USAI
Semua masih sama saat kukira dapat berlalu begitu saja. Aku masih saja mengenang, sementara mungkin di hati dan kepalamu tak ada aku lagi meski hanya sekedar bayang. Aku masih payah sayang, mengusir segala tentang indah dan kurangmu. Yang lagi-lagi jadi bumerang bagi diriku sendiri.
Luka. Dulu aku anggap itu sebuah konsekuensi dari jatuh cinta. Yang dapat sembuh dan hilang dengan mudahnya saat kita telah terbiasa. Tapi ternyata luka itu menjelma benalu yang tak mau pergi. Kadang berubah pisau yang menguliti tanpa ampun meski aku telah meronta dan meminta tolong. Terlebih; aku baru sadar cinta yang begitu besar melahirkan luka yang sebanding pula.
Aku masih mengais sisa senyum yang tak sengaja kau tinggalkan sebelum benar-benar pulang. Sisa peluk yang kau sampirkan sesaat sebelum langkahmu mantap meninggalkan. Aku gugup. Perihal kesepian aku belum terlalu akrab dengannya. Dunia yang kau berikan terlalu ramai. Terlalu bising. Terlalu berwarna untuk tiba-tiba harus beralih ke abu-abu dan hitam.
Kau masih jadi peluk yang kudamba. Kau masih jadi dunia yang ingin kutuju saat aku lelah. Kau masih jadi sabar untuk keras kepalaku. Kau masih jadi pengertian untuk aku yang tak sabaran. Kau masih jadi telinga yang setia mendengar celoteh tak pentingku. Kau masih jadi teduh untuk amarahku. Kau masih.. ingin aku jadikan rumah untuk pulangku.
Namun, sayang, kau ingkar. Kau mendadak hilang dan membiarkan aku tersesat sendirian.
Kau hilang, dan aku kepayahan. Kau hilang tanpa berpamitan.
@kata_puisii












