Beberapa hari terakhir kucing oren kecil ini menarik perhatianku. Dia dan keluarganya adalah penghuni area kosan ini. Kosan cluster berjajar yang berisi 18 kamar dengan satu pintu gerbang berwarna hijau. Hampir sembilan bulan aku tinggal di kosan ini, selama itu pula lah aku mengenal keluarga kucing ini.
Ibu dan bapak keluarga kucing ini berwarna putih-oranye. Saat aku pertama kali datang, si ibu sedang hamil besar dan tak lama keluarlah tiga anak kecil lucu. Anak pertama putih-oranye persis seperti ibu-bapaknya, anak kedua mempunyai tiga warna dengan tambahan motif hitam dan yang terakhir full oranye.
Sering kulihat mereka jalan bersama atau sekedar rebahan di teras salah satu kamar, sedang sang ibu menyusui tiga anaknya. Seperti kebanyakan anak kecil yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, mereka berlarian disekitaran kosan bermain di teras dari satu pintu ke pintu lainnya. Begitu setiap harinya. Sering ku perhatikan sang ibu berbaring tenang sambil menjaga anak-anaknya yang sedang berlarian. Dari ketiga anak ini kuperhatikan si full oranye adalah anak yang paling ikut-ikutan dan sedikit penakut tipikal anak bungsu pada umumnya, sedangkan kedua saudaranya lebih aktif dan paling berinisiatif membuat keributan.
Hari berlalu hingga suatu hari kulihat si anak putih-oranye tidak terlihat lagi. Sang bapak pun sudah jarang terlihat, hanya sesekali berkunjung ke area kosan lalu berlalu. Selang beberapa minggu si ibu pun ikut menghilang. Tersisa dua anak kecil lincah dengan badan kurus dan berlarian setiap hari.
Tidak seperti kamar lain, kamarku adalah satu-satunya kamar yang setiap harinya tidak pernah menutup jendela. Kupikir ini Karawang, jika kututup pintu jendelaku saat aku pulang kerja nanti akan sangat pengap ketika pintu dibuka. Kubiarkan jendelaku terbuka sepanjang hari. Disaat itulah anak kecil dengan motif hitam pertama kali loncat menaiki jendela lalu si full oranye melihat aksi itu dan ikut mencoba. Beberapa kali ku pergoki dua anak ini tertidur dibalik jendela.
Sampai suatu hari kupergoki anak kecil ini sendirian dengan mata berair seperti menangis. Dia berkeliaran sambil mengeong. Dia ditinggal saudaranya yang entah kemana.
Beberapa hari sejak saudaranya si motif hitam menghilang dia selalu tidur dibalik jendela kamarku. Sendirian. Mengendap-ngendap melompat masuk melalui sela-sela saat aku tertidur. Suatu malam pernah kukira binatang seperti ular atau apapun itu karna aku tidak melihat saat dia melompat, kadang dia lari begitu tirai kukibas. Padahal aku tidak pernah merasa keberatan dia tidur di atas kardus dibalik jendela kamarku ini. Malah aku merasa iba, anak kecil sebatang kara di tengah malam harus mencari tempat untuk tidur.
Melihat anak kecil ini dengan mata sayu tidak tau apa yang terjadi dengan keluarganya, mencoba bertahan hidup menunggu sisa makanan dari penghuni kosan.
Dia sendiri, kesepian, tidak tahu harus apa. Semakin hari setiap aku kontak mata dengan anak ini hatiku luluh. Melihat dia yang sendirian dan kesepian seperti aku melihat diriku sendiri di kota ini. Kota yang gersang, panas, berdebu, suhu harian yang mencapai 41° sangat tidak cocok untukku yang berasal dari kota paling sejuk.
Aku mengizinkan dia keluar masuk kamarku, ada hari-hari kubeli kepala ayam goreng untuk anak ini. Ada juga hari-hari disaat aku sibuk bekerja dan mengabaikannya.
Sering anak ini mengikutiku saat aku pergi ke warung atau sekedar buang sampah ke bak depan pagar. Tak jarang juga saat aku pulang kerja dia mengikuti langkahku menungguku dari balik gerbang.
Anak ini seperti seseorang yang datang menghiburku disaat-saat terburukku. Dia duduk memandangku semalaman, kadang dia duduk di teras atau di kamar sebrang dan melihat ke arahku.
Terkadang kamu melihat dirimu bercermin dari seekor anak kucing. Mungkin bukan manusia, tapi setidaknya kamu tidak merasa benar-benar sepi lagi.