"Jadi pacarku aja enggak sih?"
Kalimat itu terucap dengan begitu fasih tanpa cela. Bibir yang tidak terlalu ranum itu mengeluarkan untaian abjad yang sama setiap harinya. Sejenak ia menyesap lagi Kapal Api seduh yang asapnya tidak tampak mengepul terbawa angin.
Teriknya matahari yang menyengat seakan tidak menghalangi sorot obsidiannya untuk tetap kokoh dengan pendiriannya. Alis kanannya terangkat sembari menunggu sercecah kalimat sebagai jawabannya.
"Enggak mau, jangan ngelantur."
Lelaki itu mendesah mendengar jawaban itu terulang kembali. Selalu seperti ini jawaban yang ia dapatkan. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang ada di benak Nirmala. Perempuan itu susah sekali untuk ditaklukkan, batinnya.
"Kamu itu naif banget, tahu enggak?"
Nirmala hanya diam. Manik kecoklatannya hanya bisa bertubrukan dengan obsidian milik Mahen. Nirmala harap lelaki itu dapat membaca semuanya di balik tatapannya. Nihil. Mahen tetap keras kepala.
Baik Nirmala dan Mahen tidak pernah mau mengalah. Keduanya tidak ingin menyelami perasaan masing-masing terlalu dalam. Sensasi yang meraka rasakan bersama bagai fatamorgana di tengah gurun pasir. Semu.
"Bukan gitu! Aku lagi mempertahankan harga diri." Jawab Nirmala dengan suara yang sedikit bergetar. Ia mulai goyah.
Mahen mendengus kesal. Ia sudah jengah dengan perempuan berlesung pipi di hadapannya. Kapal Api yang ia sesap kini sudah tidak menarik lagi. Cairan pekat itu hanya bisa membuat lidahnya terperangkap. Lidahnya jadi kebas, terlalu banyak kafein.
Hanya itu yang dapat ia katakan sebelum kaki jenjangnya melangkah meninggalkan Nirmala sendirian. Ia kecewa. Selalu seperti ini lagi.