Class : Erbluhen Emotion x Diabolic Esper / Diabolic Esper x Erbluhen Emotion
Genre : Fluff, Love, a bit Angst, etc.
Language : Bahasa Indonesia
WARNING : OOC, AU, kesalahan dimana-mana, monolog, etc.
Warna rambut putih keunguan. Lavender, serupa wangi dan rasa bunga lembut tersebut.
Kau tahu, Mister Ancient?
Kamu penuh teka teki. Seperti enigma yang melebar menjadi pertanyaan yang tidak pernah berakhir.
Pertemuan pertama kita, aku cukup membencimu.
Kamu berasal dari dunia entah dimana. Satu dari triliunan ‘dimensi galaksi’ seperti teori kuantum astrofisika. Kalau aku disuruh mencari asal-usulmu, aku mungkin akan keburu lelah karena probabilitas yang meluap-ruah bagai bendungan.
Serta satu fakta.
Kamu mengincar runtuhnya tim kita. Tentu saja aku takkan membiarkanmu, ‘kan?
Satu, dua kali kita pernah beradu mulut.
“Jangan campuri urusanku! Bukankah kau mengatakan bahwa kita cukup untuk mengurus masalah masing-masing?!”
Ya, aku tahu. Melebihi dari sekadar pengulangan secara paksa olehmu, Mister Ancient.
Itu karena aku ingin mengenalmu lebih dalam.
Mengingat bahwa pelintasan antar dimensi adalah satu hal yang mustahil bagi ‘manusia-manusia’ di sini; kau seperti berasal dari dunia yang berbeda jauh.
Dalam artian, kau begitu jauh.
Sekali satu lapisan enigma sudah dibuka, tapi telah tumbuh lebih dari seribu lapisan lain.
Reaksimu berbeda dengan manusia-manusia lain di sini. Sebagian dari mereka menerimaku dengan baik, tetapi kau berbeda. Kau menatap tajam menembus bentengku dibalik mata hijauku.
Serta sikapmu yang tak pernah mau menerima pertolongan siapapun. Bahkan dari sesama laki-laki.
Kenapa kau menutup diri?
Aku akan menjaga hubungan kita sebagai teman.
Karena kau begitu sulit digapai, aku memutuskan untuk mengawasimu. Tak pernah terbersit satupun kemauanku untuk lebih mengajak berbincang, tetapi hari itu...
Ya, saat kau tak sengaja menumpahkan cairan kimia yang diracik Miss Alchemist di wilayah Sander. Kau dimarahi oleh Mister Guardian dan Miss Elf, tentu saja. Namun...
“Pakai jaketku.”
Seketika juga, aku terkejut.
Ini pertama kalinya kau mau memberiku sesuatu. Walau hanya berstatus pinjaman, aku menerima pemberianmu ini.
Dan saat aku memakainya, saraf di dalam kulitku seketika merasakan sesuatu yang dingin. Di jaketmu, Mister Ancient.
Lalu... Oh?
Kau memakai jaketku... Puh!
Kau terlihat cocok sekali. Satu suit berwarna gelap dipadu dengan jaket putih panjangku. Pas sekali. Warnanya menyolok sekali. Mungkin aku akan membuatkanmu satu, diam-diam.
Sayang beribu sayang, komunikasi kita berhenti di sini. Aku hanya bisa menggenggam jaketmu, berharap bisa memberi sedikit kehangatan pada es magenta-mu.
Aku berdoa, agar kau bisa mempercayai satu dari kami. Satu saja cukup untukmu.
Tengah malam, ketika aku mendapat shift patroli di rumah yang kita semua sewa.
Aku masih bisa mengingatnya.
Momen saat kau tertidur dengan setengah sadar. Pecahan dimensi masih terbuka serta tubuh atasmu sudah menggantung di kasur saat aku mengintip kamarmu.
Sudah bisa kutebak; kau bukan orang yang terbiasa tidur di kasur. Boro-boro, pulang saja bahkan tidak diketahui hampir semua anggota Elgang. Kecuali aku, karena aku mengenal keberadaanmu lewat materi-materi yang melanglang di sekelilingku.
Geez.
Aku diam-diam memasuki kamarmu; oh Tuhan, ampunilah aku!
Lantas kedua tanganku mengeluarkan tubuhmu dari awang-awang dimensi yang terbuka tersebut---
“Mama... Ikut aku... Mama...”
Mama.
