Tepian jalan diseluruh penjuru Kota Sulakambu dipenuhi pohon Mona, daunnya tipis namun tumbuh lebat meneduhkan jalan dibawahnya. Sulakambu bukanlah kota yang ramai, tapi bukan juga kota yang sepi. Sulakambu adalah kota yang tak pernah tidur barang sedetik pun, selalu ada penjaja makanan maupun pejalan kaki yang terus bergulir melewati jalanan setiap waktu. Sulakambu bukan kota yang dihiasi lampu lampu mentereng hingga gedung pencakar langit, hanya ada lampu remang sederhana yang bergelantungan di sepanjang jalanannya. Ada satu hal yang selalu menjadi kebanggaan warga Sulakambu, yakni keberadaan taman kota yang luas, lampu malam yang benderang, dan kejernihan suara angin. Di taman kota itu menjadi tempat dimana warga banyak menghabiskan waktu, anak anak bermain dan mengerjakan tugas dibawah rimbunan pohon Mona, para penjaja makanan berjejer rapih mengikuti lampu taman, orangtua duduk di tepian sungai Mushe, sementara muda mudinya memilih sudut berdekatan dengan kolam ikan. Taman kota juga menjadi tempat favorit Aruna untuk membaca buku pelajarannya, jika cuaca sedang cerah ia bisa menetap hingga seharian. Jarak taman kota dengan rumah Runa tidak jauh, namun juga tak terlalu dekat. Ia biasa menggunakan bus sehari hari yang mengantarkannya dari sekolah yang bersebelahan dengan taman kota menuju rumahnya. Bus hanya beroperasi dari 6 pagi hingga pukul 8 malam, lebih dari itu maka Runa harus berjalan kaki.
Aruna enggan untuk menyudahi bacaannya kalau saja ia tak melihat arloji yang menunjukkan pukul 9 malam dan hal tersebut seringkali terjadi padanya. Ia langsung membereskan tasnya dan bergegas pulang, kali ini ia akan berjalan kaki menuju rumah. Di sepanjang jalan memang tak sepi, sesekali suara mesin mobil bersahutan, kedua sisi jalan pun dipenuhi oleh penjaja makanan hingga kelontong. Dengan kedua telapak tangan yang ia masukkan ke dalam jasnya, Runa terus berjalan melawan angin yang sedikit dingin itu. Sesekali pemilik gerobak yang menjual roti langganannya, menyapanya dari jauh. Runa selalu menikmati tiap kali ia berjalan kaki di kota Sulakambu, seringkali ia juga menengadahkan kepala hanya untuk sekedar melihat langit. Setelah kurang lebih sejam perjalanan, akhirnya Runa tiba di rumahnya. Sulakambu adalah kota yang banyak dihuni oleh muda mudi, banyak dari mereka tinggal menyendiri di rumah, meskipun ada pula segelintir yang tinggal beramai-ramai dalam satu rumah. Rumah Runa berada di jalan Sagum yang merupakan pusat kota, namun sekali lagi, pusat kota Sulakambu tidaklah ramai seperti kota biasanya. Jarak rumah ke rumah lainnya di sepanjang jalan Sagum cukup berjauhan dan wujud rumahnya pun berbagai macam. Rumah yang paling mentereng disepanjang itu adalah rumah milik Auri, perempuan yang usianya dua tahun lebih muda dibanding Runa tersebut memiliki pekerjaan sampingan sebagai model. Penghasilan sampingannya tersebut digunakan Auri untuk mendekor rumahnya hingga penuh berbagai tanaman. Halaman rumahnya yang luas bagai taman kota versi miniatur yang juga tak lupa diberi lampu dan bangku besi. Bagi Runa, Auri memang seorang model, tapi Auri lebih berbakat dalam hal berkebun. Tiap kali Runa menyambangi rumahnya, Auri selalu menyuguhkan makanan minuman yang bahannya diperoleh dari kebun halamannya sendiri. Jika sedang musim, Auri seringkali membagikan hasil kebun pada semua tetangganya seantero Sagum termasuk Runa.
