Naima Mora for Metropop, by Eric Martin
seen from United States
seen from Botswana
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from Netherlands
seen from China
seen from United States
seen from Canada
seen from China
Naima Mora for Metropop, by Eric Martin

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Falling Stars - Chapter 4
Daka
“I still can’t believe you did that, Ka! Sumpah!”
Untuk yang ke sekian kalinya, gue mendengar kalimat itu dari Mikaela. Gue terlalu malas menghitung berapa kali kalimat itu Mikaela lemparkan pada gue sejak pertemuan keluarga kemarin.
Lagi pula, itu nggak akan mengubah apa-apa sekarang. Kenyataan tetaplah kenyataan. Gue tetap sudah mengambil keputusan untuk membawa Yasa pulang ke kediaman gue dan menjadi orang yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidupnya. Gue yang memilih itu.
Kalau kata peribahasa, nasi sudah menjadi bubur.
Dan omong-omong soal bubur, gue rasa itu opsi yang bagus untuk sarapan. Sayangnya, membuat bubur masuk ke dalam salah satu kemampuan yang tidak bisa gue kuasai. Actually, kitchen duties are on my so-called-uncapable list. Tapi fakta bahwa sebentar lagi jam sarapan nggak akan menghiraukan bisa atau nggaknya gue masak. Sarapan harus tetap ada. Setidaknya, sarapan yang layak untuk Yasa.
Eksistensi Yasa yang masih tertidur di tempat tidur gue, bergulung dengan selimut, tetap nggak akan hilang. Awalnya gue mau membangunkan Yasa, tapi karena dia kelihatan begitu nyenyak, mungkin capek juga karena perjalanan pulang kemarin macet banget dan kami baru tiba tengah malam, gue memutuskan untuk membiarkan dia tetap terlelap, dan gue mengambil waktu yang ada untuk menelepon bertanya pada Mikaela apa yang sebaiknya jadi sarapan untuk anak
Biasanya gue sarapan di kantor, itu pun dengan roti, bagelan, dan kopi. Nggak mungkin kan gue memberikan hal yang sama pada bocah 5 tahun?
Gue nggak akan bilang gue menyesali keputusan gue, tapi gue harus mengakui bahwa gue bodoh karena menganggap apa yang gue lakukan adalah hal baik dan gue bisa menghidupi Yasa juga diri gue sendiri.
Ngurus diri sendiri aja nggak becus padahal.
“Ya udah sih, El, nggak mungkin juga gue biarin dia dikasih ke panti gitu aja, kan?” balas gue, sesaat gue mengulum bibir sebelum menambahkan, “Yasa adek gue.”
“Yah, iya sih.” Bisa gue dengar Mikaela bergumam. “But still, it was unexpected. Lo yang hidup sendiri, tiba-tiba mau ngurus balita. Padahal gue ingat banget dulu lo bilang anak kecil itu sering bikin rep—”
“Yasa nggak akan kayak gitu,” potong gue cepat. Entah kenapa, jawaban itu spontan keluar dari mulut gue. “Gue yakin dia nggak akan nyusahin.”
“Why are you so sure?”
“Dia… kalem.” Gue menjawab apa yang terlintas dalam benak. Yah, gue nggak merasa itu bohong sih. Karena Yasa memang kalem. Dari rumah sakit sampai ke apartemen gue, dia nggak banyak bicara. Ketika gue menyuruh dia untuk turun, untuk cuci muka, dan tidur, dia mengangguk dan langsung melaksanakan itu semua.
Pintar kan adek gue?
Rasanya masih agak canggung, tapi gue rasa ini cara yang baik untuk membiasakan diri kalau gue sekarang seorang kakak.
Menghela napas, gue bersandar pada daun pintu kamar, masih memperhatikan Yasa sambil memindahkan ponsel ke telinga sebelah kanan. “Gue pengin nanya nih. Buat sarapan. Yasa enaknya dikasih apa, ya?”
“Lho, belum sarapan?” tanya Mikaela.
“Belum, Yasa masih tidur,” jawab gue. “Lagi nyenyak banget. Nggak enak gue banguninnya.”
“Terus lo nggak kerja?”
