Keping #1
“Gunungkidul lagi?”
Sebelum proposal penelitianya diserahkan, jalanan berkelok yang damai dengan jajaran pohon jati tidak lepas sedikit pun dari bayangannya. Otomatis memudar setelah mendengar pertanyaan Pak Bari.Â
Beliau, calon dosen pembimbing idaman anak geo, seolah bosan karena lagi-lagi wilayah itu yang dipilih.
“Kan kata bapak harus bareng-bareng.”
Gaia ingin memperjuangkan pilihannya. Ia yakin tak mungkin satu orang mengambil satu wilayah penelitian.
“Bareng Doni juga, maksudnya.” Pak Bari tersenyum meledek.
“Enggak, Pak, beneran deh.”
“Iya juga nggakpapa, masih satu kecamatan kan ini lokasinya.”
“Ma-sih-sih, Pak. Tapi kan bareng yang lain juga.”
“Iya iya.”
Pak Bari memutar kursinya, mengambil bolpoin merah dan mulai membubuhkan garis-garis, lingkaran dan tanda tanya di proposal penelitian Gaia.
Mulai serius nih. Pikirnya.
“Kenapa harus disini?”
“Karena di sana terdapat banyak mata air. Beberapa ada yang berisiko meluap saat hujan lebat. Jadi saya ingin tahu perbedaan sensitivitas mata air di daerah itu.
“Sensitivitas?”
“Iya.”
“Kenapa nggak karakteristik aja?”
“Mmm…”
“Gini aja, coba cari tahu dulu mau pakai sensitivitas apa karakteristik.”
“Baik, Pak.”
“Latar belakang...”
Baru judul aja sudah gak bisa nyanggah. Gaia kamu serius nih ambil ini.
Pak Bari melanjutkan, “Kurang spesifik sih alasannya. Apa iya mata air di sana melebar begitu saja?” Garis merah. “Ada rembesan atau jebolan tidak di sekitar wilayah itu.” Tanda tanya merah. “Coba cari tambahan informasi atau jurnal bencana tentang kasus serupa. Jadi buat alasan yang lebih kuat untuk meneliti topik karakteristik mata air ini. Terlebih... kalau ada lokasi penelitian yang belum pernah atau jarang diteliti.”
Gaia menggigit bibirnya.
“Kalian sudah survei?”
“Belum, Pak.”
“Survei dulu dong.”
“Kan belum di-acc proposalnya, Pak.”
“Justru itu, survei dulu akan membuat proposal lebih matang.”
“Iya sih, Pak. Habisnya dateline dari jurusan kok di tengah sks yang masih padat gini.”
“Siapa suruh masuk geo.”
Gaia diam. Kalah sanggahan lagi.
“Jadi nggak di-acc ya, Pak?”
“Survei dulu aja.”
“Nanti kalau saya dapet pembimbingnya bukan Bapak gimana?”
“Ya, nggakpapa, to?”
“Yaaah.” Gaia pasrah.
“Yaudah,” Pak Bari kembali membuka lembar cover, kemudian mengambil bolpoin hitam dari sakunya, menuliskan tanggal hari ini, tanda tangan dan tulisan “acc”.
Gaia melongo. Pak Bari meringis.
“Tetap saya mau tahu kabar survei dari kalian. Dan ingat kalau judul, lokasi, metode bisa berubah sesuai kondisi pasca survei ya.”
“Oooh, begitu ya, Pak?”
Pak Bari mengangguk. “Jadi yang di-acc adalah rencana penelitian kamu. Dari latar belakang dan permasalahan ini, saya udah paham. Cuma kurang bumbu aja. Nanti baru rumusan masalah, tujuan, dan manfaat menyesuaikan.”
“Termasuk metodenya juga, Pak?”
“Untuk metode yang mau digunakan, lokasi, itu baru terjawab setelah beberapa kali survei. Berpotensi tidak lokasinya untuk diteliti, sesuai tidak kondisinya dengan yang ada di jurnal atau informasi bencana, memenuhi syarat tidak untuk metode A, B, C. Jadi harus seimbang antara informasi survei sama kajian pustaka.”
“Baik, Pak.” Gaia menelan ludah.
“Oiya, jangan lupa kalau survei cari tahu juga tentang izin penelitian di wilayah itu.”
Sumber Gambar : https://pin.it/5Lxgzyv