Semua yang tinggal di jalan Sagum ini tinggal sendiri di rumahnya, hal ini merupakan suatu kewajaran di Sulakambu. Sulakambu menjadi kota bagi muda mudi menemukan dirinya, salah satunya yakni dengan hidup mandiri. Sulakambu telah menjadi bagian hidup Runa selama 10 tahun ini, sebelumnya ia menetap di Alaka, sebuah kota Industri yang begitu padat. Rumah Runa terletak di penghujung jalan Sagum, bersebelahan dengan rumah Dowa yang penghuninya hanya terlihat di minggu pagi saja sambil mencuci mobilnya. Dowa jarang sekali pulang ke rumahnya tersebut karena ia bersekolah sembari mengelola toko kelontong warisan kakaknya di pinggir Sulakambu. Sementara itu, tepat di seberang rumah Runa terdapat rumah yang cukup besar dengan gaya klasik yang merupakan rumah Fey. Fey merupakan temannya yang rajin mengajak Runa beribadah. Karena letak gereja yang cukup jauh, Fey dan teman temannya seringkali menggelar kebaktian sederhana dirumahnya. Runa selalu menyukai suara nyanyian yang terdengar hingga rumahnya, Sagum yang selalu sepi setidaknya menjadi lebih hidup walaupun sebentar.
Rumah bagi Runa adalah wilayah personalnya. Ia tak akan membiarkan orang dapat memasuki wilayah personalnya begitu saja, terlebih lagi wilayah penting seperti kamarnya. Jika ada teman yang bertandang ke rumahnya, Runa biasa memakai teras depan atau teras belakang sebagai tempatnya. Kedua tempat tersebut saling terhubung tanpa harus melewati ruang lain di rumahnya. Teras merupakan tempat favorit Runa di rumahnya, karena ia bebas menikmati udara Sulakambu yang lebih segar dan menyehatkan dibanding Alaka. Di teras juga terdapat bangku kayu yang membuat sanggup belama lama menghabiskan waktu entah sambil membaca ataupun sambil mendengarkan saluran radio favoritnya. Selain teras, ruang lain dirumahnya jarang sekali dimasuki kecuali oleh sahabatnya, yaitu Zawa dan Nici. Jika kedua sahabatnya tersebut menghampiri rumahnya, Ruang tengah dan dapur menjadi favorit mereka guna membunuh waktu, entah untuk menonton televisi maupun memasak. Zawa dan Nici juga menjadi orang yang diperkenankan Runa untuk memasukinya, namun ruang tengah selalu menjadi andalan mereka. Rumah Runa tidak besar, tapi ia sangat menyukainya. Bagian dalamnya pun juga sederhana, hanya ada furniture kayu tua yang dibeli dari pasar loak, temboknya mulai menguning tnamun tetap bersih. Rumahnya memiliki sisi kaca yang dapat menampung cahaya matahari untuk masuk menerangi rumahnya, membantu beberapa pot kaktusnya untuk terus hidup. selebihnya, lampu di rumah Runa dalam keadaan mati, keadaan terang merupakan hal langka di rumahnya. Begitu pun dikamarnya, ia hanya menghidupkan lampu tidur remangnya karena cahaya lampu rumah Fey dan lampu jalanan sudah cukup menyorot hingga kamarnya.
Begitu Runa sampai dikamarnya, ia langsung menuju kamarnya, mengganti pakaiannya dan mandi. Pukul setengah sebelas malam, ia kini lebih segar dengan kamisol yang panjangnya tak cukup menutupi lutut dan sedikit lebih bebas karena tak lagi memakai bra walaupun ukuran dadanya juga tidaklah besar. Runa menghempaskan dirinya pada pelukan ranjang, ia meraih tas yang tadi ia pakai dan mengeluarkan bungkus rokoknya. Ini adalah rokok paling mahsyur dari Alaka, tempat kelahirannya. Meskipun berasal dari kota industri, rokok Patal adalah rokok yang dibuat dengan sederhana di rumahan, pemiliknya ialah tetangganya, Pak Radu. Pak Radu memiliki anak yang juga merupakan teman dekat Runa, yakni Raga, yang diam diam sering mencuri beberapa batang rokok untuk dihisap bersama sama dengan temannya, termasuk Runa. Ia tersenyum kecil mengingat hari harinya di Alaka dulu, dengan korek yang tergeletak di nakas langsung saja ia nyalakan rokok Patal yang sedari tadi ia sisipkan di jarinya.