Pertanyaan Mikaela itu memancing gue untuk menghela napas sekali lagi. Mengingat bagaimana tadi subuh gue mencoba meyakinkan bos gue dan minta untuk menggunakan cuti satu minggu yang tersisa untuk tahun ini—yang hanya dia berikan dua hari sebagai penawaran terbaik—gue jadi mau meringis. Untungnya bos gue cukup mengerti ketika gue bilang ada urusan keluarga, dan gue sedang mengurus keluarga yang sebelumnya tinggal bareng nyokap.
“Dua hari. Take it or leave it. Kamu lagi ada proyek gede, Kamandaka, dan itu harus kamu urus. Kalau kamu mau urus keluarga kamu, sudah seharusnya kamu urus juga apa yang bisa menghidupi keluarga kamu.”
Gue sama sekali nggak bisa mengelak. Bos gue benar-benar nggak bisa membuat gue berkutik. Karena itulah, gue harus menerima apa yang ada dan menggunakan waktu yang ada sebaik mungkin.
Seharusnya gue menimang dulu bahwa banyak hal yang harus gue urus dari Yasa. Dari semua hal, gue bahkan nggak tahu sarapan yang cocok untuk dia. Duh, payah banget gue.
“Gue dapat cuti dua hari lagi, El,” kata gue akhirnya. “Mau coba ngawasin Yasa dulu. Barangkali ada yang dia butuhin atau apa. Mau lihat juga dia bisa ditinggal atau nggak.”
“Kalau nggak bisa? Lo mau bawa ke kantor lo gitu?”
Duh, El, bisa nggak sih lo ngasih pertanyaan yang mudah gue jawab? Gue malah jadi makin banyak beban pikiran.
“Lihat nanti deh,” balas gue, menolak untuk memperpanjang topik. “Semoga aja nggak rewel. Yah, I bet he won’t.”
“Gue harap juga gitu,” timpal Mikaela. “Oh, ya. Tadi lo nanya sarapan buat Yasa, ya?”
Gue bergumam mengiyakan. “Got any good idea? Kan nggak mungkin dia gue kasih kopi.”
“Lo ada sayur atau apa gitu di kulkas—”
“Lo lagi nyindir atau apa?” sambar gue, dan tak lama tawa Mikaela terdengar.
“Oh, God. My bad. Gue lupa lo kan terlalu jago masak,” sindirnya. Gue hanya bisa mendengus. “Ya udah, coba order online aja pake taksol.”
“Ada tempat makan yang udah buka jam segini?”
“Ada sih, dekat kantor gue. Ah, atau gini deh. Gue yang antar ke sana. Tapi gue udah janjian buat ngantor bareng teman gue. Jadi gue ke sana bareng dia nggak papa, ya?”
Kalau diingat-ingat, kantor Mikaela juga nggak jauh banget dari apartemen gue sih. Masih sekitaran Antapani.
“Bakal lama?” tanya gue lagi.
“Nggak kok. Ini gue lagi nunggu dia jemput,” balas Mikaela. “Jadi gimana? Mau dari gue aja? Lumayanlah, pagi-pagi ada bubur sama roti baru dipanggang gitu. Mau sekalian gue bawain susu buat Yasa?”
Ah, bantuan memang datang pada yang membutuhkan, ya?
“Oke kalau gitu. Tolong antarin ya,” kata gue. “Nanti gue bayar di sini. Atau mau gue transfer aja?”
“Nah, kalau makanan lo nanti, lo wajib bajar dua kali lipat,” tutur Mikaela cuek. “Tapi yang Yasa nggak usah. Gitu-gitu dia juga sepupu gue, kan?”
Jawaban yang cukup mengejutkan, tapi gue cukup senang mendengarnya.
“Serah lo aja deh.” Gue menjawab sambil setengah tertawa. “Makasih, El. Ditunggu ya.”
“Sip, sip.” Mikaela sedikit tertawa. “Nah, teman gue udah datang ternyata. Udah, ya? Nanti gue antarin ke sana.”
Gue hanya bergumam, membiarkan Mikaela lebih dulu mematikan panggilan telepon. Begitu terdengar bunyi ‘tut’ dari ponsel, kembali gue sakukan ponsel gue, mengalihkan perhatian gue pada Yasa. Kali ini tubuh kecilnya sedikit menggeliat, tangan kanan mengucek mata. Gue pikir dia akan bangun, tapi yang ada dia hanya sekadar berganti posisi, membuat selimut bergerak-gerak sesaat.
Biasanya, gue tidur di kamar ini sendirian. Tapi kali ini berbeda. Ada orang lain yang menempati tempat tidur gue, dan gue yang berpindah tempat ke sofa.
