Desa. Ya, dalam bayanganku hidup didesa tuh penuh sama yang namanya ketinggalan jaman, hidup primitif, sepi, bernafas dengan udara sejuk, minim hiburan, gak ada listrik, air susah, dan lain lain. Tapi gak semua hal itu ada di Dusun Tawang, Desa Wonodadikulon, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Disini yang pertama aku rasakan ialah tempat yang sangat jauh dari perkotaan, tempat yang terpencil, berkontur alam perbukitan yang udaranya sangat - sangat dingin. Menurut omku yang pernah ke daerah Batu Malang, udara disini lebih dingin dari itu. Mungkin sama seperti di Gunung Bromo. Hari itu Sabtu sore 8 Juli 17', aku melihat kegiatan bertanam ataupun merawat kebun - kebun cengkeh milik masyarakat disini. Ya, memang disini mayoritas masyarakatnya bertani daun cengkeh, biasa dijual dan digunakan sebagai obat herbal. Disini juga aku melihat sekumpulan orang - orang tua yang sudah sepuh sekali, tetapi mereka masih memiliki tubuh yang kuat dan tangguh. Pendengaran dan pengelihatan mereka masih sangat tajam walau rambut hitam tak nampak. Tubuh mereka masih saja kuat, dan posturnya tegap tidak bungkuk seperti orang tua di perkotaan. Menurutku sih wajar mereka masih kuat, melihat kondisi didesa ini yang alamnya masih sangat terjaga hijau. Mereka terbiasa hidup didaerah dingin seperti ini, banyak kegiatan "outdoor" yang mereka jalani, dan mereka mengkonsumsi makanan yang masih alami tanpa campur bahan kimiawi. Inilah kunci kesehatan mereka yang saya amati. Jarang sekali orang - orang tua seperti mereka yang kita temukan di daerah perkotaan. Mayoritas mereka berumur 60-80 tahun, dan itu sebuah nikmat Allah yang harus disyukuri. Hari sudah sore, tanpa sengaja tanganku menyentuh dinding rumah yang terbuat dari batu bata dan semen. Luar biasa dingin. Akupun punya firasat ketika malam tiba mungkin lebih dingin lagi. Dan benar saja, malam pertama didesa inipun dimulai. Dingin mulai masuk menusuk tulang belakang. Pantas aja aku gak berani untuk mandi tadi sore. Airnya seperti air es. Tidak terasa waktu menunjukan jam 9, dan lingkungan sudah sangat - sangat sepi. Disini aku merasa mati gaya, karena tidak terbiasa hidup disini. Sinyal hp naik turun naik, mulai dari ada jaringan sampai 4G yang hanya numpang lewat. Bayangkan aja, betapa bahagianya aku ketika jaringan menunjukan 4G. Semua chat lancar jaya masuk ke hpku. Namun, itu semua hanya sebentar. Memang benar kalau didesa terpencil seperti ini kita harus banyak bersosialisasi dengan warga sekitar, supaya gak mati gaya seperti yang diatas tadi. Oke, jam 9 aku mulai tidur diatas kasur dan berpenutup selimut tebal. Aku yakin sales AC (Air Conditioning) kalau mereka jualan disini gak bakal laku deh, udaranya aja sudah seperti AC bersuhu 16°C. Tapi sayangnya aku gak tau persis berapa suhu disini. Sebelum tidur, aku menyempatkan untuk menggosok gigi karena aku ingat pepatah di bungkus odolku "Sikat gigi sebelum tidur". Aku mulai kumur - kumur dengan mata air pegunungan, dan rasanya segar tapi seperti kumur - kumur pake air es. Hmm coba bayangin deh. Keesokan harinya di pagi hari, udara bertambah dingin karena semalam ternyata hujan dan hujan ini masih berlangsung dipagi hari. Cuma hujan disini rintik - rintik aja, gak deres banget. Tubuh menggigil, dan cuma ditemenin sama segelas air teh panas. Tidak terasa waktu menunjukan jam 11 siang dan suasana yang aku rasakan malah seperti jam 7 pagi, entah kenapa. Hujan mulai berhenti, dan awan mulai membuka hingga sebagian cahaya matahari masuk. Aku dan omku penasaran dengan pemandangan alam disini kalau diliat dari ketinggian. Dan kamipun mempersiapkan senjata kami yaitu Drone DJI Mavic Pro©. Drone ini sangat - sangat serba aduhai, silakan gugling sendiri ya. Yaps, kamipun mulai menerbangkannya, dan subhanallah! Pemandangan yang didapat dari lensa kamera sungguh meluluhkan hati bagi siapa yang melihatnya. Drone kamipun terbang di atas 120 meter dari permukaan tanah. Terlihat kabut disegala arah, padahal hari sudah siang. Banyak momen foto dan video yang kami dapatkan. Nanti kalau ada kesempatan akan aku share disini deh. Siang seperti ini pun uap udara dingin bercampur panas masih terlihat di bibir kami ketika bernafas. Dan lucunya aku suka banget mainin uap dari mulutku, haha. Waktu sudah menunjukan jam 3 sore. Sungguh keajaiban datang. Didesa kayak gini ternyata ada orang jualan pentol dengan sepeda motornya, haha bener - bener keajaiban sekali. Langsung saja aku dan omku membeli pentol tersebut. Lucu juga ternyata ya, si penjual lupa bawa sendok centongnya yang biasa dia pake untuk mengambil pentolannya, hahah gak niat jualan kali ya. Hari udah mulai malam. Dan aku mencoba untuk mandi pake air hangat kali ini. Mengingat udah seharian gak mandi mulai dari kemarin sampai sore ini karena takut mati kedinginan, haha. Dan ternyata mandi pake air hangat dicuaca seperti ini cukup nyaman, gak membuat tubuh menggigil. Saatnya tidur. Aku mulai menarik selimut. Tapi selimut ini kok malah jadi dingin banget ya, yang harusnya fungsinya menghangatkan tubuh kita loh. Haha selimut ini bisa php juga ternyata. Lanjut keesokan paginya hari Senin 10 Juli 17' kami bersiap - siap untuk balik ke Surabaya. Tidak lupa kami sarapan nasi goreng kampung dulu sebelum memulai perjalanan. Alhamdulillah cuaca pagi ini cerah tidak seperti kemarin hujan. Jadi perjalanan kami pulang ke Surabaya pun lancar.