Sebuah kata yang tak terduga.
Sepanjang ingatanku, Mama adalah salah satu kosa kata yang sangat jarang kudengar dari semua anggota Elgang. Satu-dua kali aku mendengar kata ‘kakak’ dan ‘adik’ dari beberapa orang, namun ini adalah kali pertama kata itu terucap darimu.
Kau, tertidur dalam mimpi buruk, memanggil kata itu.
Ibarat mencoba menggapai ilusi.
Oh, aku rasa aku mengerti alasanmu melipatgandakan lapisan-lapisan enigma.
Karena kau tidak ingin tragedi itu terjadi. Kau ingin tragedi itu tidak pernah ada.
[ . . . ]
Aku minta maaf.
Aku bukan Tuhan. Aku tidak bisa mengubah masa lalumu.
Tapi aku bisa menawarkan satu hal, ekslusif untukmu.
“I’ll be your one and only secret room. I’ll be the one to accompany you, from far away.”
“I’ll be your rainflower.
---which represents a mystery.”
“We’ll be together. We’ll be sharing our secrets altogether.”
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jika kau ingin mendapatkan cinta, gunakan segala cara untuk menggapai hati si cintamu.
Ain menguras air yang tengah membasahi rambut abu-abu berkilauannya, saat teman satu kamar sedang bergerak lambat. Sesekali sang kawan terlihat kebingungan--dia bahkan mondar-mandir tidak karuan di koridor ruang mandi besar tempat mereka berada.
... Mr. Ancient?
Lantas si kawan dipanggil pelan oleh Ain dari wastafel di salah satu pojok ruang tersebut, “Yo, ada apa Mr. Ancient?”
“... Oh.” Mr. Ancient--teman satu kamar Ain--merespon lambat sapaannya, “Tadi aku ditelepon sama kakakku Masi, dia ketinggalan satu boks di atap apartemen kecil ini.”
“Wah, itu kan jarang banget dibersihkan!” komentar Ain tersedak air kumur. Tak lama, dia kembali menyambung topik barusan, “... Tunggu, kalau nggak salah, tempo lalu Ms. Knight meminjam tangga besi yang disimpan di gudang untuk keperluan kerjaan dia. Berarti... Kita harus memakai tangga lapuk itu...”
“Masalahnya justru seperti yang kau katakan...” Mr. Ancient mendesah sebal, “Aku butuh seseorang untuk memperkuat tangga menyebalkan itu...”
Untuk beberapa saat, otak jenius Ain sempat loading, mempertanyakan suatu hal, “... Tunggu, bukannya kamu punya mesin yang praktis? Dya---nama itu...”
“Diambil kak Masi!” Belum-belum si malaikat menyelesaikan kalimat, keburu dipotong oleh yang bersangkutan.
“Hah?! Bukannya kau tergolong pelit membagi-bagi yang punyamu kan?!”
“Dia mencuri semuanya!” Sudah ditampar balik oleh ucapan sakit si anoreksia satu ini, “Kemarin Masi berdalih mau memperbaiki dynamo-ku, tahu-tahu udah raib gitu aja!”
Wah, wah, Masi ternyata licik ya... Mau tidak mau Ain memberi penghargaan khusus bagi hubungan ‘unik’ mereka.
Ain lantas menghampiri Mr. Ancient sembari tersenyum lugu, “Mau aku bantu? Aku bawakan tangga ya, kamu ke atap saja duluan~”
“Tunggu--.” Sayang beribu sayang, sang sobat sudah keluar ruang mandi duluan, berancang-ancang mengambil tangga yang berada di luar apartemen mini milik mereka.
Mr. Ancient semula merasa ragu, namun lalu dia lupakan sejenak.
Apa yang gue lupakan ya? Hmmm...
“Mr. Ancient~”
“... Aku rasa aku sudah berhalusinasi deh.”
“Enggak, ding.”
Oke, sekarang Mr. Ancient memerlukan satu saja hari tanpa pernah mendengar nama unik tersebut.
Ain memosisikan ujung atas tangga ke pintu masuk atap apartemen mini. Sayang, pintu itu sendiri masih terkunci, sedangkan Mr. Ancient masih mengaduk-aduk kantung berisi kunci-kunci apartemen tersebut.
Menunggui sang kawan mencari kunci, Ain tersenyum ibarat anak kecil, “Ngomong-ngomong, gimana rasanya serumah bareng? Enggak ada orang lain yang nyewa kamar selain kita di sini, rasanya sepi tuh!”