Gue bangun sendirian, menjalankan keseharian gue di sini sendirian, tapi sekarang ada orang lain yang menghuni tempat ini.
Satu orang, dan rasanya keseharian dan kebiasaan gue berubah. Dan gue rasa bukan hanya tempat di mana gue tidur saja yang akan berubah.
Kira-kira, perubahan apa lagi yang bakal kamu bawa di hidup kakakmu ini, Yasa?
*
Lisha
Dari dulu, aku mencoba mengira-ngira bagaimana rasanya tinggal di apartemen. Entah kenapa, menyebutkannya saja terasa elit sekali. Aku yang terbiasa tinggal di rumah dan kos-kosan mungkin nggak akan mengerti bagaimana rasanya.
Yah, punya tempat tinggal juga sebenarnya sudah menjadi sesuatu yang harus disyukuri sih.
Hanya tiap kali aku memijakkan kaki ke gedung apartemen bertingkat—seperti saat ini—rasanya seperti ada mimpi lama yang ingin diwujudkan. Lagi pula, wajar kan jika mau hidup di tempat yang nyaman dan kelihatan lebih… gimana bilangnya ya? Lebih rapi dan berkelas, mungkin?
Tapi yang kayak aku begini nggak akan cocok sih.
Dari semua apartemen yang pernah aku lihat dan datangi, bisa dibilang ini apartemen yang cukup mewah. Aku mungkin nggak akan punya alasan datang ke sini kalau bukan karena Ela, teman sekantorku, yang minta diantar ke sini untuk mengantar sarapan.
Dan sekalipun aku tahu apartemen ini baru pertama kali kudatangi, ada sedikit perasaan yang mendorong kaki untuk berjalan mundur, untuk nggak berkunjung ke apartemen mana pun. Untuk nggak mengulangi kesalahan yang berawal dari satu langkah kecil ke apartemen orang lain.
But, no. Aku nggak boleh terus parnoan begini. Ini tempat yang berbeda. Dan lagi, kali ini ada Ela.
“Sebelum lo nanya, gue mau bilang kalau gue bukan ngantarin buat cowok gue. Yang tinggal sepupu gue.” Itu yang Ela bilang. “Kalau dia bukan sepupu gue, nggak akan mau gue begini. Sori jadi ikut ngerepotin lo, Sha.”
Yah, tapi, kalau pun pacarnya, aku nggak akan kaget sih. Secara tipikal cewek anggun kayak Ela memang lebih cocok sama yang berkelas dan elit.
Kalau yang kayak aku… ugh. I don’t really want to imagine that. Karena harapan hanya jadi pembuka gerbang untuk kekecewaan.
Tadinya aku berniat untuk tetap di parkiran, tapi Ela menyuruhku untuk ikut ke atas. Katanya, setidaknya dia bisa minta uang jalan ke sepupunya, berikut uang bensin untukku. Itu sebenarnya jadi alasan lebih bagiku untuk nggak ikut, tapi menolak permintaan Ela lebih mustahil.
Pada akhirnya, aku hanya bisa ikut, berjalan mengikuti Ela, berhenti di lantai 10, di apartemen paling ujung kanan. Ela menekan bel pintu beberapa kali, hingga tak lama ada yang membukakan. Gagang pintu yang bulat itu terputar, dan tak lama ada sosok yang muncul dari balik pintu, dengan tangan yang yang mengacak-acak rambut.
Cowok itu menggeram sejenak, kelihatan seperti orang yang masih mengantuk—probably he does—dan menatap ke depan, ke arah Mikaela dan aku. Awalnya dia kelihatan mau bicara, tapi matanya langsung membulat begitu tatapan kami bertabrakan.
“Ya Gusti, El, kalau mau ngajak orang bilang dong!”
Aku jadi makin nggak enak. Sudah kuduga, seharusnya aku tetap di bawah.
Buru-buru aku menundukkan kepala. “Eh, maaf. Kalau gitu saya ke bawah—”
“E-eh, anu. Bukan itu maksud saya,” cowok itu langsung menggeleng cepat, entah mataku yang seliwer atau memang dia kelihatan agak salah tingkah, “saya jadi nggak enak Mikaela bawa temannya tapi saya berantakan. Yang dibawa cewek lagi. Saya jadi nggak enak.”
