"Energy" by JAE.T
seen from Hong Kong SAR China

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from TĂŒrkiye
seen from Yemen

seen from Malaysia
seen from China
seen from Yemen
seen from United States
seen from Portugal
seen from United States
seen from China
seen from Mexico
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Argentina

seen from India
"Energy" by JAE.T

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch âą No registration required âą HD streaming
Inicios
Ven conmigo, trae tus recuerdos,
desnuda, - no tu cuerpo-, tu alma,
trae contigo tus miedos
prometo no contarlos,
prometo cuidarlos.
Llegaste queriéndome tuya,
ahora, déjame querer tus pedazos,
prometo amarte completo,
acabaré con tus miedos,
besaré tus lunares,
marcaré tu cuerpo.
Reinventemos el amor,
lo que sea que nos funcione,
solo quédate completamente en mi vida,
ĂĄmame despacio, a ratos,
hasta que algĂșn dĂa, inexplicablemente,
tu miedo sea no tenernos.
- Jaet.
(Lah Made Track.)
Al final, yo era una mĂĄs de esas que le volvĂan loco.
Ada Hadits Bahwa Nanti Akan Ada Golongan Yang Tidak Percaya Pada Taqdir
tahun. Seperti dengan cangkok jantung tambah 5 tahun. Arti âlaayastaâkhiruun,â tidak bisa diakhirkan, itu adalah setelah habis Sunnatullahnya seperti dalam cangkok jantung kemampuannya tambah umur hanya 5 tahun itu.
Apakah Ini Tidak Mengakibatkan Mentuhankan Sunnatullah?
Kenapa mentuhankan Sunnatullah? Namanya juga sudah Sunnatullah.
Karena Tidak Langsung Menisbatkan Kepada Tuhan.
Ya, itu artinya saudara berada di Jabbariyah, bukan di Sunnatullah.
Apakah Yang Tidak di Sunnatullah ini Menghalangi Kemajuan IPTEK?
Jelas sekali menghalangi. Sebab tidak di Sunnatullah.
Bukankah Masih Diwajibkan Ikhtiar bagi Ahli Sunnah?
Boleh, ikhtiar itu wajib, tapi apa bisa berhasil. Pastikah hasilnya? Tidak pasti, masih menggantungkan kehendak Tuhan itu tadi.
Itu untuk Tawakkal
Ya, Tawakkal sajalah kalau saudara yakin pada Sunnatullah maka akan sampai pada yang ditentukan Sunnatullah. Sunnatullah ini sudah ada di zaman Umar bin Khatthab, juga di zaman Nabi Muhammad saw. Dia berperang, kerja, makan, tidur. Umpama semua kehendak Tuhan, apakah perlu perang?
Tetapi Nabi Muhammad Selalu Mengembalikan Apa-apa kepada Tuhan.
Memang. Tapi langsung atau lewat Sunnatulullah. Di Qurâan, Sunnatullah itu disebutkan tidak akan berubah. Itulah hukum alam yang dijumpai sejak IPTEK zaman Yunani, situasi Islam, dan kemudian zaman modern, itulah yang memajukan IPTEK. Yang tidak percaya Sunnatullah, tidak akan dicari Sunnatullah itu, ya tak ada kemajuan IPTEK. Coba, apakah Ahli Sunnah ada kemajuan?
Al-Ghazali Dikenal Maju?
Maju tetapi dalam filsafat. Bukan sainss/ ilmu pengetahuan. Dalam sains ia tidak maju. Al-Ghazali tidak percaya Sunnatullah.
Apakah Al-Ghazali Yang Mematikan Faham Sunnatullah?
Bukan. Bukan Al-Ghazali yang mematikan. Tapi pengaruh tulisan-tulisan dia yang menjadikan orang takut falsafah dan tak percaya Sunnatullah lagi. Faham Sunnatullah itu berkembang abad 8-12. Abad ke-13 mulai berkembang faham tak percaya pada Sunnatullah. Faham Sunnatullah itu dipelopori filosof-filosof Muâtazilah seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Ibnu Rusyd. Penghalang kemajuan tertumpu pada ummat Islam yang tak percaya pada Sunnatullah. Maka usaha datang dari Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Jamaluddin Al-Afghani, Sayyid Ahmad Khan (India) abad 19.