Belum sempat Runa habiskan satu batang rokoknya, sebuah dering mengacaukan lamunannya. Ia segera mengeluarkan ponsel dari jas yang telah berserakan di lantai kamarnya, menyentuh layar dan mengernyitkan dahi begitu melihat nama yang muncul.
“Run, kamu sedang di rumah?”
“motorku mogok di dekat jalan Sagum, apa boleh aku ke rumahmu?” Tanya Dewan dengan nafas ngos-ngosan di seberangan saya membuat Runa langsung mengiyakannya.
“Ya tentu, kamu masih ingat kan letak rumahku?”
Dewan menghempaskan nafas berat “Ya aku masih ingat. Kalau gitu, tunggu aku ya”
Runa langsung mematikan rokoknya. Ia berangsur meraih jaket untuk menutupi bahunya, lalu keluar kamar. Tanpa menghidupkan lampu rumahnya, cahaya lampu jalanan masih mampu menerangi ruang tengah dan sama sekali tidak membatasi gerak Runa. Ia bergegas menuju dapur kecilnya, merebus air guna menyeduh segelas coklat untuk tamu tengah malamnya. Dewan merupakan teman satu sekolahnya, termasuk teman yang paling sering satu kelas dengannya. Beberapa kali Dewan juga pernah ke rumahnya untuk mengerjakan tugas bersama dengan teman lainnya. Dewan merupakan orang yang menyenangkan dan memiliki sifat periang, disisi lain ia juga konyol. Ketukan pintu terdengar berbarengan dengan segelas coklat yang baru saja selesai Runa seduh. Ia pun menghampiri pintu depan, membukanya dan melihat sosok didepannya. Dewan, dengan wajah lusuhnya tersenyum lebar sambil memegang helm di sebelah tangan kanannya.
“Well, terima kasih Runa sudah mau membukakan pintu tengah malam begini” Ujar Dewan begitu riang, tak lagi mempedulikan tampilannya yang sudah berantakan itu
“Ya, sama sama Dewan” Jawab Runa tak kalah riang. Tanpa mempersilahkan masuk, Dewan telah melangkah masuk lebih dulu, membiarkan runa kembali menutup pintu.
“Motorku mogok dari persimpangan Parga. ku kira akan ada bengkel yang buka, tapi setelah berjalan hingga Sagum tidak ada satu pun bengkel yang ku temui, jadi aku coba tuk mengontakmu”
“Good Choice, Dewan” ujar Runa sambil mengarahkannya ke ruang tengah. Kali ini Runa tidak bisa mempersilahkan Dewan duduk di teras karena udara yang begitu dingin, jadi ia membiarkan Dewan memasuki ruang tengahnya. Runa juga masih membiarkan ruangannya dalam keadaan remang karena ia tidak suka menyalakan lampu.
“Itu tadi bukan sindiran kan Run?” Tanya kini menoleh ke arah Runa di belakangnya
Runa tertawa sedikit “Ya tentu bukan…. Selamat Datang Tuan Dewan…” sahut Runa dengan tangan tangan yang mempersilahkan Dewan duduk di sofa ruang tengahnya.
Setelahnya, Runa pun langsung mengambil gelas tadi yang telah disiapkan dan menyuguhkannya pada Dewan.
“Minummu mana?” tanya Dewan, begitu menerima gelas dari Runa
Dewan berdiam sebentar melihat Runa, lalu ia menegak isi gelasnya hingga setengah.
“Masa iya aku membiarkan tuan rumah tidak minum. Ini….” Dewan menyodorkan gelasnya ke arah Runa.
Kekonyolan Dewan telah dimulai. Runa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
“Ya sudah aku habiskan. Aku memang haus sejak tadi”
Runa tak dapat menahan tawanya melihat tingkah laku Dewan. Tak lama, segelas coklat tadi tandas dihabiskan Dewan. Ia menghela nafas lega, membuka jaket dan membiarkan bahunya bersandar pada sofa.
“Biasa. Balada motor tua, Run”
“Iya, layaknya minum obat”
“Kamu punya alat perkakas?”