Aku sempat nggak bisa berkedip. Beda sekali dari yang aku perkirakan. Terlebih, cowok di depan ini kelihatan malu-malu.
Aneh? Hm, aku rasa begitu. Tapi di sisi lain, aku merasa cowok ini justru sedikit lucu. Ini efek cowok baru bangun tidur atau memang dia yang biasa malu-malu? Biasanya cowok yang aku kenal selalu, gimana bilangnya ya, pede dengan apapun?
Aku hampir saja tertawa kalau Ela nggak langsung mendesis, tiba-tiba tangannya mengayun, memberi pukulan pada sepupunya itu. “Sok malu-malu dih, udah om-om 30 tahun juga!”
Eh, sudah 30 tahun?
“Gandeng ah, El.” Logat Sunda yang cukup kentara terdengar selagi cowok itu berbalik. “Ya udah yuk masuk. Minum dulu, atau mau ke toilet barangkali.”
Itu tawaran yang baik, tapi sayangnya, aku masih diam di luar, kemudian menggeleng.
“Eh, kenapa?” tanya cowok itu.
Sebisa mungkin aku tersenyum sambil menggeleng lagi, kali ini lebih sopan. “Saya di sini aja.”
“Nggak usah canggung. Nggak papa kok,” kali ini Ela yang menambahkan. “Yah apartemen dia pasti berantakan sih, tapi kan lumayan daripada berdiri di luar.”
Masalahnya, bukan hanya canggung, El.
“Nggak papa, aku di sini aja. nggak haus, kok. Nggak mau ke toilet juga,” balasku sekali lagi. “Sekalian mau coba nelepon paman dulu.”
“Ya udah. Bentar deh ya, Sha, gue minum dulu. Ntar gue langsung keluar lagi.” Ela akhirnya mengangguk, mendorong cowok itu untuk masuk.
Apartemen ini memang kelihatan nyaman, tapi sisi lain dalam diriku tahu betul kalau yang nyaman sekalipun bisa mendatangkan bahaya yang besar. []
Blinding sunshine, huge rain drops. Greenwich. . . . #greenwich #london #rain #sunshine #cuttysark #igerslondon #shutup_london #toplondonphoto #loves_london #londonlife #londonguru #london4all #thelondonlifeinc #london_enthusiast #mydarlinglondon #lovegreatbritain #londoncollective #incredible_shot #streetphotography #londonpop #metropop #londonvisionaries #traverselondon #londonmoment (at Greenwhich Cutty Sark)
Resensi Pilihan: Black - Ruth Priscilia Angelina
Ditulis oleh Lala di http://readingvibes.blogspot.co.id/2017/05/book-review-black-ruth-priscilia.html?m=1 untuk program #ResensiPilihan di Twitter @Gramedia.
"Orang senang menyembunyikan kenyataan untuk keindahan sementara tanpa sadar itu hanya persoalan waktu. Pada akhirnya realita akan menghantam dan rasanya akan ribuan lebih sakit karena kau sudah mencicipi kebahagiaan sebelumnya." Karya pertama Ruth Priscilia yang aku baca ini mengisahkan tentang Inka dan kehidupan muramnya. Gadis yang berusaha 'lari' dari kenyataan yang menghantuinya, gadis yang nekat pergi ke Oxford untuk bersekolah disana demi meninggalkan mimpi buruk yaitu pengkhianatan ibunya dan rasa sakit ayahnya. Gadis yang selalu mengenakan pakaian serba hitam.
Sialnya, dia malah menghadapi kenyataan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bertemu kembali dengan Chesta Sentanu, seseorang yang sangat berusaha dihindarinya. Chesta, tetangganya yang botak di masa lalu, yang sewaktu kecil pernah Inka paksa untuk nikahi. Chesta yang kerap memandang Inka dengan tatapan kesal. Kini telah menjelma menjadi sosok tampan dengan tubuh menjulang.
Bergabung di klub yang sama: Harry Potter Society. Hari bergulir demi hari, membuat Inka selalu bersinggungan dengan Chesta, sang ketua. Chesta tetap sinis minta ampun, dan Inka tetap berusaha mengatur kesabarannya dalam menghadapi Chesta. Hingga Chesta melontarkan sebuah hal yang tak akan pernah mampu Inka percayai selama hidupnya, meminta Inka untuk menikah dengannya.