Di IAIN sudah kita kembangkan Sunnatullah ini selama 15 tahun (sejak 1977). IAIN sudah berubah. Faham Sunnatullah ini masuk di falsafat dan teologi, bukan hanya di Fak. Ushuluddin tetapi di seluruh fakultas di 14 IAIN . Hanya yang berkembang betul di Jakarta, kemudian di Yogya. Pengembangan itu sudah banyak tenaganya. Mahasiswa yang dikirim ke luar negeri banyak, dan yang sudah berkecimpung di sini banyak. Seperti Nurcholish Majid, Din Syamsuddin , Komaruddin (Hidayat), dan akan datang Azyumardi (Azra) .
Ini Bisa Dikatakan Era Muâtazilah?
Ya, sudah masuklah, tapi saya tidak suka disebut Muâtazilah, tapi rasional. Muâtazilah itu orang Barat menyebutnya Rasionalis, sedang Ahli Sunnah dan Jabbariyah itu tradisionalis.
Bagaimana Anda Mengartikan: Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah?
Ya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Sunnatullah.
Itu Berarti Penafsiran.
Ya penafsiran.
Kalau Ahli Sunnah kan Letter Lijk, Bukan Penafsiran.
Ya, letter lijk. Tapi jangan terus menyalahkan salah satu bahwa Muâtazilah memakai penafsiran. Karena Ahli Sunnah juga pakai penafsiran. Contohnya, dalam hukum, orang yang berbuat baik masuk surga, orang yang berbuat jahat masuk neraka. Tetapi Ahli Sunnah mengatakan, bisa saja Allah memasukkan yang berbuat baik ke neraka, dan yang berbuat jahat masuk surga, dengan penafsiran, kalau Allah menghendaki. Itukan penafsiran. Jadi sama-sama menafsirkan.
Kalau Mukjizat Menurut Anda Apa?
Mukjizat itu Sunnahtullah yang belum diketahui. Kalau sudah diketahui, orang takkan heran lagi. Seperti Haji Lele (dukun/ tabib di Jakarta, red) bisa mengobati AIDS, misalnya.
Apakah faham ini tidak menuju sekularisasi?
Kalau Sunnatullah itu jelas bukan sekularisasi, beda dengan hukum alam yang tidak disandarkan pada Tuhan. Kata Baiquni (ahli atom), kalau ilmu itu sudah dikembalikan ke Sunnatullah, berarti sudah Islamisasi ilmu. Sunnatullah itu bukan sekedar hukum alam tapi hukum alam ciptaan Tuhan.
Anda menempuh âkemajuan â dengan membahas taqdir. Padahal Abu Zahrah ulama terkemuka di Timur Tengah mengatakan, para filosof mengungkit-ungkit qadha dan qadar (takdir) itu tidak banyak gunanya bahkan membingungkan masyarakat.
Untuk masyarakat awam memang, bingung. Tapi Abu Zahrah yang dosen saya di Mesir itu dia juga berfilsafat. Bagaimana ulama tidak berfilsafat.
Ada Hadits Bahwa Nanti Akan Ada Golongan Yang Tidak Percaya Pada Taqdir.
Itu saya belum menemukan, semua itu tadi memang âMasyiatullahâ (kehendak Allah). Hanya yang Jabbariah mengartikan kehendak mutlak Tuhan, sedang qadariyah kehendak Tuhan melalui Sunnatullah.
Demikianlah hasil wawancara penulis dengan Prof Dr Harun Nasution. Berikut ini tanggapan-tanggapan yang penulis kumpulkan cuplikannya.
Tanggapan Ketua Umum âPERSISâ Tentang Rukun Iman
Tidak beriman kepada qadha dan qadar (taqdir) Allah dalam Islam mengakibatkan cacatnya keimanan. Karena qadha dan qadar itu jelas ada dalam hadits. Sedangkan hadits Nabi Muhammad saw itu sendiri adalah wahyu Allah yang sifatnya ghairu matluw (tidak dibacakan oleh malaikat Jibril). Wahyu yang dibacakan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad saw adalah Al-Qurâan. Kedua-duanya menjadi sumber pokok dalam Islam. KH A. Latief Mukhtar MA, ketua Umum PERSIS (Persatuan Islam), alumni Institut Studi lslam/Maâhad Dirosah Islamiyah Mesirâdulu tempat belajar Prof. Dr. Harun Nasution pulaâmengemukakan hal tersebut menanggapi pendapat Harun Nasution tentang Rukun Iman ada lima atau enam (Pelita, 16/7 1992). Pendapat Harun Nasution itu ditanggapi secara berturut-turut oleh KH. Ali Yafie (17/7 1992), Prof. Dr. Peunoh Dali (18/7 1992), KH Masyhuri Syahid MA (21/7 1992), Prof. Dr. HM. Rasyidi (22/71992). Cacatnya keimanan lantaran tidak mengimani qadha dan qadar Allah, ungkap A Latief Mukhtar yang bermukim di Bandung ini, karena ditegaskan dalam Al-Qurâan: â... yuâminuuna bibaâdhil kitaab wayakfuruuna bibaâdhihi ...â [Mengimani sebagian (isi) kitab dan mengingkari sebagiannya...] âKetidak percayaan pada qadha dan qadar itu karena Muâtazilah titik tolaknya pada rasio/ akal. Sedangkan qadha dan qadar itu ada di hadits yang sebenarnya juga wahyu. Maka secara Qurâani pengingkaran ini berarti cacat keimananya,â ucap KH. A. Latief Mukhtar MA.
