Kemarin sore aku singgah di sebuah festival, aku datang bersama kawanku, dua orang warga negara beruang merah. Adalah Ediz, pria tinggi besar, yang sialannya selalu memanggilku peewee (kerdil), aku biasanya nyaman dengan tinggi 175cm ku, tapi tidak di depan dia, bagi dia aku hanya kurcaci. Dan satu lagi adalah kekasihnya Avel, cantik dengan rambut merah, dengan tinggi yang hampir sama denganku, mungkin lebih tinggi dia 2 atau tiga cm. Dan ketika kami berjalan bertiga, aku akan tampak seperti anaknya atau mungkin seperti puppy nya? Entahlah, aku tak peduli.
Dan kedatangan kami kesana adalah karena aku diminta menjadi pengisi acara disana, kemudian aku dihampiri oleh seorang perempuan, yang memintaku untuk mulai bersiap-siap, mungkin jadwalku hampir tiba, maka akupun menuju belakang pentas, sampai akhirnya aku benar-benar menuju pentas. Maka akupun melakukan yang seharusnya ku lakukan setalah namaku disebut, aku berjalan ke tengah lalu berdiri di depan orang banyak, aku lihat wajah-wajah familiar khas Indonesia juga wajah-wajah asing mungkin dari tetangga, dan dari banyak orang itu ku lihat dua orang monster yang tadi bersamaku, Ediz memandangku dengan tatapan yang seolah berbicara “give the best or we leave you now”, sedang Avel tersenyum sambil mengacungkan tiga jari, symbol yang dia pakai untuk mengatakan “everythings gonna be alright”.
Ini bukan kali pertama aku berdiri, tapi menjadi yang pertama dalam pagelaran sekeren ini, aku sapa mereka semua dalam bahasanya David Beckham, karena begitulah yang diminta, dan setelah berbasa basi aku mulai membacakan tulisanku, semacam travel writing yang ku bungkus dalam cerita pendek, inti dari tulisanku itu adalah pengalaman perjalananku ke sebuah tempat, yang ku rasa keren di Indonesia dan dalam muatannya ku isi dengan pengalamanku tentang budaya, macam alam dan wisata, makanan dan ciri khas yang ada, serta pertemuanku dengan seorang perempuan yang menarik disana yang sama-sama sedang melakukan short trip.
Setelah berdeskripsi tentang pesona tempat dan segala budaya dan cirikhas disana, aku bercerita bahwa aku jatuh hati pada perempuan itu, perempuan yang punya jutaan pembeda denganku, perbedaan agama yang sedang digandrung isu, suku dan ras yang menjadikan kami kentara, dan asal kami yang terpaut jarak yang jauh dan segala hal yang membuat kami pesimis tentang rasa yang dengan seenaknya menguasai seluruh aku. Tapi bagaimanapun juga dalam dua minggu itu kami habiskan waktu bersama, dan di hari terakhir kami bertemu di pagi hari, lalu aku pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal, karena dalam hati aku tak ingin berpisah dengannya.
“It’s easy to packing my clothes and every stuff to my backpack, but it’s really hard to leave the memory what I made in here, with the little girl in the other side, so I just go without celebrate a farewell and without goodbye also, I just said to her, “If we never meet again, remember, I love you.”
So hard to stay, too hard to leave it.”
Itulah akhir kalimat dari tulisanku, yang disambut tepuk tangan, lalu pembawa acara datang menghampiriku, memberikan apresiasinya, dan mulai mengizinkan beberapa orang untuk bertanya padaku.
Sesi akupun selesai, namun di akhir ada sudden challenges dari pembawa acara yang memintaku agar aku membacakan sebuah cerita pendek milik ku, aku tidak mempersiapkannya, maka aku katakan aku menulis beberapa tulis tangan dalam buku saku, tapi tak ada yang berbahasa Inggris, dan kabar buruknya pembawa acara mengizinkan aku membaca tulisanku yang bahasa Indonesia, yang pasti akan membuat beberapa peserta yang tidak berasal dari Indonesia menjadi kebingungan. Maka aku ambil buku usangku memilih tulisan paling pendek yang ku tulis, dengan judul Diam, aku tak tahu itu cepren, puisi atau prosa, karena itu hanya tulisan liarku.
Sebelum mulai membaca aku persiapkan ponsel untuk merekam, agar aku tahu hasil dari bacaanku, karena tanpa persiapan mungkin pembacaanku akan sangat berantakan. Dan aku mulai membacakannya, sambil duduk pada sebuah kursi bulat tanpa sandaran. Selesai itu aku bangkit dan memberikan salam dan terimakasih kepada semua yang terlibat dalam acara itu dan berlalu.
Aku keluar dari ruangan itu, Ediz dan Avel terlihat telah berdiri menungguku, lalu kami keluar dari lokasi mencari sebuah tempat jajan yang tidak terlalu ramai. Aku masih tak paham kenapa aku bisa sampai ke acara ini, karena pengisi lain yang terlibat adalah nama besar dengan segudang karya dan prestasi, sedang aku hanya tukang melamun yang sesekali menulis, tapi mungkin untuk menyeimbangkan, dari semua hal baik harus ada pengecualian kan, mungkin aku pengecualian itu disini.
Setelah memesan minuman Ediz dan Avel mulai menanyakan apa maksud tulisan yang terakhir ku bacakan, dan aku kun meceritakannya maksudnya dalam bahasa yang mereka pahami. Dan rekaman dari pembacaan kemarin akan coba aku posting disini selanjutnya, hanya rekaman dari ponsel yang ku simpan di pinggir kursi. Dan terimakasih, terimakasih untuk membiarkan aku tetap bicara dan menulis apa yang aku mau, semoga bermanfaat, kalau tidak manfaatkanlah. Terimakasih.