Membangun Peradaban
Masih dari Local Leaders Day 2014 yang diselenggarakan di Salatiga 7– 9 Maret 2014. Dr. Roby Muhammad (@robymuhammad) seorang Sosiolog dari Univeristas Indonesia mengajak kami mengelana ke peradaban-peradaban yang pernah ada di dunia: Byzantium, Islam, The Crusades hingga Indonesia.
Mas Roby tidak sedang mengajak kita untuk romantisme tetapi menarik sebuah kesimpulan penting yang mungkin dilupakan banyak orang yaitu para pelaku utama peradaban tersebut ternyata orang muda.
Jika dahulu kala pemuda berhasil membangun peradaban dunia maka seharusnya sekarang orang muda bisa membangun peradaban baru. Mas Roby mengajak dan menantang relawan Akber untuk membuat peradaban baru.
Bicara peradaban sebetulnya juga bicara tentang kebudayaan karena keduanya saling berkaitan bahkan ada yang menyamakannya. Peradaban menurut Bierens De Hann adalah seluruh kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan teknik. Oswald Spengl mengatakan peradaban adalah kebudayaan yang sudah tidak tumbuh lagi, sudah mati.
Koentjaraningrat mengatakan peradaban adalah bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus, maju, dan indah seperti kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun pergaulan, kepandaian menulis, organisasi kenegaraan, dan sebagainya.
Bagaimana membuat peradaban? Doktor tamatan AS yang fasih bercerita ini mengisahkan perjalanan dua orang professor Jerman yang menghimpun cerita-cerita rakyat dan dongeng di seluruh dunia untuk didokumentasikan. Kisah-kisah ini ternyata akan dijadikan media untuk menanamkan nilai-nilai bagi pembentukan peradaban baru di Jerman. Dongeng yang kini ditinggalkan ternyata sangat bermanfaat.
Ada beberapa cara membentuk peradaban antara lain pertama dimulai dengan rasa kegelisahan. Rumuskan apa yang menjadi kegelisahan di sebuah masyarakat atau bangsa. Kedua, bergeraklah secara bersama. Peradaban tidak dapat dibangun satu orang sehingga kita membutuhkan orang lain untuk mendukung dan menggerakkannya. Kita harus dapat memberikan kapasitas lebih bagi pengikut agar mereka dapat mencari pengikut lain yang mendukung peradaban yang kita bangun. Ketiga, Ciptakan Mitos Firaun. Musuh bersama inilah yang akan menyatukan kekuatan pendukung untuk selanjutnya menumbangkan sang Firaun. Keempat, Ciptakan Ritual. Ritual adalah bentuk pengulangan yang dibutuhkan untuk menghimpun pengikut dalam jangka waktu tertentu. Dengan ritual anggota akan terus mengingat, terhubung dan ter-upgrade.
Pertanyaan selanjutnya adalah dari mana kita lakukan. Jawabnya adalah mulai dari lingkungan yang terdekat. Tujuannya adalah untuk mempermudah, juga efektifitas serta efisiensi gerakan.
Kemudian ciptakan narasi-narasi yang dikoneksikan dari masa lalu. Hal ini penting untuk meyakinkan para pengikut bahwa peradaban yang dibangun adalah peradaban yang tidak muncul begitu saja tetapi memiliki keterhubungan dengan masa lalu.
Kenapa peradaban dan sebuah gerakan membutuhkan tokoh? Tokoh dibutuhkan karena manusia butuh aktor untuk berempati. Penokohan terkadang dibangun setelah revolusi atau perubahan terjadi.
Bagaimana dengan Akademi Berbagi? Dapatkah kita membangun sebuah peradaban baru? Ini adalah pertanyaan dan PR kita bersama. Tantangan terbesar kita adalah gerakan ini tidak dibangun berdasarkan teks-teks dan basis masyarakat pada umumnya. Akber bermula dari twitter, kegiatan ini digerakkan dan disebarluaskan secara viral.
Mengenai Tokoh, mbak Ainun Chomsun (@pasarsapi) sebagai pendiri dan juga coordinator nasional adalah tokoh Akber. Beliau menginginkan munculnya tokoh-tokoh Akber di masing-masing kota. Mereka inilah yang akan menyebarkan dan menguatkan gerakan perubahan Indonesia dimulai dari kota masing-masing (saat ini 38 kota). LLD adalah bentuk ritual dua tahunan yang dimulai dari tahun 2012.
Sebagai penutup mari kita lihat kembali Visi Akber yaitu Memberikan rasa keadilan atas pendidikan dengan membuka akses belajar bagi setiap warga Indonesia. Juga Misi Membangun akses belajar seluas-luasnya dengan mudah dan merata ke berbagai wilayah di Indonesia dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dan jejaring sosial di internet. Menjadi jembatan penghubung antara ilmu dan pembelajar dengan membuang sekat yang ada karena semua orang adalah setara.
Sedangkan Mimpi Akber adalah dimana Setiap kota kabupaten/kotamadya ada kegiatan Akademi Berbagi yang diselenggarakan dengan rutin dan digunakan untuk memajukan wilayah dan masyakatnya. Tatang Hidayat



















