-Nya,
Dan setiap kehilanganmu berubah menjadi rasa syukur yang baru.