Jadi akhir-akhir ini sedang (sok) sibuk ngurus perpanjangan STR yang peraturan barunya harus mengikuti MU terlebih dahulu. Pas tanya-tanya sama bidan desa, kebetulan beliau menjabat ketua IBI ranting bergas. Alhamdulillah.. Sebenarnya bingung antara mau bersyukur atau kaget atau mengeluh karena setelah dapat informasi gamblang tapi super ribet. Hmm...
Lupakan sejenak tentang perjalanan STR ku. Yang ingin ku bagikan yaitu.. setelah beberapa kali kontak dengan bu bidan desa, aku malah ditunjuk jadi korlap bergas 2 karena anggota ibi ranting bergas membludak. Ahahahaa.. Alhamdulillaah ya, desaku memang joss. Wkwkwk.
Tau ndak, ditunjuknya via Wa dan esok paginya langsung rapat korlap ibi se-Kabupaten Semarang. Jangan ngiri lho ya, aku gitu ! Hahaha. Gunakan kesombongan sekarang juga karena jangan harap besok-besok bisa ketawa puas macam begitu. Karena pasti besok kerjaan menumpuk. Karena untuk kepengurusan tahun depan, masih harus pikir ulang mau join lagi apa ndak. Mengingat beberapa project pribadi yang sedang on going, semoga project-project ke depan selalu diridhoi Allah. Aaamiin.
Etapi, etapi.. Project ibi ini sebenarnya penting juga. Di sana aku bisa punya harapan. Ku niatkan berdedikasi yang terbaik untuk organisasi profesiku, karena melalui tangan-tangan mereka setiap nyawa dan kehidupan baru akan hadir di tengah-tengah kita. Aku mungkin telah teledor waktu hamil Afka. Aku mungkin telah melakukan macam-macam kesalahan waktu Afka masih ditangani di RSUP Karyadi. Tapi melalui ibi, aku mencoba membantu teman-teman seprofesi supaya tidak lelah untuk memberi pelayanan yang terbaik dan optimal. Bukan bantuan yang banyak tapi semoga dengan hadir di antara mereka, aku bisa meringankan beberapa tugas.
Kalian yang seprofesi pasti paham nasib profesi sekarang ini. Ndak usahlah aku ceritakan panjang lebar gimana capeknya nemenin buibu inpartu, repot dan senam jantung kalo pas ngerujuk, bermalam-malam buat laporan ini itu, belum lagi entah kenapa untuk memberi pelayanan saja, kami para bidan dipersempit ruang geraknya. Hmm.. Sebenarnya masalah ini sangat tergantung bagaimana si bidan memandang profesinya sendiri.
Era sudah begitu jauh berevolusi. Jika memang niatmu tulus dari hati maka tak kan ada yang berhasil menghalangi pekerjaan muliamu. Ada gosip jelek yang sering berkeliaran di telinga kami bahwa para dsog suka cemburu kalau lihat bidan-bidan yang sukses dan rejekinya melimpah.
Duh, dok.. kan itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Lagian rejeki orang sudah ada yang ngatur ! Sebuah hasil ndak akan jauh dari seberapa besar usaha yang dilakukan. Maaf banget ya, Dok.. Maaf ni, kalau kami mengurus orang itu dari ruangan bersih sampai ruangan bersih lagi. Semua itu kami kerjakan SENDIRI. Pan bedha sama dokter, hehe.
Dari kesenjangan itulah kemudian muncul desas desus dari mana semua ini (semakin sempitnya lahan bidan) berasal. Bidan ndak boleh ini, ndak boleh itu. Bidan harus begini, harus begitu. Ya, kami nurut. Besok apalagi? Ndak boleh bantu persalinan? Ndak boleh periksa bumil? Oke. Kerjaan kami jadi ringan malah.
Teman-teman sejawat, sudah. Sudah saatnya berhenti mengeluh. Sudah saatnya kita cuci mata dari yang awalnya hanya memusingkan masalah yang itu-itu saja. Cobalah tengok, dunia masih luas. Takdir akan berpihak pada mereka yang tak lelah belajar, berjuang dan berdoa. Tugas kita masih banyak. Intinya jualan jasa kan, nah.. Ayo, saatnya bidan berkibar lagi. Buka mata, buka pikiran, buka hati. Semangat sehatkan ibu negri !