Page 11 : DEWASA ITU KETIKA
Seseorang pernah berkata : “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Memilih untuk berubah menjadi baik atau tidak, merupakan suatu keputusan yang sulit. Namun tetap berada di zona nyaman pun tak jarang justru menyiksa. Dan mencoba keluar dari zona nyaman menjadikan seseorang lebih kuat dan hebat.Terkadang begitu sulit untuk menyesuaikan diri dan menikmati setiap alur yang ada. Namun itulah hidup. Sejatinya manusia harus sadar siapa dirinya, bagaimana lingkungannya, apa yang diinginkannya, mengapa harus bertahan, dan kapan harus berubah.
Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang benar-benar menjadi patokan kedewasaan. Seseorang berkata, kedewasaan itu ditunjukkan dengan kartu identitas, dan yang lainnya berkata dewasa itu ketika seseorang telah menikah. Tidak ada yang tahu tepatnya ukuran kedewasaan itu seperti apa. Bahkan gadis kecil berseragam merah putih pun bisa jadi telah dewasa karena pemikirannya yang bijak luar biasa. Dan pemuda paruh baya boleh jadi disebut belum dewasa akibat sikapnya yang masih manja. Dewasa tidak lagi diukur berdasarkan umur, karena usia hanyalah perihal angka.
Dewasa itu ketika hal yang baik dan hal yang buruk mampu ia bedakan. Dewasa itu ketika ia mampu bersikap lebih bijak dan tidak emosional dalam menghadapi suatu masalah. Dewasa itu ketika seseorang memiliki keberanian dan pertimbangan. Sekali lagi, dewasa itu bukan perkara usia., dan proses menjadi dewasa setiap orang itu berbeda-beda. Dewasa itu suatu keharusan, bukan lagi menjadi pilihan.
Semakin dewasa seseorang, semakin banyak pengalaman yang dilalui, maka semakin banyak pula proses pembelajaran yang dialami. Dan pada akhirnya, setiap manusia itu akan menjadi dewasa. Entah karena dipaksa oleh keadaan, entah dipaksa karena luka, atau karena memang sudah waktunya untuk menjadi dewasa. Oleh karena itu, jalani saja waktu yang tersisa sebaik mungkin. Karena menjadi pribadi yang baik harus dimulai sejak saat ini.
 Bogor,  Februari 2016
©alfiyaninovi















