Argopuro
4 hari, 3 malam, kurang lebih terhitung 1 tahun yang lalu.
Dimulai sejak tim dengan anggota 12 orang naik elf ke basecamp Baderan mulai terbagi menjadi 2 kelompok. (satu) Mereka yang 'sok jago' mau jalan kaki aja sampai pintu hutan dan sedikit berhemat; (dua) Mereka yang dianter warga aja sampai pintu hutan naik ojek untuk menyiapkan tenaga dan bisa berangkat sedikit lebih siang.
Taulah ya, aku anaknya kan 'sok jago' aja gitu padahal gak bisa apa2, ikutlah ke rombongan satu. Jokes menit2 pertama pun mulai muncul. "Turun lagi aja yuk, kayaknya cape deh." atau "Ini mau ngapain sih naik gunung?" Tapi yaudah, sambil jalan aja semuanya. Kami memang sempat disusul sama rombongan dua yang lewat pake ojek. Dan mengutuk kemudian, "wah kayaknya enak ya naik ojek." Sambil terus jalan.
Ya bisa apasih di gunung? Di pedalaman hutan, yang memang sih ada walking track nya, but still, in the middle of nowhere sebenernya. Ngapain sih naik gunung? Mending diem di rumah aja masak kalau kata salah satu Kopaska yang kami temui waktu itu.
Di gunung mah cuma bisa jalan, makan, jalan lagi, istirahat sebentar, nyemil, jalan lagi, jangan lupa solat, jalan lagi, ngobrol2, ketawa, cemberut lagi karena cape, jalan, foto-foto kalau view nya bagus, yang sesungguhnya agak pe-er kalau dilakukan sambil jalan. Iya jalan terus aja jalan.
Aku pribadi sih, ngerasa trek Argopuro yagila ya. Naik turun bukit. Banyak landai-nya. Ih asik ya banyak landainya? Oya jangan gegap gempita dulu! Banyak jalan landai artinya, sekalinya naik atau turun, ya wassalam. Landai juga gak selalu menyenangkan, kalau track nya SEPANJANG itu!! Iya panjang banget kaak. Hayati lelah. Baiklah nampaknya postingan kali ini (seperti biasa) gakan terlalu banyak faedahnya, boleh kok langsung berhenti baca sampai disini aja.
Jadi ngapain mendaki? Lebih karena tubuh malas ini butuh olahraga sih kayaknya. Sebenernya ya banyak sih olahraga yang gak perlu pergi jauh2. Tapi ya justru disitu asiknya. Jalan-jalannya!! Lari bisa sih, tapi kalau di trek doang bosen, sedangkan jalanan Jakarta yang bersahabat adanya sebelum jam 5 yang mana mesti melawan musuh bebuyutan dulu sebelumnya (red: kasur). Dan di Argopuro ini, rasanya setiap jengkal otot yang melekat di tubuh ini mau-gak-mau terpaksa mengikuti perintah tuannya untuk bekerja lebih keras lagi. Semata-mata untuk mempertahankan keberadaan tuannya.
Jalur sepanjang 40 km (katanya) ini, berhasil sih bikin rontok lahir batin. Lebih tepatnya kurang-lebih waktu hari ke-2 siang, perjalanan menuju mata air 2. Hujan. I'm telling you, i love rain, tapi tidak ketika pendakian. Karena essensi kenikmatan hujan agak berkurang ketika itu, dan tergantikan oleh pikiran-pikiran buruk yang semakin membebani perjalanan ini. Hujan ini juga mungkin menjadi salah satu faktor berkurangnya keinginan kami untuk mencapai puncak. Yap, satu hal perlu diketahui, perjalanan kali ini kami tidak menyentuh puncak. Suatu keputusan yang secara sadar kami ambil, karena pada saat itu, opsi menuju puncak bukanlah opsi yang baik. Sedih ya? Sedikit. Karena akan lebih menyedihkan ketika kamu gagal pulang.
Tapi dibalik itu semua, pendakian ini rasanya mengajarkan banyak hal-hal penting yang sering kali terlewatkan. (satu) bahwa pada pendakian kali ini rasanya aku bisa lebih banyak mengingat-Nya. Selalu diingatkan bahwa seberat apapun perjalanan yang sedang dilalui, selalu ada Dia yang membantumu berjalan. (dua) adanya teman-teman perjalanan yang bagitu sabar dan pengertian dalam menghadapi perjalanan kehidupan yang melelahkan ini.
Another happy part of hiking is the view. You could see something that you cannot see everyday. Apalgi buat kita yang banyak tinggal di perkotaan. Orang-orang mungkin ada yg lebih memilih pantai, tapi aku pribadi lebih suka ada di pegunungan. Rasanya lebih menenangkan.
Sedikit saran, buat kamu yang mau mendaki Argopuro, kasih tubuh kamu waktu yang lebih senggang dari sekadar 4 hari perjalanan.
Jadi, buat apa naik gunung?
Fatmawati, 1 Januari 2019