Pernikahan kontrak yang akhirnya disetujui dengan berbagai syarat, diyakini mampu menarik gadis itu dari bayang kehidupan lama. Tetapi, gadis itu tidak paham betul bahaya yang mengancam, bahwa ternyata dia benar-benar telah kembali jatuh hati kepada Chesta untuk yang kedua kali. Chesta yang sepertinya tidak akan mampu menyelamatkannya dari trauma yang terpatri dalam kehidupan cinta ibu dan ayahnya.
"Lo tahu luka-luka yang gue simpan karena luka-luka lo sama busuknya dengan punya gue. Kita nggak bisa saling mneyembuhka. Kita sama-sama jatuh ke jurang, kejebak di dasar yang sama, menunggu ada yang menyelamatkan."
Inggris, Harry Potter, warna hitam, semua hal komplit yang mampu menarik perhatianku di awal-awal membaca. Serius, aku sudah sangat mengimpikan untuk bisa menuntut ilmu di Inggris, di mana pun itu apalagi di Oxford atau London. Dan ketika menemukan karakter di novel yang berkuliah disana, terlebih jurusannya creative writing pula. Bayangkan betapa senang sekaligus irinya aku.
Dibuka dengan perseteruan antara Inka dan ibunya, aku dibuat penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sedikit gambaran mengenai apa yang dirasakan Inka terhadap ayahnya. Hingga selanjutnya, berganti dengan Inka yang cukup gembira, yang telah terbang ke Inggris dan melanjutkan pendidikan di University College. Uniknya, disebutkan tentang Harry Potter Society, yang awalnya jujur saja aku kurang percaya apa memang ada klub seperti ini? Ternyata setelah googling, memang ada di universitas itu. Tambah iri nggak sih sama Inka?
Narasi masam mengenai Oxford yang menjadi setting sangat membuatku tertarik. Meski menurutku pribadi London memang identik dengan hujan dan aura dingin (dan aku menyukainya), cara Ruth Priscilia mendeskripsikannya (lewat sudut pandang Inka) sangat berhasil untuk mengembuskan napas sendu pada kota tersebut tepat seperti apa yang dirasakan Inka. Intinya, dari setiap halaman, Ruth Priscilia sukses membuat aura Black benar-benar terasa 'Black', padahal di awal aku cukup skeptis dan mengira dinamai Black hanya karena si tokoh utama menyukai warna hitam. Namun setelah mengetahui kisah hidupnya, aku mengapa akhirnya diberi judul 'Black'.
Untuk karakterisasi, sebenarnya aku nggak begitu teringat dengan Inka si tokoh utama, kecuali fakta dimana dia adalah seorang gadis yang mencoba menata hidup di Inggris untuk meninggalkan masa lalunya di Indonesia, dan apa yang dia rasa terhadap hubungan cinta. Gadis yang begitu mendambakan kehidupan normal seperti dulu ketika ayah dan ibunya masih tetap bersama. Yang paling kuingat adalah Chesta, yang merupakan karakter terfavoritku.
"Aku tidak menangis ketika Mama pertama kali memberitahu dia akan meikah lagi. Aku juga tidak menangis saat tahu Papa sudah pindah tanpa memberitahuku. Jadi mengapa pemuda asing ini, yang hanya kukenal di masa lalu tanpa kenangan indah, membuatku ingin menangis?"
Sungguh, dia adalah tipe cowok unik. Nggak sok ganteng, sok dingin, tetapi memang itulah dia. Dia adalah cowok yang meski sinis, dingin, jarang tertawa, tetapi terkenal playboy, ketika dia telah mencintai seseorang, dia melakukannya dengan sepenuh hati meski sikapnya agak sedikit bossy, menuntut, dan cenderung suka memerintah. Seperti si gadis adalah pihak yang teropresi sementara Chesta sangat mendominasi alias pemegang kekuasaan
Cowok yang sangat menarik menurutku ketika di sisi lain, dia begitu rapuh dan sangat membutuhkan seseorang untuk menguatkannya. Cenderung mengambil sikap yang didasari pengalaman traumatisnya dalam memperlakukan orang. Protektif namun tidak membuat jengah. Mencintai tetapi tidak memaksa. Terlebih lagi, Chesta sangat mencintai sosok ibunya. Justru hal-hal itulah yang membuatku menaruh perhatian lebih padanya, bukan karena dia adalah calon CEO, populer, pintar, serta kaya raya.
