Surat Permohonan Maaf untuk Kamu
Kutulis Surat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sambil menyusuri waktu, aku kebingungan memanggil namamu, harus kupanggil apa kamu ?
Sementara di dadaku berjejal ribuan anak panah, kutulis surat ini dalam keadaan kalah. Keberanianku habis ditelan waktu, kejantananku menipis digerogoti sepi. Dan kamu? Kamu adalah nafas yang lain, yang seketika asing dan berjarak denganku.
Bukan tanpa sebab dan perkara, hari ini Cinta telah membuktikan perkataannya, Bahwa "Tidak Ada yang Berhak Menbusungkan Dadanya dihadapan Cinta," dan harapan telah memperlihatkan wujudnya, benar katamu, "Jangan Terlalu Sayang, Jika Masih Tidak Ada kepastian."
Catatan dalam tanggal telah menyerah, dan kau menyulam dukaku, menukarnya dengan kabar. Seumpa kabar dan berita darimu adalah kesadaran diri, maka aku akan kembali menemukan namamu, tapi seumpa kabar itu adalah garam yang akan ditaburkan di atas dukaku, maka izinkan aku memperpanjang nafas jarak ini.
Duka yang sedang memeluku membuatku menjauh dari kewarasan, menghidupkan jeda diantara lingkaran, dan kamu tercatat di dalamnya.
Ada yang sedang terikat dipikiranku, ada yang sedang menyayat hatiku, ada yang sedang dirawat di rumah. Lalu kau dimana ? Aku dimana ? Kita dimana ?
Kutulis surat ini karena kamu adalah penawarnya, karena kamu adalah obatnya, perihal kamu adalah penghilang dahaga orang lain, aku tak peduli sebab aku yakin peremupuan sepertimu di jaman leluhur, bisa mendatangkan perang Baratayudha.
Ada saatnya, aku bergerak, hari ini izinkan aku beristirahat. Tak harus ada yang memulai sebab semua telah dimulai, tak perlu ada yang disesali sebab semua sudah terjadi, dan berlabuh.
Dari kamu, aku mengenal makna mati dan kepercayaan. Dari kamu juga aku tahu cinta tak lain adalah sumber kekuatan tanpa bandingan, bisa mengubah, menghancurkan, atau meniadakan, membangun bahkan menggalang.
Jika hari ini kita berjauhan, sudah kupastikan bukan aku yang memulai. Jika esok ada cinta yang harus dipertaruhkan, sudah kupastikan itu kita yang memulai.
Atas segala keadaanku yang kalah dan goyah, izinkan aku menyebut namamu lagi, memanggilmu lagi. Kamu mesti tahu, surat ini kutulis karena ketidakberanianku, juga karena orang yang sedang hilang Jiwanya selalu menyebut kamu penawarnya.
Bandung, 19 November 2020.
Hormat Saya,
M. Elgana Mubarokah















