Karena ada kepentingan maka pasti ada yang diusahakan, betul kan ya?
Kalau beda kepentingannya maka pasti ada perbedaan, bener kan ya?
Kalau ada perbedaan kenapa susah disatukan? Ini salah kan ya?
Hehe, 3 pertanyaan di atas hanya kalimat tanya yang dipaksakan karena pemilihan kata ya.
Walau bukan hal yang baru, tetapi kenapa selalu tidak bisa tenang dan adaptasi cepat di tengah kondisi perubahan dan pergantian posisi jabatan tertentu.
Kalau misal yang lain fokus 2024, di sini mah sejak tahun ini banyak yang harus ganti. Misalnya posisi koordinator program studi.
Hahaha, iya saya targetnya, entah jadi subyek atau obyek sih tepatnya. Saya sudah merasakan proses jadi korprodi sejak Nov 2019 sampai selesai masanya di Nov 2022 kemarin lalu diangkat jadi Plt sampai terpilih koprodi definitif.
Keputusan akhirnya saya maju lagi di event 4 tahun an, periode 2023 - 2017, lalu hasilnya terpilih lagi. Tahu ga kenapa, ya karena ada kepentingan. Walau mindset udah lumayan berubah, niat juga makin progresif. Kalau pas 2019 visi misinya ke arah akreditasi 2022 karena habis masanya, dan alhamdulillah tuntas dapat nilai SANGAT BAIK dan poin 348 (ih kurang 13 poin buat UNGGUL, keren kan ^_^). Capaian ini yang membuat saya bersyukur. Alhamdulillah, selama 3 tahun itu semua pihak bisa mendukung, konflik dan masalah bisa diatasi, pimpinan yang baik dan mendukung. Intinya fase sempurna untuk meraih capaian yang terbaik, walau banyak kekurangan yang belum bisa dipenuhi di beberapa aspek.
Periode ini niatnya mau lanjut sekolah, bukan karena iri lihat temen2 yang background fotonya ga editan tapi asli berada di belahan bumi lain, atau bukan karena pingin kabur dari kerjaan administratif atau capek jadi customer service tiap hari. Niatnya ya pingin belajar lagi jadi lebih baik, merasa banget masih jauh sekali updatenya belum sempet. Cuma karena ada prioritas dan kepentingan yang lebih besar jadinya harus menata lagi, menyusun kesiapan diri agar bisa tepat pada waktunya.
Sebenarnya tadi di awal maunya nulis tentang bagaimana caranya menyamakan persepsi untuk sepakat memilih prioritas yang lebih besar dan berharga, tidak hanya dinilai di dunia tapi di akhirat. Politik kampus ternyata tidak berakhir di tataran mahasiswa tiap tahun milih ketua himpunan, lembaga eksekutif dan legislatif mahasiswa. Lebih panas lagi kalau sudah di level atasnya. Hehe, ternyata dosen juga masuk di putaran ini, kadang mikir kok ya sempet, eh ternyata memang ada yang suka. Hehe, beneran njomplang, sebagai kaprodi muda yang sangat dedikasi gini kali ya fokusnya yang dipikirkan gimana IKU 1 tercapai, alumni bekerja sebelum 6 bulan dengan pendapatan yang sesuai. Lanjut mundur selangkah, mikir gimana biar 50% mahasiswa lulus tepat waktu. Napas bentar, mikir gimana IKU 2 yang MBKM dan prestasi. Minum dulu, eh kepikiran konversi mata kuliahnya masih jadi bahasan dosen. Ya weslah, dijalani aja dengan sekuatnya.
Karena ada kepentingan, judul tulisan ini bisa beragam maknanya. Kalimat itu bisa diarahkan ke positif dan negatif, tergantung yang ngomong dan tergantung tujuannya kemana. Jadi sedih saja, di saat merasa kita ga mau ikutan, kepentingannya maka cari aman, ya diem. Tapi saat yang lain tidak melihat gitu, jadi muter urusannya, dicapnya apatis, ga peduli dan ga kompak. Padahal semua kan kita punya hak suara, mau diam atau bersuara ya. Wkwkwk, kadang gemes sih. Kebalikannya, saat kita merasa harus lantang nih, karena udah besar scope dan manfaatnya, eh kalimat tadi dipakai buat nyindir, ya karena ada kepentingan nih. Ya Allah, memang manusia unik dengan beragam sifat dan karakternya.
Kadang karena di sini ga banyak teman saya, jadi nyaman aja nulis panjang gini. Jadi pingin gitu, kalau ada di tempat lain konflik serupa menjelang kontestasi politik, biar tetap damai sejahtera gimana.
Makasih mau baca curcol ini.