"Wajah yang Tak Boleh Retak"
Dia kepala rumah,
bukan langit tapi harus selalu biru,
bukan batu tapi harus selalu kokoh,
bukan dewa tapi tak boleh lelah.
Pagi menagih keberanian,
malam memungut sisa tenaga—
dan dia berdiri di antaranya,
diam-diam memeluk luka,
agar tak tumpah ke lantai ruang tamu.
Tak ada ruang untuk keluh,
sebab keluh bisa menetes jadi beban,
dan pundaknya sudah penuh
dengan harapan yang tak sempat dirapikan.
Anak-anak memanggilnya pelindung,
istrinya menyebutnya rumah,
tapi tak satu pun tahu
betapa sering ia bicara pada bayangan,
menawar sejenak rapuh
yang harus ditelan sendiri.
Menjadi kuat bukan pilihannya,
tapi peran yang ia pakai saban hari
seperti seragam perang
yang tak boleh disobek,
meski dadanya mulai sempit.
Dia tak butuh piala,
tak ingin tepuk tangan—
cukup langit tetap teduh
dan tawa mereka tetap hidup,
meski untuk itu,
ia harus menghilangkan dirinya
sedikit demi sedikit.