“Berisik. Ini tempat bagus untuk bersembunyi. Bereksperimen dengan leluasa... Hingga kau mengacaukan rencanaku menyendiri di sini!” umoat Mr. Ancient mendecih sebal tanpa melihat satu kalipun wajah sang malaikat.
“Yakiiin~?” Ain menyeringai licik. Dia lalu mengunci posisi Mr. Ancient hingga menempel pada tembok di salah satu sisi koridor, “Kamu lucu deh, Mr. Ancient. Sini kulihat seberapa senang kau---”
“TIDAK---”
DUAK! PRANG! TUK! (?)
Banyak kunci yang tiba-tiba meluap jatuh dari kantung usang barusan. Hilang konsentrasi, Mr. Ancient keburu panik mencari kunci yang sempat dipegang tadi.
Malang tak bisa ditolak, nasib tidak bisa dibala.
“Mr. Ancient--.”
Satu peringatan untuk Ain: Bungkam tindakan heboh bin rusuh malaikat satu ini.
Tangga malang yang sudah ditaruh, terdorong oleh kaki Ain yang berjongkok membantu Mr. Ancient mengumpulkan kembali kunci-kunci. Alhasil, kaki Ain terjebak bersamaan dengan hampir seluruh tubuh bawah Mr. Ancient.
“OI! JAGA YANG BENAR DONG---.”
“...”
Sumpah demi kucing yang baru ditemui diam-diam, Mr. Ancient merasa awkward dengan situasi seperti yang mereka alami sekarang!
Ingat posisi mereka;
Mr. Ancient terduduk hingga mentok ke tembok, dengan tubuh atas Ain menempel sangat dekat, hingga dia bisa merasakan bagian genitalnya disentuh secara tidak sengaja akibat kejadian nahas itu.
Oke, kontrol dirimu, wahai diriku! Jangan ngamuk! I-Ini murni kejadian tidak disengaja, kan?! Dia enggak niat mempermalukan harga diriku sebagai peneliti, kan?!
“... Oh.” Si malaikat untuk beberapa waktu, pangling melihat wajah Mr. Ancient dari jarak sedekat ini.
Bisa dibayangkan suara ‘transparan’ yang kompak meneriakkan kondisi mendebarkan itu! Oh, lihatlah seberapa luar biasa kejadian ini; wajah Ain dan Mr. Ancient saling bertatapan!
“... Minggir.” Berbisik dengan nada pelan, Mr. Ancient mengusir si malaikat.
“Wajahmu sering kayak kucing abis enggak bobo berhari-hari.” ujar Ain blak-blakan.
Oke, tahan dirimu! Jangan membuat apartemen ini hancur, atau kau akan dipenggal oleh si penyewa!
“... Tapi kamu ganteng lho.” Ain tersenyum polos.
Woi, lihat kemana kau, wahai tuan Cupid!
Lihat, Mr. Ancient sudah terbang kemana-mana tuh! Siapapun, tolong sadarkan Tuan Anoreksia sebelum dia menyadari ucapan barusan dan bersiap meledakkan nuklir dimari!
Tak habis malu, Ain lalu merangkul kepalanya, kemudian... Menarik dalam pelukan hangat. Tidak dipaksakan, namun memiliki kekuatan untuk menyokong dari segala sisi.
“Kena kau!”... tiba-tiba ucapan jahil keluar dari mulut Ain, “Yaaay, akhirnya misiku terselesaikan juga!” Tiba-tiba berakhir abstrak, dengan Ain melempar kedua tangannya melafalkan kemenangan ala Jepang--’banzai’.
...Tunggu, apa?
“Sulit sekali membuat kamu mau membuka hatimu kepadaku, Mr. Ancient.” Ain lalu tertawa tidak pede, “Sebulan sejak kita serumah di sini, kau tak pernah berbicara tentang apapun selain apa yang kau butuhkan.”
... Apa yang dia lakukan kepadaku?!
“Aku sudah minta saran dari teman-teman perempuan kita, semuanya tidak mempan. Kau tetap aja waspada kepadaku.” Ain melanjutkan penjelasannya.
... Oke, malaikat seperti dia sepertinya perlu dibawa ke Arme, deh---.
“Aku ingin mengatakan satu hal, Mr. Ancient.” ucap Ain mulai bernada serius.
“... Apa?”
“Tatap mataku, dulu.”