Interaksi yang terjalin antara Inka dan Chesta sangat natural dengan kedekatan yang lambat laun tercipta yang dibumbui oleh alasan masuk akal. Cara Ruth Priscilia meramu masa lalu mereka berdua dan mengaitkan benang merahnya cukup unik.
Plot dari awal hingga akhir ditata dengan cukup rapi dan membuatku betah membacanya. Side character juga dapat dimanfaatkan dengan cukup baik oleh Ruth Priscilia; Ella, Owen, Christian, lovely Kiran, Om Ben, Patricia, mama Inka, dan Sigi, meski aku masih sedikit penasaran dengan apa yang terjadi antara Inka dan sahabat cowoknya, Sigi serta cukup kurang puas dengan keberadaan Ezra yang kupikir awalnya punya peran lebih dari itu.
Adegan favoritku adalah ketika Chesta dan Inka pertama kali berkeliling Oxfordshire dengan kondisi keduanya yang masih seperti anjing dan kucing, lalu ketika momen Inka bersinggungan dengan sang ayah. Berkomentar sedikit, aku suka keunikan cerita ini yang terletak pada pilihan cara kedua tokoh untuk berlarut-larut dalam kesedihan, yah, meski itu negatif.
"...Tapi aku bisa mengisap ratusan batang rokok dalam semalam bersamanya, meneguk berbotol-botol tequila, dan memberikannya Alka-Seltzer di pagi hari. Aku akan menemaninya hancur."
Overall, kalau kamu sedang berjuang untuk menyembuhkan kesedihan dan mencari teman untuk menikmati warna hitam bersama, mungkin Black dapat menjadi jawabannya. Sebab dari yang kutangkap, novel ini mungkin akan memberikan secercah harapan bagi kita bahwa suatu saat nanti ada yang akhirnya mampu menerima sekaligus menyelamatkan kita dari keterpurukan, terlebih lagi dalam menerima kenyataan yang tak sesuai harapan.
"Mungkin justru karena itu. Karena tahu pada ujungnya akan merasa sakit, beberapa orang memilih mencicipi kebahagiaan lebih dulu." Info Buku:
Judul: Black Pengarang: Ruth Priscila Angelina, Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Terbit: Cetakan ke-1, April 2017, Tebal: 304 hlm, Genre: Romance
Karena kecanggungan tidak pernah ada di antara dua orang yang tidak ada apa-apanya. So maybe there is something between us.
Antologi Rasa, Ika Natassa.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bagaimana bisa mereka berubah menjadi seperti dua orang asing begini, hanya dalam tempo yang sedemikian singkat?
Stephanie Zen, A Week To Forever
Falling Stars - 3
Lisha
Om Sagan
Hari ini pemakamannya Bu Ersa, Sha.
Tolong didoakan ya.
Kamu juga semoga lancar di sana. Baik-baik ya.
Itu pesan yang aku terima tadi subuh. Dan pesan itu juga yang membuatku khawatir dan sedih. Mau bekerja sekarang pun jadinya nggak fokus. Sejak tiga bulan yang lalu, aku tahu Tante Ersa memang sakit-sakitan, tapi tetap saja mengejutkan karena setelah sekian lama mendapat kabar, yang aku dapatkan justru ini.
Dan sayangnya aku nggak bisa datang ke pemakamannya. Dengan alasan apapun, aku memang nggak bisa menemui Tante Ersa.
Tadinya aku ingin menelepon Om Sagan untuk meminta informasi lebih lanjut soal Tante Ersa, tapi sayangnya hanya pesan tadi subuh saja yang jadi komunikasi sepihak dari Om Sagan. Aku sama sekali nggak bisa menghubungi balik.
Sungguh, aku nggak tahu siapa lagi yang bisa aku hubungi untuk bertanya soal Tante Ersa selain Om Sagan. Tapi Om Sagan juga mungkin enggan untuk menjawab pertanyaanku.
Atau akan lebih baik kalau aku langsung datang ke tempatnya Tante Ersa? Tapi sopan nggak ya?
“Sha, udah istirahat. Nggak makan dulu?”
Aku menoleh ke belakang, mendapati rekan kerjaku, Mas Pradnan, berjalan sambil memutar-mutar kunci mobil di tangannya.
“Oh, nanti deh, Mas. Saya masih lagi meriksain email dari klien.”
