| Office Coffee : Anak Muda, Kopi, dan Edukasi Malam itu suasana di kedai kopi ini sedikit ramai. Saya dan tim Linkers memilih duduk di lantai bawah bagian dalam dengan nuansa vintage yang sungguh menyenangkan mata. Di satu sisi di kedai ini terdapat sebuah motor dengan gaya café recer, rak yang terbuat dari kayu yang berisi merch tentang kopi, serta meja-meja kayu dengan pelitur kamper. Meja-meja didominasi anak muda yang bercengkrama ditemani beberapa gelas kopi. Kedai ini didisain sedikit berbeda, sumber listrik untuk mengisi daya gadget hanya tersedia tiga lubang dalam satu ruangan dan itupun hanya pada sudut tertentu. Mungkin pemilik kedai ingin para pengunjungnya menikmati kopi sambil bertegur sapa dengan yang lain. Sehingga, nuansa yang ditimbulkan dari tempat ini begitu nyaman dan sangat bersahabat. Terlebih, para baristanya begitu komunikatif. Mau ngobrol apapun dijamin seru. Kedai kopi tersebut adalah Office Coffie. Kedai kopi yang terletak di jalan M.T Haryono, kota Banjarmasin ini merupakan besutan seorang pemuda lokal bernama Ardy. Kecintaannya kepada kopi membuatnya bersemangat untuk membuat kedai kopi yang tidak hanya baik untuk para pecinta kopi, tetapi untuk masyarakat yang masih membutuhkan edukasi akan kopi yang berkualitas. Terlebih, biji kopi yang disajikan disini merupakan arabika terbaik dari tanah nusantara. Masyarakat harus tahu bahwa negeri kita adalah penghasil kopi terbaik sedunia. Saya memesan kopi Flores Colol dengan metode brewing favorit saya, V60. Barista merekomendasikan saya jenis Flores Colol karena menurutnya biji kopi Flores di kedainya merupakan yang terbaik yang pernah mereka gunakan. Tak berpikir lama, saya mengiyakan saran sang empunya kopi. Selain metode manual brewing pada umumnya seperti Tubruk, Shypon, Plunger, dan V60, Office Coffee memiliki cara minum kopi dengan metode manual brewing Chemex, serupa dengan V60 yang mengandalkan ekstraksi dengan cara tetes, namun Chemex menggunakan sebuah gelas kaca klasik berbentuk menyerupai jam pasir. Unik bukan?. “Nongkrong di kedai kopi itu sekarang udah jadi gaya hidup, tapi itu enggak dibarengi dengan gaya hidup minum kopinya. Buat di kota ini, anak muda masih ragu buat memesan arabika, apalagi manual brew. Rata-rata mereka langsung ‘nembak’ pesan apapun yang dekat dengan rasa yang akrab dengan lidah mereka. Kalo ga cokelat, ya vanilla” ungkap barista bernama Doni. Doni merupakan barista termuda di office coffe, ia masih berkuliah di perguruan tinggi di kota Banjarmasin. Tapi kecintaannya pada kopi, terutama latte, menuntutnya untuk terus meningkatkan keahliannya. Dimana lagi kalau bukan di kedai kopi. Office Coffee terbagi menjadi dua lantai. Lantai bawah merupakan mini bar dengan kursi terbatas, serta tersedia bangku untuk outdoor. Lalu untuk lantai dasar merupakan tempat yang lebih besar. Dengan luas sekitar 100 meter persegi, pengunjung tersebar memenuhi bangku-bangku yang tersedia. Yang menjadi daya tarik dari lantai dasar Office Coffee adalah adanya mesin espresso dengan tuas engkol manual, serta brewing statio. Di brewing station, para pengunjung bisa meracik kopi buatannya sendiri dengan metode manual brewing tubruk atau V60. Menarik!. ‘Kecintaan orang akan sesuatu kan berawal dari hal yang ia kenal. Jadi kalo kita pengen orang cinta sama kopi, ya kita harus kenalin mereka dengan kopi, dari kopi apa yang mereka buat, dibuatnya dengan cara apa, kurang lebih sih gitu” pungkas Adit, seorang barista senior yang menemani saya berkeliling setelah menyajikan kopi Flores Colol pesanan saya. Benar ternyata, tingkat keasaman dari Flores Colol begitu stabil, sehingga rasa pekat dari kopinya bisa saya nikmati tanpa ragu asam lambung akan kambuh. Buat yang menderita asam lambung, bisa pilih jenis kopi ini, tapi perhatikan juga ketika kopi ini di roasting. Pada tingkatan tertentu, biji kopi akan stabil dan tidak mengeluarkan asam meski di ekstrak dengan air panas. Tapi jika salah tingkatan saat roasting, justru tingkat keasaman akan sangat terasa. “Biji kopi yang kita gunakan adalah biji kopi terbaik dari petani kopi yang kita cari sendiri, bahkan sampe keliling Indonesia. Nah, buat pengolahannya kita lakukan sendiri sampe kopi itu tersaji buat konsumen.” papar Adit sambil menunjukan mesin roasting yang berada tepat di sebelah pintu masuk lantai dasar Office Coffee. Mesin roasting tersebut merupakan dapur utama dari biji kopi. Setelah ‘crack’ atau matang dalam keadaan yang tepat, lalu kemudian biji kopi diletakan ke dalam wadah dan ditutup rapat untuk melalui tahapan resting selama kurang lebih 3 hari. Proses panjang ini terbayar sempurna bagi Adit atau barista lain ketika saya tidak sengaja mengatakan, “Mantep nih kopinya, bro!”. Kalimat itu meluncur begitu spontan, tapi begitu jujur bagi saya yang begitu terkesan dengan rasanya. Di sini mereka juga menjual beberapa jenis biji kopi. Jadi tak sekedar tempat minum dan makan dengan menu-menu nikmat, Office Coffee bisa menjadi alasan penikmat kopi untuk membeli kopi dan menikmatinya di rumah. Tak kira-kira, mereka memiliki beragam jenis kopi yang di-roasting langsung oleh ahlinya. Ragam kudapan yang tersedia pun cocok untuk menghilangkan rasa laparmu. Selain macam-macam kue yang tersedia dalam cooler showcase, kudapan nikmat akan tersaji tidak lama setelah kamu memesan makanan pada buku menu yang kamu baca. Khusus pada akhir pekan, mereka rutin mengadakan sesi morning coffee. Ini merupakan solusi bagi para pecinta kopi yang ingin menikmati secangkir kopi di hari libur kerja setelah bersepeda pagi atau setelah bangun tidur. Office Coffee merupakan tempat yang tepat. Selain kopi, pada pagi hari di akhir pekan tersedia sereal yang bisa di nikmati gratis setelah pembelian secangkir kopi. Yang membuat Office Coffie semakin komplit adalah mereka mengelola kenyamanan dan keramahan waitress yang ada di sana. Ya, selain tempatnya yang nyaman dan pelayanannya yang ramah, penyajiannya begitu cepat dan sempurna. Pokoknya, klik!.