Over acting
Contoh rasional yang over acting, menurut almarhum Said Hilabi mantan ketua umum Al-Irsyad, alumni Muâallimin Al-Irsyad Pekalongan 1939, adalah ungkapan Harun Nasution tentang menunda kematian bahwa mati tidak bisa dielakkan tetapi bisa ditunda, misalnya dengan cangkok jantung tambah umur 5 tahun. Asal mampu mengerti kadar/ ketentuan-ketentuan untuk hidup 120 tahun misalnya, kata Hilabi, dan mampu mensuplay dengan kebutuhan seluruhnya maka bisa bertahan hidup. âTetapi masih ada satu lagi, ada masalah yang tidak bisa dikontrol. Misalnya kita naik pesawat lalu jatuh, mati. Memang ada hukum kausalita, sebab akibat. Tetapi ada juga yang tidak bisa dikontrol,â ucap Hilabi.
Qadha dan Qadar
Dalam hadits Nabi Muhammad saw yang dikenal dengan hadits Jibril, dari Umar bin Khatthab diriwayatkan oleh Imam Muslim:
â.....Beritahulah aku tentang iman. Rasul menjawab: âAnda beriman dengan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan anda beriman dengan qadar (ketentuan) baik dan buruk.... â (HR. Muslim).
Hadits itu, menurut Masyhuri Syahid alumni Al-Azhar Mesir, dipergunakan oleh jumhur (mayoritas) ahli hadits termasuk Imam Syafiâi. Landasan yang disepakati jumhur ahli hadits, kalau hadits itu sesuai dengan jiwa Al-Qurâan, tidak mustaqil (terlepas sama sekali) dengan jiwa Al-Qurâan, maka diterima atau dipakai. âDalam hal qadha dan qadar ini jelas ada dalam Al-Qurâan, kemudian ada haditsnya, jadi dipakai,â ujar Masyhuri Syahid menegaskan rukun iman itu jelas ada enam bukan lima, sambil menambahkan, yang tidak terpakai itu hadits Mudhuâ (palsu) yang tidak sesuai Al-Qurâan dan tak kuat periwayatnya.
Dimunculkannya kembali ketidakpercayaan kepada hadits yang sangat terkenal itu, menurut Masyhuri Syahid, bisa dikhawatirkan ada usaha-usaha menjauhkan agama dengan mempreteli aqidah ummat Islam. Kalau langsung menjauhkan agama dan ummatnya pasti sulit, maka ditempuh jalan lewat mempreteli aqidahnya. âMemang syiâah tidak senang bahkan apriori terhadap Umar bin Khatthab, sedang Muâtazilah tidak begitu mengindahkan hadits. Jadi latar belakang ini juga perlu dikenal, sebab qadha dan qadar tersebut ada di hadits, dan itu dari Umar,â ulasnya.
Mengingkari Sifat Tuhan
Menurut KH Ali Yafie, ulama yang pernah duduk di MUI, faham Muâtazilah yang paling menonjol adalah mengingkari sifat-sifat Tuhan. Seperti, Tuhan Maha Kuasa, itu menurut Muâtazilah tidak bisa disifatkan begitu. âMuâtazilah menamakan prinsip Tauhid adalah mengingkari sifat Tuhan,â ujarnya.
Demikian pula, lanjut Ali Yafie, dalam prinsip âadl (keadilan), Muâtazilah mengingkari qadha dan qadar. Karena dalam qadha dan qadar bagi mereka seakan-akan seperti ada kekurangan keadilan Tuhan. Jadi segala perbuatan tidak dinisbatkan kepada Tuhan. Akibatnya menjadi faham qadariyah, tidak mempercayai taqdir Allah swt. âIni campur baur dengan filsafat, dan faham inilah yang menentang mayoritas ummat Islam,â tegasnya.
