RIP DEMOKRASI
Indonesia patut berduka, hari ini RUU Pilkada oleh DPRD disahkan.
Tahun 1998, orang-orang hebat berperang melawan pemimpin tiran kala itu demi lahirnya demokrasi di Indonesia. Mereka berjuang hingga suara mereka habis, sampai butiran peluh berwarna merah dan berbau anyir. Banyak dari mereka yang gugur, beberapa lainnya hilang tanpa jejak.
"Kalo masih hidup dimana rimbanya? Kalo sudah mati dimana jasadnya?"
Belum lagi habis perkara kemanusiaan di tahun itu, kini oknum-oknum bertangan dingin itu kembali menunjukkan taring mereka. Mereka merancangkan sebuah undang-undang yang kembali merenggut hak rakyat: Pemilihan Kepala Daerah oleh DPRD. Salah satu dari mereka adalah salah satu oknum yang dituduh bersalah untuk kasus hilangnya beberapa aktifis '98. Biarpun terbukti bertanggungjawab, orang itu masih bebas berkeliaran, bahkan sampai mencalonkan diri untuk menjadi presiden NKRI. GILA! Ketika kalah dia dan koalisi taik kucingnya membuat manuver baru, merancangkan UU Pilkada yang dipilih dari DPRD. Tahu bahwa akan sulit bagi dia dan koleganya untuk mendapatkan suara rakyat, mereka pun merenggut hak bersuara kita. Tapi sedikitnya kita patut bersyukur, saat Pilpres kemarin bukan orang itu yang dipilih. Lihat bagaimana dia masih mampu menyetir pemerintahan kita menjadi seturut kehendaknya -mengembalikannya pada jaman Soeharto, mengikat mati demokrasi kita. Bagaimana jika dia naik menjadi RI 1?
Inilah Indonesia dengan segala cacat di pemerintahannya. Pemerintah kami bukan cuma hebat dalam urusan mengenyangkan perut sendiri, mereka juga ahli menjilat ludah sendiri. Lihat bagaimana SBY bersikap saat sidang RUU. PAdahal partai yang diusungnya, Demokrat, dulu menggembar-gemborkan demokrasi. Kenapa, Pak? Kenapa lupa kalo dulu rakyat lah yang memilih Bapak? Kenapa sekarang hak kami ditelan mentah-mentah? Kenapa? Karena tahu kalo sekarang Bapak tak lagi mendapat simpati rakyat? Bukankah Demokrat itu asalnya dari kata DEMOKRASI? Apakah Bapak tidak merasa malu?
Susah memang kalo punya presiden cuma jago bikin lagu dan nulis buku. Ketika dihadapkan pada hal penting yang berkaitan dengan masa depan rakyat dia dan buntutnya hanya bisa "Netral."
Biarlah mereka dengan segala akal-akalannya meninggikan diri mereka sendiri di atas NKRI kita, tapi kemerdekaan yang sejak dulu diperjuangkan para pahlawan harus tetap kokoh. Kita tidak akan menjadi takut dan gentar menghadapi mereka, kemerdekaan dalam segala hal harus tetap ditegakkan di bumi pertiwi. Kalo enggak, apa arti dari 17 Agustus dielu-elukan? Bukan rakyat yang harus takut pada pemerintah, pemerintah yang harus tunduk pada rakyatnya. Sekali lagi ... Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat. Yang coba mengusik kemerdekaan rakyat KITA BIKIN RAME!
















