Menantimu di setiap ujung malam, berhasil membuatku malas terpejam. Rasanya aku hanya ingin lebih lama lagi tertunduk. Sendiri. Di tengah-tengah sunyi.
Kata matahari, umurku semakin pudar. Bayang-bayang berbilang belas, sebentar lagi bertukar kepala. Tanda kedewasaan yang--bagiku--sangat mengkhawatirkan.Â
Menjadi laki-laki yang paripurna, seutuhnya. Menjadi sulung yang membanggakan ayah-mama dan keluarga. Menjadi kakak yang meneduhkan bagi adik. Menjadi anak didik yang menyetiakan diri dengan sang guru. Menjadi sahabat yang semakin erat. Menjadi karib yang tak lagi mengandalkan kalkulasi matematis. Menjadi teman hidup, yang belajar mencintaimu sampai nanti mati.
Menjadi orang dewasa itu seperti apa?
Aku terus bergumam mencari jawaban. Aku meminta angin membisik, tapi ia mengira aku meracau. Aku memaksa bulan, tapi ia sembunyi dibalik awan. Aku mengejar senja, tapi ia sembunyi dalam semburat. Kepada siapa aku harus mencari jawab?
Untukmu, siapa pun yang sedang aku nantikan. Tampaknya akan lebih lama mata kita saling berpapas mesra. Aku masih harus mencari formula, mendewasakan diri. Kamu masih harus lebih lama menunggu, mempersiapkan diri.
Untukmu, siapa pun yang ada di bumi ini. Rasanya bekalku menemuimu belum benar-benar sedia. Masih banyak beban yang belum aku simpan, supaya ringan ketika sampai di beranda.
Untukmu, yang berhasil membuat kantung mataku semakin tebal. Getaran ini tak pernah berhenti menujumu. Aras langit akan terus aku ramaikan dengan diamku, dari sini. Akankah kau melakukan hal serupa?