Menumbuhkan Taqlid Muâtazilah
Memilah-milah ummat Islam dengan mengatakan Muâtazilah pro-sains (ilmu pengetahuan) dan Ahli Sunnah tidak, berakibat menumbuhkan sikap saling membanggakan golongan. Pemikiran semacam itu latah, ketinggalan zaman, menimbulkan cekcok, dan tidak perlu. âKenapa tidak mengembangkan pemikiran Islam dan sains dari sumbernya, dengan kembali kepada sumber Islam lalu mengikuti manhaj fikril Islami (pola pemikiran Islami)?â sanggah Prof Dr Peunoh Dali (almarhum) alumni Al-Azhar Mesir jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh..
Menurut Peunoh Dali, fanatik kepada Muâtazilah seperti apa yang dimaui Pak Harun itu justru mempersempit dan memperkecil potensi akal. âJangan taqlid butalah!â tandasnya. Peunoh mentamsilkan, kalau dulu orang memaki-maki taqlid mazhab, kini malah timbul taqlid Muâtazilah. Ini alasan baru, bila memakai faham Muâtazilah akan cocok dengan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) itu. Faham Muâtazilah, jelas Peunoh, menurut buku Al-Muâtazilah karangan Ustadz Az-Zuhdi dari Suriah, tidak dapat maju dimana-mana. Cara berfikir Muâtazilah seperti Islam, tetapi tidak lurus Islam benar. Washil bin Athaâ, pendiri aliran Muâtazilah itu, antek Yahudi. âMasa, umur 19 tahun sudah bisa ngomong segala macam dan mendirikan aliran, itu karena yang ngomong segala macam dan mendirikan aliran, itu karena yang ngomong adalah orang lain yaitu Yahudi,â tutur Peunoh mengutip buku itu.
Harun Nasution Kadang Ucapannya Melewati Batas
Prof. Dr. HM Rasyidi (almarhum) kawan senior Prof. Dr. Harun Nasutionâwaktu di Mesir dan Canada 1958-1963-- menanggapi pendapat Harun Nasution. Prof. HM Rasyidi mengatakan bahwa ucapan Harun Nasution kadang-kadang melewati batas. Tanggapan itu disampaikan kepada Pelita, Selasa (21/7 1992) setelah surat kabar ini memberitakan pendapat Harun Nasution tentang Rukun Iman hanya lima (Kamis 16/7). Pendapat itu ditanggapi KH. Ali Yafie (Jumâat 17), Prof.Dr.H. Peunoh Dali (Sabtu 18/7), dan KH. Masyhuri Syahid MA (Selasa 21/7 1992). Tanggapan Prof. Dr. HM. Rasyidi seutuhnya seperti berikut ini.
Prof. Harun Nasution menimbulkan persoalan tentang Rukun Iman, dan mengatakan bahwa Rukun Iman dalam Islam lima yaitu Iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab suci, rasul-rasul-Nya, dan akhirat; sedang yang keenam yaitu percaya kepada qadha dan qadar ia mengkritiknya.
Prof. Harun Nasution adalah teman saya pribadi ketika saya mencari pengalaman di Canada, di Universitas Mc. Gill di kota Montreal kira-kira pada tahun 1958-1963, dengan menjadi asosiasi Profesor di sana. Ia sebagai seorang teman saya yang berada di Paris, saya berusaha dengan mencarikan bantuan baginya untuk meneruskan belajar di McGill. Beliau menerima tawaran itu dan menyelesaikan program MA dan Ph.D setelah saya berada di Washington Islamic Center, sampai kembali ke Jakarta pada tahun 1963. Nampak pembawaan pribadi kita berdua berlainan, sehingga penilaian tentang apa yang kami dengarkan dan saksikan juga berlainan.
Pada berita 16 Juli 1992/ 15 Muharam 1413 H Dr. Harun Nasution menunjukkan dirinya sebagai orang yang sangat terpengaruh oleh cara orang mempelajari Islam di Barat sehingga memberi kesan bahwa semua cara mempelajari Islam di sana baik, dan semua yang di negeri-negeri Timur Tengah mengecewakan, tanpa melihat perbedaan waktu yang berabad-abad.
Dr. Harun Nasution dalam berita berjudul: âRukun Iman Lima atau Enamâ mengatakan, âbahwa yang biasa dianut sebagai rukun keenam (Iman kepada qadha dan qadar) itu tidak benar, karena bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Dalam faham taqdir yang bahasa Arabnya Jabbariyah dan bahasa Baratnya Fatalisme, segala sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan. Api membakar menurut kehendak Tuhan, adalah faham taqdir, yang berarti bahwa Tuhanlah yang membakar. Padahal api adalah penyebab daya membakar.â
Dengan mengikuti uraian Prof. Harun Nasution yang sangat bersemangat untuk menunjukkan bahwa âapiâ lah penyebab kebakaran dan bukan Tuhan, soalnya menjadi buntu. Tetapi marilah kita berfikir secara tenang sebagai orang yang beragama Islam.
