seen from Canada
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from T1
seen from Iraq
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Russia
seen from Kyrgyzstan

seen from Russia
seen from Russia
seen from Lithuania

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Nareena - Chapter 1
Pecahan piring menghiasi lantai dapur sore ini. Pisau dengan lumuran darah tergeletak di pinggir wastafel. Suara teriakan masih menggema di rumah besar nan megah ini. Cewek dengan surai hitam legam itu menghela nafas panjang, ketika kakinya tidak sengaja menginjak serpihan piring. Menunduk, Nareena melihat kakinya berdarah. Tidak banyak, tapi mampu membuat ia meringis. Pembantu rumahnya sedang cuti satu bulan karena alasan pribadi. Dan yah, semua urusan rumah, Nana yang kerjakan. Aturannya jika masih ada ibu harusnya itu pekerjaannya, kan? Tugas anak hanya membantunya, kan? Tapi, kenapa di rumah Nana berbeda? Tolong, seseorang katakan jika Nana salah.
“BERESKAN! Sebelum nenekmu datang!” Pemilik rumah dengan nama belakang Airlangga itu melintas sekilas di depan Nana dan menyuruh anak semata wayangnya itu untuk membersihkan kekacauan yang ia perbuat. Sudah biasa, tenang. Sangking biasanya, Nana bahkan sering tidur ditemani para pembantunya. Ini dia serius anak tunggal keluarga Airlangga, bukan, sih?.
“Nana,” Wanita awet tua yang menyandang sebagai mamanya itu memanggil. Suaranya pelan, tapi masih bisa Nana dengar dengan baik. Menghampiri, Nana menarik tangan mamanya untuk duduk di sofa panjang dekat dapur.
Ia beranjak menuju penyimpanan kotak P3K dan mengobati segala macam luka yang ada di tubuh mamanya. Kadang, Nana berpikir, papanya ini manusia atau bukan? Tapi, jikalau Nana jadi papanya pun, ia akan membuat mamanya bisa lebih dari ini. Nyonya Airlangga ini sudah terlampau salah di depan Nana dan juga papanya.
“Maaf.”
“Hmm … ”
“Maafin Mama,” Venita menangis di depan Nareena. Mungkin, dulu ia akan ikut menangis ketika mamanya menangis. Tapi, sekarang—oh ralat—semenjak tiga tahun yang lalu, rasanya Nana tidak bisa mengeluarkan air matanya untuk wanita di depannya ini. Entahlah, ia sudah memaafkan. Tapi rasa sakit hatinya masih menganga lebar di dalam sana.
“Aku udah maafin Mama.”
“Ma—”
“Udah, Nana mau ada les,” Pergi, Nana naik ke atas untuk mengambil tas dan kunci mobilnya. Segala bentuk kekacauan di rumahnya akan Nareena serahkan kepada tukang bersih-bersih online yang biasa ia panggil ke rumah. Tidak peduli jika nanti papanya marah. Yang penting beres, kan?
Saat turun, Nana masih melihat mamanya menangis di tempat yang sama. Tidak lupa berpamitan, Nareena meninggalkan mamanya sendirian di rumah dengan keadaan yang super kacau. Dulu, mungkin mamanya menjadi panutan nomor satu di hidup Nareena dan papanya. Tapi sekarang, tidak!
***
“Na, ke toko buku, yuk!” Sephora, gadis berambut hitam sebahu dengan muka tirus hidung super mancung itu mencoba menghibur Nareena yang berada dalam mood tidak baik. Sephora tahu semua yang disukai oleh Nareena tanpa terkecuali, begitu juga sebaliknya. Sephora juga tahu alasan badmoodNana. Semuanya, Sephora tahu.
“Males.”
“Ada buku baru loh, Na! Lo harus baca, ya?” Sephora memohon.
“Gak mau. Gue males kemana-mana.”
“AYOK! YA, YA, YA, YA?” Sephora tidak pernah kalah akal.
“Males, Ra! Ngerti gak sih, lo?”
“Gue yang nyetir! Cepet, gak ada penolakan!”
