@adreseclate #drawing #paint #posca #canva #illustration #detail #dessin #toile #lespiegle #ginkgobiloba #sneaker #ketje
seen from Germany
seen from Türkiye
seen from Russia

seen from Netherlands

seen from China

seen from T1
seen from Türkiye

seen from Australia
seen from Poland

seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United States

seen from Australia

seen from Australia
seen from United States
seen from Morocco
seen from Russia

seen from United States
seen from China
@adreseclate #drawing #paint #posca #canva #illustration #detail #dessin #toile #lespiegle #ginkgobiloba #sneaker #ketje

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Nemu ini @iyoutomo! #memble #tapi #ketje #certified
Inspirator Ketje 2 Bulanan, Yeay!!!
Inspirator Ketje 2 Bulanan, Yeay!!!
Dua bulan berada dalam sebuah grup absurd yang gak pernah ketulungan gilanya. Karos, Bebwid, Dean, Wiol, Kacha, Kamay, Didut, Masija, Kapaz, Yangran, dan saya sendiri. Sebelas orang yang kalau chat di grup kebanyakan gak pentingnya, cuma baper-baperan, ceng-cengan, usil-usilan, norak-norakan, aneh-anehan, banyak dah. Tapi gak tahu kenapa orang-orang kayak mereka ya kok selalu bikin kangen aja ya…
View On WordPress
Magetan-Malang, 9 Juli 2014
Hari ini, hari yang (tak) biasa. Betapa senang, akhirnya diijinkan untuk kembali ke kota yang ketika ditinggalkan beberapa hari lalu memang sudah ada niat untuk kembali. Kala itu, sedikit berat untuk meninggalkan saudara-saudara ketje. Namun, sangat bersuka cita untuk mengalunkan kaki mendatangi tanah kelahiran, terlebih bertemu dengan orang-orang terkasih di sana.
Sungguh, ini yang ditunggu. Setelah menunaikan hak suara, kaki berjalan beriring bersama Ibu Bapak. Yak! Malang adalah tujuan. Sempat gundah ketika angkutan umum tak kunjung kelihatan. Hanya saja diri ini berprasangka semoga bapak sopir sedang mencoblos (#1) sehingga menunda melaju bersama teman baiknya.
Kejadian yang sesekali membuat bibir ini merekah, atau sekedar mengernyitkan dahi. Dua sosok anak kecil, laki-laki dan perempuan. Dua bocah yang tak kulihat rupanya, namun kudengar ucapnya. Dua polos ini bercengkrama, tentang berbagai hal yang mereka pandang ketika bus melaju membersamai mereka. Tentang layang-layang, nampaknya mereka menyukainya. Yang tak sekali dua kali mereka heboh dengan kemunculannya di sepanjang jalan. Si bocah laki nyeletuk, “Layang-layange ga enek sing dodol. Dicolong.” Si putri menimpali, “Ga oleh nyolong lho.” Bibir ini merekah lagi. Si putra menjawab lagi, “Gratis.” Tentang tanah yang terhampar mereka berucap, “Lemahe alus, ombo. Kenek dinggo pit-pitan.” Ada lagi mereka berujar tentang cublub, si anak perempuan tak paham apa itu cublub, sampai sang orang tua menjelaskan. Sungguh, mungkin tulisan ini tak mampu menggambarkan betapa akrabnya mereka. Belakangan ku ketahui mereka belum saling mengenal, baru bertemu di tempat saat itu, ya di bus.
Ditambah lagi, betapa senangnya hati. Ketika melihat berbagai orang dengan warna biru/ungu di kelingkingnya. Bukan karena gosong terjepit pintu. Sungguh, bukan. Hanya karena jari itu telah tercelup tinta tanda sudah menunaikan hak suara.
Sepanjang perjalanan hanya berharap bisa sampai di Malang lebih cepat. Ketika masuk sebuah bus jurusan Surabaya, ada sedikit rasa senang tak mendapat tempat duduk dan hanya bisa duduk di tempat kosong bagian depan, samping sopir. Bukan apa-apa, hanya saja ada harapan untuk tidak tidur di dalam bus. Karena, bukan sekali dua kali, aku yang kerap tertidur ketika perjalanan dan akhirnya bangun ketika tempat yang seharusnya aku turun di situ sudah terlewat.
Ketika sampai di Caruban, tetiba si kondektur bertanya, “Turun mana mbak?”
“Jombang.” Jawabku.
Dan ternyata beliau mempersilakan untuk duduk di bangku yang kini telah kosong. Ada rasa khawatir ketika menenteng tas menghampiri tempat duduk itu. Lagi-lagi, aku khawatir tertidur. Aku tak mau. Sebab, kalau saja aku kebablasan sampai ke Surabaya, tak mungkin aku sampai di Malang lebih cepat.
Satu setengah jam berlalu, aku berkata dalam hati, “Satu setengah jam kuat kok, satu setengah jam lagi harus kuat.” Kupikir, aku tak boleh tertidur saat Magetan-Jombang, namun jika terpaksa tak apa aku tertidur Jombang-Malang, sebab tak akan kebablasan :D Tapi ternyata tak kunjung bisa tidur juga.
Alhamdulillah, jam 15.15 sampai di terminal. Mata tertuju pada angkot yang bertuliskan LDG. Berharap bisa memandang Alun-alun Malang dengan segera. Sekitar 15.30 ku sampai di Alun-alun itu. Ku tengok kanan-kiri, berusaha menemukan Xbanner atau spanduk biru putih. Kaki melangkah mengikuti perintah hati. Menyusuri jalanan kecil bawah pohon, hingga yang kutemuai baru para penjual yang menjemput rupiah. Dan akhirnya. Yeah! Dari kejauhanan kulihat spanduk itu. Tak salah lagi. Kaki bergegas menghampiri. Sudah cukup dalam rasa bersalah itu menghantui. Dan hanya hati ini yang mengerti.
Hati ini telah merindu saudara-saudara ketje. Masya Allah! Ku dapati saudara-saudara ketje ku membersamai anak-anak kecil yang gelak tawa riangnya memenuhi suasana hati. Kudapati mereka tengah bermain mengikuti ajakan. Bermain, belajar, berkompetisi, menyelami kehidupan. Kuharap #KebaikanKecil saudara-saudara ketje ku ini membekas di hatimu.
Sesering hati gundah gulana. Ah, apa yang sudah kuberikan? Yang sejauh ini banyak kali hanya bisa berucap “Semangat!”. Sungguh, tak ada niat untuk lari. Rasa cemas itu tak berhenti menghantui.
Sore ini, berarti. Yang aku semakin mengenali. Sabar dan syukur beriringan kupelajari lagi. 19.30 ku membuka pintu rumah yang 3 tahun ini menjadi tempat ku meletakkan sedikit lelah. Berharap seminggu kedepan berjalan lembut dan memberi arti pada saudara-saudara ketje ku. Aku mengagumimu :’)
Kalian istimewa :))
Hanya saja ada sedikit rasa yang tak mudah diberi arti.