Catatan Harian : Hidup yang Menghidupkan
Sudah lima belas hari kami disini. Di tempat yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya. Hanya sebuah desa kecil di kota Temanggung, Jawa Tengah. Sebuah desa yang menyimpan banyak nilai hidup, sarat akan makna dan kearifan lokal, dan tentunya, pembelajaran.
Sudah lima belas hari kami bagun pagi ditemani dengan riuhnya suara burung atau suara dedaunan yang saling bersentuhan karena angin. Bekerja dalam tim, baik dalam tugas rumah maupun pekerjaan. Duduk bersama di atas tikar anyam sederhana, sambil menikmati segelas teh hangat yang sesekali ditemani gorengan. Berbincang tentang banyak hal, bererita tentang berbagai pengalaman dan tujuan. Menemukan keluarga baru. Bertemu dengan tetangga-tetangga, mendengarkan kata "Monggo pinarak rumiyin" hampir di setiap rumah yang kami lalui.
Lima belas hari yang penuh kejutan, setiap harinya. Selalu ada pelajaran hidup di setiap perjalanannya.
Anak-anak yang selalu datang meramaikan homestay tepat pukul sebelas, merengek minta belajar bahasa inggris, lalu menggambar, lalu ini dan itu. Berbincang santai dengan warga desa dengan bahasa jawa seadanya, sesekali tertawa karena sungguh tak kami mengerti maknanya. Informasi yang amat cepat tersebar ke seluruh dusun, seperti dedaunan pun ikut berbicara. Ibu-ibu lanjut usia yang masih sering melintasi depan pekarangan homestay sambil membawa tumpukan rerumputan atau kayu bakar di punggungnya. Meski terlihat lelah, tak pernah mereka lupa tersenyum dan menyapa kami yang belum tentu juga sudah dikenalnya. Khas sekali.
Kehangatan dan sorak sorai Upacara Nyadran setiap setahun sekali untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan, tidak pernah saya temukan sebelumnya, tidak juga di kota. Dinamika kehidupan desa yang luar biasa, meski penuh akan keramahan, kesederhanaan, dan kebersahajaan, konflik dan permasalahan tetaplah ada. Namun semuanya justru menjadi pembelajaran berharga.
Kami belajar dari apa saja, dari mana saja. Dari corak jamur yang menempel pada pepohonan, tumpukan jerami yang ada pada setiap sawah, kandang kambing, atau seorang bocah lanang yang kami temui di pinggir jalan. Memahami secara utuh tentang kecerdasan dan peradaban manusia yang terliput dalam budaya dan artefak yang ada. Hidup dan berdamai bersama alam. Merasa kerdil ketika kita sadar bahwa sesungguhnya alam mengajarkan kita berbagai hal. Selama ini, kemana saja kita yang mereka sebut sebagai "orang kota"?
Terlalu banyak yang ingin diceritakan. Terlalu banyak pembelajaran yang sesungguhnya ingin kami bagikan.
Sungguh, kembalilah ke desa bila kau ingin menemukan hidup yang lebih bersahaja. Akan banyak hal yang kau temukan, akan banyak hal yang membuatmu sadar tentang banyak hal. Akan terasa seberapa peka kah diri dan hati terhadap alam dan manusia. Belajar menjadi manusia yang sesungguhnya, memahami manusia seutuhnya. Bahkan, setelah lima belas hari berada disini, saya sampai berpikir ulang tentang hidup saya setelah lulus nanti. Cita-cita untuk menjadi dosen seakan terhisap indahnya ketulusan dan kesederhanaan hidup di desa.
"Saya ingin menjadi guru SD di desa."
Inilah hidup yang sebenarnya kita butuhkan. Hidup yang menghidupkan.
Desa Kelingan, Temanggung 14 Juni 2014 Dicatat oleh seseorang yang baru saja mengetahui arti pengabdian yang sesungguhnya. Salam hangat dari desa, Jamika Nasaputra