“Tidak---.”
Inilah penyebab Ain selalu merasa gemas terhadap laki-laki waspada begini. Dia lalu memaksa Mr. Ancient menghadap wajahnya, meski berakhir tragis--kedua tangannya dicakar-cakar sadis ibarat goresan kucing garong.
Ain lalu tersenyum tulus, “Kau boleh bergantung kepadaku. Apapun yang kau rasa risih, berikan semuanya kepadaku. Ungkapkan hanya kepadaku.”
“Tapi--.”
“Ya, Mamamu sudah tidak ada.”
.... SIALAN KAU---.
“Tapi aku ingin menjadi seseorang yang spesial bagimu.” Ain berkeras, “Aku ingin menjadi figur ayah, ibu, kakak, adik, dan juga...”
Tidak, tidak, tidak--.
“Belahan hatimu.”
...?
Sedikit demi sedikit, iris magenta mulai fokus kepada sepasang warna hijau hangat pada Ain. Meminta kepastian, sekadar menghilangkan keraguan dalam penafsiran barusan.
Ain mengangguk pelan, “Ya. Wajahmu seolah bertanya-tanya tentang keseriusanku. Aku ulangi, ya. Aku serius ingin menjadi orang yang sangat spesial untukmu.”
“... Kau--.”
Menghela napas secara gamblang, Ain lalu terduduk ke belakang. Kemudian menggaruk rambut yang belum lama diguyur air tadi, “... Gila, ini benar-benar nekat. Aku sumpah nggak menyangka akan menembakmu tadi... Lupakan--.”
Perasaan gundah gulana diantara mereka, berbalas sebuah rasa manis.
Salah satu tangan Mr. Ancient menahan Ain yang hendak pergi.
Dan lantas ditarik masuk dalam pelukan lelaki dingin itu.
“Kau yakin?” Mr. Ancient bertanya dingin, “Kepadaku yang pernah menjadi korban perbudakan?”
“... Ya.”
“Aku yang terobsesi pada Mama hingga ingin melindunginya seperti sepasang suami istri; suatu hubungan yang terlarang. Apa kau yakin?”
“Ya.”
“...”
“Aku menerima dirimu apa adanya.” Ain menyela percaya diri, “Aku sudah dengar sekilas cerita dirimu dari Kak Masi, tetapi aku ingin memastikan kepribadianmu. Dan aku jatuh hati.” Si malaikat lantas tertawa lugu.
Tak dibayangkan betapa Mr. Ancient terharu mendengarnya.
Hanya satu orang yang benar-benar menerima keseluruhan masa hidup Mr. Ancient tanpa cela.
Ain lalu berceloteh, “Aku jadi ingin menumbuhkan rasa sayang di dalam dirimu. Nggak boleh---.”
Sejurus Mr. Ancient memeluk erat Ain.
Menangis karena selama tiga ratus tahun ditambah sembilan belas tahun hidup, tidak ada yang benar-benar menyayangi dia terlepas dari bayang-bayang kegilaan dalam situasi sulit.
Kakak-adiknya pun menyayanginya, namun ia merasa kurang.
Dan itu adalah bagian dari sang malaikat.
“... Terima kasih.”
“Uh, Mr. Ancient?”
“N-Nggak apa-apa!” Mr. Ancient lalu mendorong tubuh Ain menjauh, “Aku capek mendengarmu memanggilku Mr. Ancient terus! Sudah, urus sana itu kunci dan pintu atapnya!”
Ain terkikik licik, “Boleh saja, tapi enggak tanggung sama boksnya lho, Mr. Anc---.”
Sontak saja satu kata terakhir tadi berbuntut tatapan mengerikan si lelaki anoreksia. Sekali kena bisa habis sudah nasibnya.
Mungkin dia perlu sedikit rileks, yaaa~
“Oke deh, Add! Serahkan saja boksnya kepadaku~!”
Tidak selama-lamanya mereka saling cakar-mencakar. Ada satu saat dimana mereka bisa duduk bersama-sama, menikmati satu hari bersama dalam sunyi, dan berbalut pelukan serta cerita berwarna-warni tentang satu saja bagian hidup mereka.
Itulah ‘cinta’ mereka. ‘Cinta’ yang berbeda dengan saudara-saudara mereka yang lain.
‘Cinta’ yang berlandaskan rasa sayang dan pengertian akan penderitaan orang lain.
