Daun Lenglengan
“Gimana, sudah hilang sakitnya?” tanya Armada.
“Terasa dingin, sih,” jawab Iwong. Gita, kawan kami yang agnostik itu, wajahnya masih dikuasai keraguan. Barangkali ia mencibir dalam hati.
“Tapi sakitnya masih?” tanya Armada lagi.
“Nah, ini hilang nih, Da!” Iwong kemudian menoleh-nolehkan kepalanya. Entah apa hubungannya, padahal yang sakit adalah gigi gerahamnya. Seolah-olah ia bergerak-gerak begitu bukan karena sakit gigi, melainkan nyeri leher salah bantal.
“Yang bener, Wong, jangan-jangan kamu cuma ngelegani,” Armada tertawa. Tapi Iwong menanggapinya dengan keseriusan yang meyakinkan. Dan dia menunjukkannya dengan bukti konkret; disantapnya segera semangkuk mi ayam yang sudah disediakan pegawai Armada sedari tadi. Lahap.
“Sembuh! Wah, Da. Kamu bisa buka praktik, tuh!” kata Iwong lagi. Aku geli sendiri membayangkan Armada jadi tabib atau dukun tiban. Alangkah banyak kawan selingkaran kami yang sudah atau akan jadi dukun.
Sehari sebelumnya, Armada menghubungiku lewat telegram. Ia mengajakku untuk membawa serta kawan-kawan datang ke lapak mi ayamnya di belakang Hartono Mall. Khusus hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, ia menyediakan sepuluh porsi gratis bagi siapa pun. Iwong kukabari dan hari Minggu adalah hasil kesepakatan kami.
Malam senin, bakda magrib, aku dan Iwong berangkat. Kami pergi ke Palagan terlebih dulu. Menghampiri Dito dan Gita. Mereka diajak serta. Tanpa banyak intro, kami bergegas dengan dua motor menuju selatan.
Sesampainya di TKP, Iwong mengeluhkan sakit giginya itu pada kami. Dan Armada langsung menyambit dengan gayung. Ah, maksudku gayung bersambut. Menyambut keluhan Iwong dengan kalimat yang meragukan bagi Gita tapi menyimpan harapan untuk Iwong.
“Aku ada obatnya, Wong. Pakai tanaman. Diajari bapakku. Nggak sampai dua menit, deh. Sembuh.” Begitu yakin Armada.
Armada kemudian menjelaskan kalau tanaman yang digunakan itu bukan tanaman yang bisa dibudidayakan. Itu tanaman liar belaka. Daun Lenglengan, namanya. Iwong googling, dan ia menemukan penyebutan lain bagi daun itu.
“Anjrit, sebutannya juga ‘daun setan’, ngeri amat,” Iwong bilang, setelah itu mungkin dia bisa seperti tokoh Luffy di serial anime One Piece. Entahlah, aku tidak mengikuti serial itu.
Amada kemudian tanya pada Iwong, apa mau dicari sekarang daunnya? Boleh, kata Iwong dengan semangat. Ia sudah kadung jengkel dengan sakit giginya itu. Berangkatlah mereka berdua entah ke mana. Dan beberapa menit kemudian, mereka datang dengan membawa sejenis tumbuhan dan sebungkus garam. Tipe tanaman itu mirip dengan gulma-gulma yang bisa kau temui di pinggir-pinggir jalan atau di pinggir sawah. Sementara, “mi ayam sedekah” jatah kami sudah tandas. Jatah Iwong yang belum dihajar.
“Bahkan saat sapi makan daun ini, bisa lemes itu sapi, hilang tenaga.” Armada menjelaskan.
Selanjutnya Iwong diajak Armada ke sebelah timur lapak. Di sanalah Armada mempraktikkan ketabibannya; daun yang dinamakan lenglengan tadi dipetiknya satu-satu, dan setelah dicampurkannya dengan garam (garam jenis grosok, menurut Armada), dihaluskanlah daun-daun itu dengan cara digosok-gosok pakai kedua tangannya hingga menghalus dan berair.
Setelahnya, barulah ramuan itu dibalurkan di area pipi Iwong sebelah kanan. Ini tidak sekadar balur, ada alur-alur tertentu yang harus dipijit-usap; jika yang sakit gigi bagian bawah, demikian jika aku tidak salah ingat, maka alur usapnya begini. Dan jika gigi bagian atas, maka alurnya begitu.
Tentu saja alur persisnya tidak bisa kujelaskan di sini. Selain karena ilmu rahasia, menjelaskannya dengan bahasa tulis juga agak rumit. Lebih baik bertatap muka untuk pelajari ilmu-ilmu semacam ini.
Serampungnya ritual mereka berdua itu, rahang Iwong sebelah kanan berwarna hijau seperti Hulk. Reaksi pada Iwong ternyata lebih dari dua menit, dan efeknya ternyata cukup manjur. Nyeri dan sakitnya hilang, tinggal rasa nyut-nyutan yang masih ada, itu pun hanya kecil. Maka malam itu, Iwong tidak diteror kegagalan untuk menyantap “mi ayam sedekah”, ia bisa menggasak semangkuk penuh dan udat-udut dengan kami seperti knalpot.
“Itu tadi ada rapalannya, bapakku yang punya, kalau mau datang saja ke rumah,” kata Armada menjelaskan cara-cara atau langkah-langkah pengobatan setelah ditanyakan Iwong. Tapi katanya lagi, itu cuma permainan afirmasi atau sugesti semata. Jika sudah yakin mantap, tanpa rapalan atau jampi-jampi sepertinya bisa-bisa saja. Kami lihat wajah Gita, dan seperti biasa, wajahnya sinis dan skeptis saat mendengar cerita-cerita yang bertolak belakang dengan rasionalitas dalam kepalanya. Kami sempat saling pandang, sebelum geli tertawa. Menertawakan sikap skeptis--atau bisa jadi keluguan--Gita.













