Wawancara Imajiner dengan Mufti Widi
Saya telah melakukan wawancara imajiner dengan Mufti Widi pemilik http://muftiwidi.tumblr.com/ , dia adalah seorang yang videographer yang sering menukangi video band atau film yang keren-keren, yang sebagai personal memiliki ciri-ciri yaitu badannya yang dipenuhi gambar (yang saya selalu meyakini setiap pagi dia harus bangun lebih awal untuk membuat gambar-gambar di tubuhnya , sampai saya diberitau oleh almarhum chester benington bahwa gambar seperti itu namanya tattoo).
Saya suka gambar di tangannya bergambar lambang West Ham dan Architect, mungkin dia penganut asas cinta musik gila bola. Ciri-cirinya yang lain adalah dia memakai kacamata, karena matanya yang entah oleh dosa apa menjadi rusak, suka buram kalau enggak pakai kacamata katanya. Ciri-cirinya yang lebih spesifik adalah dia baru memotong rambut dan telah melangsungkan pertunangan, dan dia adalah laki-laki.
Wawancara imajiner terhadapnya saya lakukan semata untuk bersenang-senang sambil itung-itung agar saya lebih mengenal dirinya, juga bersemoga ada manfaat yang bisa diambil dari sini, kalau memang tidak ada pun tidak masalah, setidaknya saya telah melakukannya.
Itu adalah sore, dimana Mufti sedang ngopi disebuah café di Bandung daerah Dago atas, saya tidak janjian dengannya perihal tempat dan waktu, saya hanya memberi tahu bahwa saya akan melakukan wawancara dengannya, lalu dia bilang “ya sudah nanti kalau memang takdir pasti ketemu”, mungkin takdirnya adalah sore itu.
Dia sedikit bangkit dari tempat duduknya, memastikan saya melihat tempat dudukunya, lalu kemudian saya menghampirnya.
Mufti : Eh tau gening saya disini? Ayo duduk prat
Saya : Iya enggak sengaja tadi abis jenguk temen, ilang pacar katanya
Mufti : Wah sekarang emang lagi marak pembegalan, hati-hati ah
Saya : Iya Muft, tapi aman lah kan saya masih indie
Mufti : Eh cepet cari pasangan prat, biar ada tujuan hidup, biar punya motivasi
Saya : Hehehe, iya nanti lah kalau ada yang lagi santai Muft
Mufti : Pesen dulu prat, enggak enak ngobrolnya kalau enggak ngopi
(saya pun memesan kopi , juga dengan pisang goreng)
Mufti : Jadi ada apa ini tetiba pengen nemunin saya?
Saya : Ini mau wawancara Muft, ya pengen denger cerita-cerita kamu aja
Mufti : Ah kan yang suka nulis cerita itu kamu, lagian saya enggak biasa diwawancara prat, saya kan biasanya yang ngewawancara, kemarin juga sama si Chico. Udah liat wawancaranya?
Saya : Iya udah dilihat, bagus wawancaranya, ya ini santai aja Muft ngobrol biasa, tapi saya rekam buat ditulis, nanti diposting.
Mufti : Oh iya deh, jadi gimana nih prat?
Saya : Ini Muft, langsung aja ya, dulu kan main band, kenapa bisa banting stir jadi ke dunia perkameraan?
Mufti : Kadang kita masih suka ngikutin ego, tapi akhirnya kita juga kudu sadar siapa dan dimana posisi kita, yang mungkin memang bukan pegang stik, kalau musik ya jadi permainan hidup aja, enggak dibikin profesi
Saya : Jadi itu yang bikin kamu enggak beresin studi kamu yang jurusan musik?
Mufti : Wah, enggak gitu juga sih, nanti mungkin kuliahnya dikelarin, tapi sekarang ya cari ilmunya di luar kampus dulu, sambil nambah pengalaman dulu prat, biar kalau balik ke kampus lagi udah banyak pengalaman. Eh Persib maen ya sekarang? (sambil dia melihat televisi)
Saya : Belum Muft, nanti malem maennya. Oh jadi masih ada kemungkinan lanjut kuliah ya. Terus agak mengarah ke dunia kamu sekarang nih, mengenai film akhir-akhir ini lagi lumayan bagus ya, tapi masih ada aja yang bikin film asal tenar, enggak mikir kualitas, menurut kamu gimana Muft?
Mufti : Saya juga enggak bisa justifikasi film yang kamu bilang asal tenar prat, bisa aja mereka juga udah total, tapi ada keterbatasan lain, tapi memang sekarang lagi banyak film yang bagus, filmnnya Yorgos udah pada nonton? Sakit itu orang.
Saya : Baru satu Muft, suka bingung kalau bahasa Yunani, tapi nanti nonton lagi deh. Jadi apa aja nih film yang bisa jadi rekomendasi?
Mufti : Ah kalau film tonton aja semua yang ada prat, kan bagus enggaknya soal persepsi. Itu budak kemana bapaknya bisi ti gebrus (dia membalik badan ke arah anak kecil dekat kolam ikan)
Saya : Oh iya sip, terus non-human right masih? Jadi alien itu beneran ada Muft?
