JITRU (01)
Barangkali saat ini menjadi waktu yang paling ditunggu Rena, menghabiskan waktu akhir pekannya dengan orang yang selalu mengisi pikirannya beberapa bulan ini. Orang itu ialah Arash, Arash Ardinata. Orang yang saat ini berjalan disisinya menyusuri jalanan Cikini. Pundak mereka sesekali saling bersentuhan dan itu membuat Rena susah payah menahan senyuman yang selalu ingin menyembul diwajahnya. Menyukai seorang Arash adalah suatu hal yang konyol, namun sialnya Rena justru terkungkung didalamnya. Tak ada yang tahu perasaan Rena pada Arash karena memang Rena tak menceritakannya kepada siapapun. Sepanjang perjalanan keduanya jarang sekali bicara, sibuk dengan pikirannya masing masing. Rena benci sekali suasana seperti ini, ia ingin sekali bicara tapi otaknya terlalu sibuk memilih kata apa yang akan ia ucapkan. Alhasil Rena hanya bisa memainkan pandangannya pada sekeliling jalan, memandang apapun yang ia lewati hingga Arash mengarahkannya memasuki sebuah kedai kopi.
Keduanya kini menatap daftar menu, seorang pelayan berdiri menunggu dihadapannya. Arash memesan Kopi Robusta dan ia yakin perempuan disampingnya akan memesan Ice blend atau apapun yang bukan kopi.
“Hmm..Kopi robustanya dua deh” Ujar Rena pada pelayan dihadapan mereka.
Arash menoleh kearah Rena, ia lupa bahwa Rena merupakan orang yang tak mudah ditebak.
Mereka duduk berhadapan, Rena menopang dagunya sambil menatap datar Arash didepannya. Bohong! Rena lagi lagi menahan rasa senang di wajahnya. Sungguh! Ini adalah waktu yang paling ia tunggu tunggu. Beberapa menit berlalu hingga kopi robusta panas pun terhidang Rena merutuk dirinya yang lagi lagi tak bisa mengucap sepatah katapun. Sial.
“Gimana kerjaan?” Tanya Arash sambil menuangkan kopi ke cangkir miliknya tanpa melihat kearah Rena.
Rena menyandarkan punggungnya ke kursi dengan malas, kenapa harus pertanyaan itu yang keluar dari mulut Arash? Rena benar benar tidak ingin membicarakan pekerjaannya saat ini.
“biasa aja” Ujar Rena malas. Ia benci membicarakan pekerjaan dengan seorang Arash, hal itu membuatnya kian merasa kecil dihadapan Arash yang selalu memiliki jadwal proyek yang padat.
Arash menyalakan rokoknya, “Biasa gimana?” ujarnya tanpa melepas rokok dari mulutnya.
Gak kayak elu! Sergah Rena dalam hari. “sampe sekarang gue belom dapet proyek yang diluar pulau Jawa” balas Rena malas sambil memegang cangkir yang masih panas dengan kedua tangannya.
“Gue justru kangen ngerjain proyek di Jawa” ujar Arash sambil sesekali nyesap kopinya.
“Terus lo udah kemana aja?”Tanya Rena sambil mengaduk-aduk kopi miliknya
“Aceh, Samarinda, Poso, kemarin baru dari Riau”
Rena benci dengan Arash yang selalu selangkah lebih maju dibandingkan dengannya. Bukan, bukan selangkah lebih maju, tapi berkali-kali lipat lebih maju dibanding Rena. Hal ini membuat Rena semakin kecil jika berhadapan dengan Arash, membuat Rena semakin tidak percaya diri untuk mendapatkan hati Arash.
Rena menganggukan kepalanya, sungguh percakapan tentang pekerjaan sangatlah tidak pas untuk keadaannya saat ini. Ia baru saja resign dari kantor yang telah menghidupinya selama 5 tahun belakangan ini. Rena saat ini adalah Rena yang merupakan seorang pengangguran.
“masih di kantor yang lama?” Tanya Arash
Sial lo Rash! Rena terdiam sebentar. Ia menatap kearah Arash dan menggelengkan kepalanya.
Arash terlihat mengernyitkan dahinya “Kenapa?”
Lagi-lagi Rena terdiam sesaat. “Bosan… Gue gak berkembang disana” Jawab Rena malas sambil menggaruk telinganya yang tidak gatal.
“lo bosan kan gak berarti lo mesti cabut, Ren”
Untuk sekian kalinya Rena terdiam, kembali memikirkan keputusannya itu. Keputusan yang ia lakukan sendiri dan telah menjadi bubur. “Ya... cukup aja. Rash. Mau cari yang beda aja…”
“Lo mau coba apa sekarang?”
HHH. Ia benci dengan segala pertanyaan Arash yang selalu saja mengintimidasi dirinya.
Rena lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
Rena juga benci terlihat tak terarah dihadapan Arash seperti sekarang ini.
Keduanya terdiam sejenak.
“Udah coba apply lagi?” Tanya Arash sedikit memajukan wajahnya kedepan.
Rena menggelengkan kepalanya dengan lemas, “Baru aja keluar kemarin”
Rena melihat Arash kini mengamati dirinya dengan seksama. Sepertinya sebentar lagi ia akan dihujani ceramah oleh Arash seperti biasa.
“Kalau gitu temenin gue jalan-jalan”
Kini giliran Rena yang mengernyitkan dahinya “Loh…”
“Gue lagi kosong, lo juga lagi kosong. Mending jalan-jalan”
“Emang lo gak kerja?”
Arash menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Gue lagi ambil jatah liburan gue”
“Libur lo berapa lama?
“Tiga minggu”
“Mana ada libur 3 minggu ?!?” sergah Rena tak percaya
“Ada, di tempat kerja gue.” Ujarnya sambil tersenyum lebar.
Rena terdiam sambil mengamati raut wajah Arash yang masih tersenyum. “Kok bisa?”
“Bisa, karena gue yang minta” ujar Arash lagi sambil menyeringai.
-----
--To be continued--