Menghela nafas panjang, akhirnya Nana setuju ikut ke toko buku untuk membeli buku yang entah apa judulnya, yang kata Sephora itu bagus. Hobi Nareena itu menghela nafas panjang-panjang, sampai Sephora rasa beban dunia ada di pundak Nana.
Selama hampir tiga puluh menit mereka hanya berkeliling, membaca-baca buku yang sudah dibuka segelnya untuk dilihat-lihat. Dan selama itu pula Nana hanya mengikuti Sephora. “Ra, lo mau beli yang mana, sih, hah?”
“Bentar, gue gak nemu nih dari tadi!” Sephora masih meneliti semua rak buku yang ia kelilingi hampir tiga kali.
“Mending lo tanya sama mbak-mbaknya, deh,” Nana mengusul.
“Oh, iya! Kok lupa ya gue,” segera Sephora pergi ke depan dan menanyakan buku yang hendak ia beli. Dan ternyata, bukunya habis.
Lagi, Nareena hanya menghela nafas panjang-panjang. Lelah rasanya meladeni sikap Sephora. “Hehehe, maaf ya, Na. Gue gak tahu juga, kan, kalo abis.”
“Iya.”
Hanya itu dan mereka pergi dari sana.
***
“Dari mana aja kamu?” Raga Airlangga, pria yang menjabat sebagai papa Nareena itu bertanya kepada putri tunggalnya.
“Rumah Sephora.” Hanya itu dan Nana melangkahkan tungkainya menuju kamar.
“Papa belum selesai ngomong, Na,” Raga berdiri dan mengikuti Nana sampai ke anak tangga ketiga. Tepat saat itu juga Nareena berbalik badan untuk melihat bentukan papanya.
Astaga, betapa muaknya Nareena dengan orang-orang ini. “Apa?”
“Yang sopan.”
“Ada apa Tuanku Raga Airlangga?” Nana terlalu berani untuk ukuran anak.
“Yang sopan, Nareena!” Papanya menghardik. Yang tentu saja diabaikan oleh Nana.
Memutar bola matanya ke atas, Nareena berniat melangkahkan kakinya kembali ke atas, menikmati kasurnya yang kelewat empuk.
“Papamu bakalan cerai sama mamamu!”
Nana kaget, tentu saja. Ia segera berbalik badan ketika mendengar suara Babushka, alias neneknya. Entah sejak kapan neneknya disana, tapi Nana rasa papanya sendiri juga tidak sadar dengan kehadiran nenek tua itu.
“Mama!”
“Kenapa? Biar sekalian aja Nana tau, kan?”
“Tahu apa?” Nana mengernyit dalam dengan pernyataan neneknya itu.
“Kamu lanjut ke atas.”
“Tahu apa, Babushka?” Nana ngeyel.
“Mereka berdua akan bercerai. Dan, kamu akan punya mama baru.”
Panas. Mata Nana panas, hatinya panas, telinganya panas. Mama baru? Heck! Dirinya bahkan belum sepenuhnya sembuh dari rasa sakit yang ditimbulkan oleh mamanya. Dan sekarang? Mama baru? Kenapa Tuhan membuat takdir selucu ini?.
“Kamu ke atas sekarang, NAREENA!” Papanya menekan di setiap kalimatnya. Ia tidak ingin membuat Nareena mendengar hal yang tidak mengenakkan lagi dari Babushka.
Pergi, akhirnya Nareena naik ke atas dan meninggalkan Papa dan juga Babushka di bawah. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamarnya, ia melihat ke kiri kepada pintu berwarna coklat yang penuh pengasingan. Bagaimana ya keadaan mamanya? Sakitkah?
Penulis: Nonsigner
Nareena - Prolog
Tuhan memberikan segalanya kepada makhluknya. Segalanya. Tanpa terkecuali.
Kebahagiaan, keluarga, kekasih, cinta, kasih sayang.
Tidak mungkin ada yang kurang.
Tapi, tidak semuanya diberi. Catat, tidak semuanya!
Untuk Nareena dari semuanya ia hanya ingin satu, bahagia.
Penulis: Nonsigner

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
#Khawateen #Khazy #Zanana #Sarhi #Nareena yao bal pasy khabary
Tried a little portrait thingy of my necromancer OC Nareena (an apprentice to Mannimarco). I love coloring dunmer skin so I had to, but I’m not apparently settled about the color of her eyes and hair, which gave me unexpected trouble.