Dengan lemas Runa menggelengkan kepalanya.
Dewan mengangguk sambil mengedarkan pandangannya pada langit rumah Runa
“Tapi aku bisa coba pinjam ke tetangga kok, bentar ya” sahut Runa sambil beralih ke kamarnya, mengambil ponsel untuk menghubungi tetangganya. Sambil menghubungi tetangganya satu persatu, ia pun kembali duduk di sofa ruang tengah. Tanpa suara televise, keduanya pun terdiam. Runa masih mencoba menghubungi tetangganya, sementara Dewan mulai memejamkan matanya.
“Wan, tetanggaku tak ada yang memiliki perkakas…. Sebenernya ada sih, tapi pemiliknya sedang tidak di rumah…” ujar Runa sontak membangunkan kembali Dewan yang akan terlelap.
“Kamu ngantuk ya? Tadi aku sudah kontak tetanggaku, dan tak ada yang memiliki alat perkakas. Sekalipun ada, penghuninya tidak sedang di rumah…”
Dewan kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa, “baik. Tidak apa – apa. Sebentar lagi aku pulang”
Runa mengernyitkan dahinya tidak percaya “Pulang? Rumahmu kan jauh Wan”
“Sambil pulang, siapa tahu ada bengkel yang masih buka”
“Tapi kamu kan ngantuk...”
“kalau cuci muka tidak akan ngantuk lagi” Ujar Dewan meyakinkan sambil tersenyum
“lagi pula besok hari minggu, kenapa harus pulang sekarang? Belum lagi kalau kamu lapar di jalan, ya kalau ada bengkel yang masih buka, kalau tidak bagaimana? Kamu mau jalan sampai rumah kamu yang jauh di pinggiran kota sana?”
Dewan terdiam, sebab baru kali ini ia melihat Runa menjadi cerewet seperti ini. akan tetapi Dewan harus segera pulang ke rumahnya.
“Run, aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan”
Runa mengamati Dewan dengan seksama. “aku bisa bantu kamu apa, Wan?”
Dewan lagi lagi terdiam. Ia mengumpat dalam hati, mengutuk motor tua sialannya yang kali ini mogok di saat yang tak tepat. Rumahnya masih jauh, motornya mogok tapi ia harus menyelesaikan laporan mingguan secepatnya, sebab kalau tidak ia terancam kehilangan pekerjaan sampingannya itu. Ia pun teringat sesuatu, seluruh data yang akan diolah ternyata juga ia simpan dalam flashdisk yang ia bawa kemanapun.
“Run, aku bisa pinjam komputer kamu?”
“Aku pinjam untuk buat laporan, boleh? Dimana komputermu?”
Tidak, Runa sama sekali tidak keberatan meminjamkan komputernya untuk Dewan, tapi komputernya tersebut yang berada di kamar Runa, dan runa tidak ingin kamarnya dimasuki orang walaupun sebenarnya Dewan juga merupakan temannya. Membiarkan kamarnya dimasuki oleh orang lain sama saja membiarkan dirinya telanjang dihadapan orang lain. Runa masih berat untuk membiarkan Dewan untuk memasuki kamarnya, namun untuk kali ini ia akan melepaskan egonya sebentar.
Dewan langsung berlutut, bergaya memohon sambil memegang kedua tangan Runa “Run, izinkan aku pinjam sebentar ya. Pekerjaanku ini begitu penting. Aku janji selesaikan dengan cepat. Ya?” pinta Dewan dengan gaya berlebihan, tapi Runa tahu kalau Dewan juga sedang memohon dengan serius.
“Ya, Dewan...” sambil tersenyum, Runa membimbing Dewan memasuki kamarnya. Kamar yang merupakan bagian rumah yang paling intim untuknya, ruang yang paling jarang dimasuki oleh orang lain selama ini, terlebih lagi oleh seorang pria. Membukakan kamar untuk orang lain bagi Runa tak jauh berbeda dengan memperlihatkan sisi dirinya yang lain. Kamar adalah dunia Runa yang sesungguhnya, dan malam itu ia telah membiarkan seseorang untuk masuk mengunjungi dunianya.