Hari ini, aku berkunjung ke Solidaritas Perempuan Kinasih (@sp_kinasihyogyakarta) untuk bertemu Mbak Sana & Mbak Ning. Solidaritas Perempuan Kinasih sendiri telah berdiri di Indonesia selama 27 tahun, dan merupakan organisasi feminis terlama setelah Gerwani. SP Kinasih menyebut diri mereka sebagai organisasi feminis dan bukan organisasi perempuan, karena didalamnya mereka bekerjasama dengan laki-laki yang berpandangan feminis juga. Aku mendengar & belajar banyak dari Mbak Sana. Baginya, Feminis merupakan sebutan bagi orang-orang yang berjuang & mendedikasikan diri mereka utk keadilan perempuan. Dan menjadi feminis, berarti sama dengan menjadi manusia yang humanis. Sebagai contoh, apabila kamu melihat seorang perempuan yang mendapat ketidakadilan dalam sebuah hubungan, kemudian kamu menolong perempuan tersebut, maka kamu telah melakukan hal-hal yang bersifat feminisme. Tidak hanya itu, SP Kinasih juga memiliki beberapa fokus kampanye yaitu : lahan, pangan, penguatan organisasi, dan seksualitas. Mereka bekerja dengan petani-petani dan ingin agar negara mampu menjamin kearifan pangan yang berotoritas perempuan. Sebab, ibarat bumi adalah tubuh maka tanah adalah rahim. Dari rahim itulah generasi-generasi baru diciptakan. Pohon, tetanaman, lingkungan yg sehat, dan juga anak-anak. Mengambil tanah yang benihnya dipilih dan diolah oleh perempuan, sama saja dengan mengambil rahim mereka dan keberlanjutan generasi. Obrolan kami pun berlanjut seputar seksualitas. Bagi SP Kinasih, perempuan-perempuan memiliki hak untuk bebas memilih identitas seksual & memilih tafsir agama berdasarkan otoritasnya. Sehingga mereka mampu keluar dari aspek-aspek klasik agama yang mendiskreditkan peran perempuan. Terima kasih untuk segala kerendahan hati dan ilmunya yang bermanfaat, Mbak Sana & Mbak Ning @sp_kinasihyogyakarta ✨