Jadi waktu tgl 8 Oktober 2023, sudah sekitar 2 pekan yang lalu, di sore hari aku merasa sesak. Sesaknya karena marah gegara waktu pagi aku ada cekcok sama mama dan papa. Dan marahnya itu kebawa sampai sore. Pas sorenya, saat mama dan papa pulang aku ingin keluar dari rumah. Rasanya sangat sesak, pengen teriak tapi kalau teriak di rumah nanti masalahnya tambah runyam.
Akhirnya setelah masak nasi, aku buru-buru makan lalu mandi. Aku langsung buat rencana buat lihat sunset, tapi aku terlambat siap-siap. Jadinya, setelah mandi, aku buru-buru siapin mukenah, air putih, dan novel sambil lihat di jendela kalau matahari perlahan-lahan tenggelam di ufuk barat.
Setelah mandi, aku langsung minta STNK dan ditanyain sama papa dan mama mau kemana. Aku jawab aja mau sholat di mesjid CPI karena di rumah panas. Dan saat itu, memang cuaca juga lagi panas-panasnya. Syukurnya, aku dizinkan buat keluar.
"Aelah, dasar jadiin cuaca kambing hitam padahal lagi mau menghindar dan mau kabur dari rumah aja kamu." Ucapku pada diri sendiri.
Pas di jalan, aku sempat melamun sebentar, teriak sebentar dan akhirnya nangis. Aku menangisi diriku sendiri kenapa sering menyimpan dendam, padahal tau itu nggak baik buat diri sendiri dan orang lain. Aku menangisi skripsiku yang belum kelar-kelar.
Aku keliling dulu dan masih di sekitar CPI sebelum sampai ke mesjid. Saat aku tiba di parkiran mesjid, sempat poto-poto dulu sebelum pergi wudhu. Setelah sholat magrib, aku lama merenung di pelataran mesjid, memperhatikan wisatawan lokal yang datang bersama keluarga mereka.
Karena merasa bosan kalau duduk di pelataran mesjid saja, jadinya aku ke lego-lego. Mau beli yotta tapi antrian banyak jadinya malas buat ngantri. Saat jalan di Lego-lego, aku hampir nabrak ular karena terlalu serius nunduk main hp wkwkwkwk
Nah, aku dapatlah tempat buat pewe dan melakukan ritual merenung. Di bawah cahaya lampu, segarnya permen frozz yang meleleh, aku ada di kesendirianku di antara keramaian. Sesekali aku membaca novel yang kubawa dan mengamati keramaian yang ada.
Lucunya, pas lagi serius-seriusnya ngamatin bapak sama anak yang harmonis banget yang buat aku inget masa kecilku sama bapak, tiba-tiba ada celutukan "galau kamma" dari bapak-bapak muda yang duduk sama keluarga kecilnya yang nggak jauh dari aku sambil lihat ke arahku. Yang artinya kurang lebih "galau sekali". Ya aku cuma senyum tipis aja menanggapi celutukan tersebut.
Nggak bisa gitu ya, biarkan aku menikmati kesendirianku, merenungi apa yang terjadi, atau biarkan aku menikmati hal-hal di sekitarku (β Β β κβ α΄β κβ )
Aku sering kok jalan sendirian melihat ramainya kota, ke perpustakaan sendirian, atau makan sendirian. Walaupun kadang-kadang ngenes dikit rasanya wkwkwk, tapi serius aku menikmati hal ini. Ya, kadang-kadang diri sendiri butuh me time.
Setelah perasaanku agak baikan, aku baru pulang setelah sholat Isya.