Belajar Mengenal Diri Seperempat abad lebih aku hidup, ternyata aku masih belum mengenal aku sepenuhnya. Bertahun – tahun mengeja rasa. Selama itu pula aku menyembunyikan luka. Pelik, aku butuh peluk yang memeluk. Luka menganga seharusnya dibasuh sampai meluruh, malah kupendam supaya terdiam. Sekarang mereka mencuat dan beriak, rasanya sesak!
Segalanya tampak terkait, bertaut, dan semrawut. Terlalu banyak emosi yang tak kusadari keberadaannya, utamanya dalam hidupku. Seperempat abad lebih aku hidup, ternyata aku masih belum mengenal aku.
Kini, aku belajar menyapa emosi yang dulu asing, merangkul rasa yang pernah kutolak, dan memberi ruang pada diriku untuk meresapi semuanya. Mungkin inilah artinya pulang pada diri yang utuh, pada rasa yang tak lagi kutolak, dan pada emosi yang akhirnya bisa kurasakan.