Yah, oke, aku juga memeriksa email lama sih tadi, tapi atasanku yang satu ini sebaiknya nggak tahu akan itu. Well, it’s better that no one knows.
“Kamu bukannya nanti siang mau pergi, ya?”
Ah, iya. Benar juga. Hari ini aku kebagian mengaudit bagian keuangan rumah sakit cabang salah satu klien di daerah Setiabudhi.
“Nah, lupa lagi jangan-jangan?” Mas Pradnan memandangiku sambil geleng-geleng kepala. “Udah deh, Sha, mending makan dulu. Kalau email sini saya yang balasin aja.”
“Duh, Mas, kan ini kerjaan—”
“Yang ini masih proyek buat nanti kok, klien hanya saja suruh email ke kamu beberapa data sama laporan mereka aja. Mending kamu siap-siap aja, daripada ditinggalin Jevan.”
Nama yang Mas Pradnan sebutkan membuat aku meringis. Oh, iya. Hari ini aku berangkat dengan Jevan. Jangan sampai dia pergi begitu saja seperti tahun lalu, meninggalkanku begitu saja padahal siangnya aku harus sudah ke kantor klien di Menteng. Dia pikir dari Bandung ke Jakarta cukup naik angkot sekali?
Mungkin ringisanku terlalu kuat, sampai-sampai Mas Pradnan tertawa. “Nah, kan udah tahu Jevan gimana. Jangan telat lagi deh.”
15 menit sebelum juga buat Jevan sudah termasuk telat sih. Pusing memang sama maniak aturan kayak dia.
“Ah, jadi pengin berangkat sendiri.”
“Sayang duit, Ra. Biaya transportasi juga kan dipake buat bensinnya Jevan.”
Mending naik angkot. Tapi mengingat waktu, ah, rasanya nggak akan mungkin kekejar. Mau naik ojol juga… I don’t even want to make it as an option.
Pada akhirnya aku nggak punya pilihan lain kecuali mengalah, berdiri dari kursi yang langsung diisi Mas Pradnan. Awalnya aku ingin langsung pergi, namun begitu mengingat sesuatu, aku berhenti dan berbalik.
“Setelah dari sana apa harus balik kantor lagi untuk laporan, Mas?” tanyaku.
“Kalau untuk laporan langsung sih nggak, paling laporan tertulisnya dulu,” jawab Mas Pradnan. “Kenapa, Sha? Mau langsung balik?”
Aku jadi merasa nggak enak sendiri, tapi kalau untuk cabut duluan, memang ke sana arah pertanyaanku.
“Nggak balik sih, Mas. Rencananya kalau bisa aku mau mampir ke tempat lain dulu,” kataku sambil terkikik kecil. “Kalau sempat mau ke sana.”
“Oh,” Mas Pradnan manggut-manggut. “Janjian habis pulang kerja? Ada urusan, Sha?”
“Hehe, iya, Mas.”
“Mau ketemu siapa?”
“Keluarga.”
Hanya satu kata itu yang terlintas dalam kepala sebagai jawaban.
Untungnya Mas Pradnan hanya mengangguk. Karena kalau ditanya lebih jauh, aku nggak tahu harus menjawab apa. Aku belum siap untuk membuat cerita karangan pun mengatakan kejujuran.
Because the truth is just… too complicated to be told.
*
Daka
Bohong namanya kalau gue nggak kepikiran akan apa yang terjadi di rumah sakit. Nama Abiyasa Aradhana terus terngiang dalam kepala gue, dan jelas nggak mungkin gue lupakan begitu saja.
Dan nampaknya, keluarga gue mendukung hal tersebut karena begitu gue, Mikaela, dan Yasa kembali ke rumah, gue langsung ditarik kembali ke perkumpulan ghibah—persetan sudah, mereka bukan diskusi lagi, tapi bergosip—untuk membahas lebih lanjut soal Yasa.
“Harusnya tadi sekalian tes DNA sama darah aja, biar tahu betulan anaknya Ersa atau bukan.”
Untuk makin mengejutkan diri gue? Oh, tidak terima kasih. Bagi gue nama Yasa sudah lebih dari cukup menjadi tamparan juga fakta. Tapi gue nggak perlu cerita itu ke mereka, kan?
Dan kelihatannya, topik soal itu sudah digantikan dengan topik yang lebih ramai. Gue nggak tahu apa yang terjadi selama gue dan Mikaela pergi. Topiknya jelas masih sama, masih tentang Yasa. Bedanya sekarang ada hal baru yang jadi perbincangan mereka.