Mufti : Masih lam, ya kita kan enggak boleh mandang sebelah setiap makhluk, ya jelas ada prat, tapi jangan sekedar berpersepsi alien itu kepala botak, mata besar, jari panjang dan warna hijau. Alien bisa transformasi jadi wujud yang enggak asing kaya manusia, supaya bisa berbaur dan enggak dicurigai, tahu sendiri lah serakahnya manusia, kalau ketauan alien jalan-jalan, kan bisa di bungkus ke laboratorium. Makanya alien itu selain extra terrestrial harus extra tattoos juga, biar enggak gampang kedeteksi.
Saya : Wah jadi kamu juga alien, makanya rajam banyak tattoo?
Mufti : Sstttt, pelan-pelan prat saya suka was-was, off the record aja.
Saya : Oh iya sorry sorry kelepasan. Kalau zombie gimana Muft?
Mufti : Ya ada juga, macem-macem sih intinya “gigit” orang biar kaya mereka, kan kamu dulu pernah nulis di koran yang judulnya partai zombie? Itu kan udah tahu ada zombie, yang kalau satu udah jadi pesakitan, cepet-cepet sebut nama temannya yang lain, akhirnya satu partai jadi pesakitan semua, kan zombie tuh enggak pernah mau sendiri, dia selalu pengen gigit orang lain biar jadi pesakitan kaya dia.
Saya : Oh iya bener, saya dulu cuman sarkasme politis aja waktu nulis artikel itu, ternyata mereka beneran zombie ya? Itu beda sama alien Muft?
Mufti : Iya yang rata-rata pakai rompi oren di komisi pemberantasan kapur itu kan zombie, kalau satu udah dibawa pasti gigit yang lain biar ikut ke bawa. Kalau sama alien ya beda prat, mungkin sama-sama asing, tapi kalau zombie enggak pake otak, kan otaknya dimakan, kalau alien justru otaknya dipake bener-bener buat nyari informasi sebanyak-banyak tentang hal-hal yang menarik buat dia, alien itu interestingnya tinggi pengen banyak tahu biasanya prat.
Saya : Wah menarik banget informasinya, alien dibumi yang keren siapa Muft?
Mufti : Heath Ledger prat, kayanya enggak perlu dijelasin ya kenapa dia keren, kerena pasti kamu juga udah tahu. Itu pisangnya jangan dianggurin aja, masa kopi mau abis pisang masih utuh. (sambil dia mengambil pisang goreng)
Saya : Duh iya lupa, keasyikan ngorbol. Pulang dari kantor emang biasanya sore gini Muft?
Mufti : Enggak tentu sih prat, namanya juga kerja kreatif, kalau lagi santai ya santai, kalau lagi sibuk ya sibuk, sibuk santai, hahahahaha
Saya : Hehehe, iya ya, duh Muft enggak kerasa ini udah mau malem, saya pamit dulu ah, makasih udah nyempetin ngobrol, seneng banget ini banyak dapet hal-hal baru.
Mufti : Eh kemana atuh buru-buru, enggak maghrib dulu disini?
Saya : Ini mau ke tukang jahit ngecilin kemeja Muft, takut keburu tutup
Mufti : Duh prat, kalau saran saya sih jangan, coba pikirin perasaan kemeja kalau dia dikecilin, mungkin dia kecewa, udah dibikin sedemikian rupa, malah dikecilin, kasian prat
Saya : Hehehe, iya enggak jadi deh (saya duduk kembali sambil meminum sisa kopi)
Mufti : Nanti kemana, balik ke rumah apa ke Jakarta atau mau nginep di kosan saya aja?
Saya : Ke Jakarta lagi Muft, masih ada kerjaan disana, sama ada acara juga di kota tua
Mufti : Ya atuh kalau ke Jakarta sekarang aja, nanti kemaleman, bawa kendaraan apa pake umum?
Saya : Umum Muft, kalo gitu saya pamit lagi ya, beneran kalo sekarang, hahaha
Mufti : Iya hati-hati prat, salam buat Maudy Ayunda
Saya : Iya nanti disalamin, oh iya Muft, kalau butuh cerita buat film, kontak saya ya
Saya pun pergi dari café sambil mengacungkan jempol pada Mufti. Terimakasih Mufti Widi telah meluangkan waktu untuk berbincang dengan saya, banyak hal yang saya pelajari dari kamu, suka tidak suka, mau tidak mau, kamu adalah guru bagi saya, terimakasih telah mengizinkan saya melakukan wawancara imajiner ini (yang semoga tidak keberatan saya mempostingnya disini).
PS: Wawancara imajiner ini dibuat karena sedang ingin dan karena ada kopi dan cemilan, dengan mengutamakan analogasa (analisa, logika dan rasa), Mufti Widi punya sebuah perbedaan fungsi otak yang membuat dia berpikir random setiap saat, saya lupa istilah psikologinya, yang pasti dia bisa tiba-tiba berbicara diluar topik yang sangat jauh dari topik dan kemudian kembali lagi ke topik awal, yang dalam simpulan saya Muft Widii adalah seorang yang dalam analisis Myers Briggs disebut ISTP (introvert, sensors, thinking, perceiving) dengan sifat-sifat yang spontaneous, unpredictable and detached (entah benar atau tidak, hanya terkaan). Dan selain analogasa juga ditambah bumbu imajinasi serta kesoktahuan saya yang menyebabkan terjadilah wawancara imajiner ini. Maka terimakasih Mufti Widi telah memberikan saya keluasan dan kebebasan dalam berimaji dan berekspresi, jangan marah ini hanya senda gurau.