Pair : Add/Ain (or Ain/Add you’re free to intercept whether to become a seme lol)
Class : Erbluhen Emotion * Mastermind
Tet tet.
Kanan, kiri, kanan, kanan, atas, bawah, kiri.
Satu kali serang, lalu manuver menghindar saat naga melawan, kemudian melompat ke atas saat mengambil arah ke kanan.
Bar HP si naga juga sudah menurun, namun sialnya senjata sudah mengalami ketumpulan sehingga butuh ditukar dengan senjata lain. Belum-belum HP si player yang merosot karena beberapa kali kena serang si napas api barusan.
"... Go."
Sudah hilang akal.
Berbekal senjata seadanya, sang player mulai mengambil taktik lain. Kursor mulai mengarah jauh ke dekat perut naga, lalu menghabisi di situ. Diiringi lagu pertempuran, membuat fokus si player masih terpusat pada penyelesaian akhir quest tersebut.
Tada-da-da-da-tadah!
BAAM!
Bar HP si naga sudah habis.
Si monster raksasa langsung ambruk begitu selesai ditaklukkan.
"... Fyuh."
"Kau jago benar menyelesaikan quest level 150 itu." celetuk seseorang--tiba-tiba saja menginterupsi rasa lega pada si player.
Untuk satu detik, bulu kuduk si player seketika menyergap seluruh tubuhnya, serasa disetrum satu kali dalam keadaan sadar. Sembari berlindung dalam tudung kucing kebesaran, si player melirik gerangan pengganggu konsentrasinya barusan.
"... Ain?"
Walau tidak jelas karena sebagian besar wajah si pengganggu tadi tertutupi oleh tudung kucing, namun dari suara dan lekuk wajah tidak asing ini...
Suara senandung pelan menambah kepastian sosok maskulin tersebut.
"Hai!"
"... Sekolahmu?"
Ain memberi sinyal dua jari di tangan kiri, "Selesai! Mumpung masih belum terlalu sore, ajari aku dong, main game. Itu level 150 kan? Gila nggak berat tuh?"
Sang player menggeleng kepala--bonus tatapan percaya diri, "Aku sudah lebih dari 5 kali mengambil quest level segitu. Masih mudah kok... Aku belajar bagaimana mengatur manuver menghindar dan mengincar titik lemah naga."
"Begitu ya. Sekalian deh, mau coba kelarin level 130!" Ain tiba-tiba duduk berdempetan persis di samping sang player, memberi sinyal untuk membantu, "Kamu bisa 'kan, Mr. Ancient?"
"Diam. Panggil itu sekali lagi, kau kutinggal."
"JANGAN---"
"Jadi?"
"... Iya deh, Add."
Tudung kucing diturunkan, menimbulkan rasa kaget bagi siapa saja yang menguping jenis kelamin Add--si teman Ain. Rambut panjang diikat ponytail, siapa tak sangka? Sudah begitu warnanya seputih salju yang dibumbui oleh warna ungu, warna yang aneh sekali.
Add lantas mendecih sebal sembari beringsut, "Sinikan game-nya. Kulihat apa yang aku bisa."
"Yaaay~"
Layar Nintendo 3ds milik Ain mulai menyala penuh, menampilkan game-game yang sudah diinstal. Ain lantas memilih salah satu dari mereka, kemudian mengatur karakter di game tersebut.
"Coba kulihat..." Add ikut menengok, "Yang itu butuh banget. Durability-nya tinggi. Coba scroll ke bawah. Satu, dua... Eh, bukan. Sebelahnya. Iya."
"Be-Begitu ya? Coba ya..."
"Jangan lupa manuver kabur saat naga sudah mau menyerang."
"Sip, lihat aja aku pasti bisa!"
"Pastinya enggak bisa secepat aku~"
"Gah! Iya deh, Tuan Pecinta Game!"
Mereka lalu asyik tenggelam dalam game, melupakan masalah yang tengah menggerubungi mereka berdua.
Sore itu, juga takkan bisa menghapus nasib mereka kelak; dimana salah satu dari mereka akan hilang selama-lamanya. Menjadi orang yang takkan dikenal oleh salah satu dari mereka, lantas bermusuhan satu sama lain.
Meski mereka---tidak, salah satu dari mereka---sudah meramalkan kemungkinan tersebut.
Namun tidak ada salahnya menikmati hari-hari yang sempat merekah indah diantara mereka, 'kan?
.
.
.
[ END ]