“Jadi anak itu gimana? Ersa sudah nggak ada.”
Kalau sebelumnya mereka heboh, topik kali ini membuat semuanya cenderung diam. Nggak ada yang bisa langsung menanggapi. Para pasangan suami istri saling tatap, entah tengah mencoba melakukan semacam telepati isi pikiran atau apa, gue juga nggak tahu.
Di tengah keheningan perkumpulan ghibah ini, Mikaela mencondongkan tubuhnya ke arah gue dan berbisik, “Menurut lo gimana, Ka?”
“Gimana apanya?”
“Kira-kira ada yang bakal mau ngurus dia nggak?”
Nggak butuh waktu lama bagi gue untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan Mikaela itu. Dari kondisi dan respons orang-orang menanggapi keberadaan Yasa, the answer is just too obvious. Tapi, gue nggak suka jawaban itu, sekalipun gue nggak tahu alasan jelasnya apa.
Gue mungkin nggak begitu mengenal Yasa, tapi dari kenyataan yang ada, membiarkan Yasa begitu saja membuat gue merasa melepas tanggung jawab gue.
But am I really responsible for this?
“Susah mau ngurusnya, asal-usulnya aja masih nggak jelas.” Perhatian gue teralih pada Tante Devia, adiknya Papa, yang akhirnya angkat bicara. Hampir semua orang menanggapi dengan anggukan, menjadi pendukung pendapat Tante Devia barusan.
Well, gue nggak terkejut. Tapi tetap saja kecewa.
“Lagi pula banyak yang sudah terlalu tua untuk mengurus anak kecil begitu,” kali ini Om Tio, suaminya Tante Devia ikut bicara. “Tapi kita juga nggak bisa biarin anak itu sendiri di sini, kan?”
Kali ini gue mengangguk, setuju dengan pendapat Om Tio. Tapi nampaknya yang lain nggak begitu, karena kendati mengangguk, mereka semua kembali ke fase saling tatap, bahkan ada yang sampai menundukkan kepala.
Suasana kembali hening. Kalaupun ada suaranya, yang ada hanya bisik-bisik kecil. Mikaela kelihatan cemas, tapi nggak berkomentar. Gimanapun, hanya kami berdua yang tahu kalau Yasa benar-benar adik gue.
Sekarang gue jadi ikutan waswas. Nasib Yasa seperti ditentukan lewat obrolan orang-orang yang kelihatan enggan melibatkan Yasa dalam kehidupan mereka. Gue juga cukup sadar bahwa itu hal yang wajar.
Tapi kalau menempatkan diri jadi Yasa, dia bakal bagaimana ya?
“Atau, gimana kalau gini.” Kali ini Tante Misa, kakaknya Bapak, yang bersuara. “Teman kamu itu, Sev, ada yang punya panti, kan? Kalau dimasukin ke sana aja bisa nggak? Teman kamu itu coba dihubungin.”
Panti katanya?
“Oh, ada? Kalau begitu lebih bagus.
“Nah iya betul.” Yang lain mulai ikut menambahkan. “Gimana, Sev? Bisa? Kalau soal biaya awal, mungkin kita di sini bisa bantu sedikit.”
Mereka benar-benar mau masukin Yasa ke panti?
“daripada nggak ada yang urus, lebih baik masukin ke panti aja. Kita juga nggak usah repot—”
“Nggak perlu panti,” gue memotong cepat. “Yasa tinggal sama aku aja.”
Meski sempat sedikit gusar—atau bahkan harus dibilang kalau gue cukup terkejut dengan ucapan gue sendiri, secara ajaib kata-kata itu keluar dengan begitu yakin dari mulut gue, sekalipun dengan cepat semua orang melemparkan pandangan heran dan terkejut ke arah gue, bahkan Mikaela sekalipun. Tapi tatapan itu nggak akan pernah cukup untuk membuat gue menarik lagi ucapan yang sudah terlontar.
Gue nggak akan mundur.
Dan untuk saat ini gue hanya bisa berdoa, meyakinkan diri.
Ibu, Daka masih nggak ngerti dengan semua ini. Tapi untuk kali ini, nggak papa kan Daka mencoba menjaga hal terakhir yang Ibu tinggalkan? []
*
Upcoming fiction on Tumblr. Choose your fighter as main character.
JJK or KTH?