Dalam firman Allah:
âTiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.â (Al-Hadiid: 22-23).
Prof. Harun Nasution kadang-kadang sampai melewati batas seperti ucapannya: Hukum alam yang dipegang, semua ikhtiar berhasil.
Kesan saya tentang sahabat saya Dr. Harun Nasution seperti kesan saya waktu membaca surat Al-Baqarah:
âApakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: âTuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,â orang itu berkata: âSaya dapat menghidupkan dan mematikan.â Ibrahim berkata: âSesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari Timur, maka terbitkanlah dia dari Barat,â lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang zalim.â (QS. Al-Baqarah: 258)
Dosen IAIN Dikirim ke Barat
Bersamaan dengan pemberian tanggapan itu Pelita menanyakan kepada Pak Rasyidi tentang pengiriman dosen-dosen IAIN untuk belajar ke Barat (Eropa dan Amerika) dengan alasan untuk belajar metodologi berfikir. Prof. Rasyidi menjawab: Pengiriman dosen IAIN ke Barat itu boleh, tetapi hendaknya yang benar-benar bisa berfikir. Maksudnya, dosen yang dikirim ke Barat itu, ukurannya berdasarkan ibadahnya itu ia tidak hilang ketika mendapatkan pelajaran atau pengaruh dari Barat.
Prof. Rasyidi mencontohkan, dirinya pernah ditarik-tarik ke arah yang tidak karuan oleh seorang yang mendapatkan doktor dari Amerika, ketika diskusi tentang Syiâah dengan Jalaluddin Rachmat dari Bandung di Pesantren Darun Najah Jakarta beberapa waktu lalu dan doktor itu menjadi moderator. Itu menunjukkan bahwa pemahaman dia sendiri masih kabur tentang Islam ini. Model penyandang gelar tetapi sebenarnya masih kabur pemahaman atau keilmuannya seperti itu, menurut HM. Rasyidi, akan mudah dipermainkan orang. Meskipun demikian, Prof. Rasyidi mengakui, kalau Nurcholish Madjid memang betul-betul belajar. Dan sekalipun ia sesekali berfikiran nyeleneh tetapi masih ada rasa malunya. Itu masih agak mending kalau dibanding dengan figur lain (Prof. Rasyidi menyebut nama seseorang yang dikenal nyeleneh pula) sudah bodoh, ngomongnya tak karuan lagi, ulasnya.
Muâtazilah dan Sains
Tentang Muâtazilah dikaitkan dengan sains (ilmu pengetahuan), HM. Rasyidi berkomentar, orang yang mengaitkan itu hanyalah Harun Nasution. âBagi saya Muâtazilah itu bikin bingung orang,â tegasnya. Sains, lanjutnya, waktu itu belum ada seperti halnya sekarang. Hanya, Muâtazilah mengandalkan akal. Tetapi akal kadang-kadang juga tak sampai. Misalnya, pembicaraan berkisar Al-Qurâan itu qodim (dulu) atau hadits (baru). Muâtazilah mengatakan hadits (baru). Sedang Ahlis Sunnah karena Al-Qurâan itu jelas-jelas kalam Allah maka mengatakan qodim. âJadi hanya soal-soal yang begitu-begitu itu. Lantas Muâtazilah diterjemahkan dengan rasional, itu sebenarnya juga nggak. Muâtazilah ya Muâtazilah,â ucap Rasyidi.
Prof. Dr. Harun Nasution yang dihubungi oleh Pelita Sabtu lalu (18/7 1992) menyatakan tidak bersedia memberikan komentar atas tanggapan dari sejumlah tokoh Islam yang menanggapi pernyataannya tentang jumlah rukun iman itu. âSudah, sudah selesai. Saya sudah mengemukakan pendapat saya, ya sudah selesai...â Jawabnya dari balik gagang telepon. Dalam pembicaraan via telepon itu penulis mendengar lolongan beberapa anjing yang kemungkinan berada di dekat Pak Prof. Harun Nasution yang menjawab pertanyaan itu lewat telepon di dalam rumahnya.
Demikianlah pola pemikiran yang dicanangkan untuk IAIN, STAIN, dan perguruan tinggi Islam di Indonesia yang digagas oleh Harun Nasution dan diteruskan oleh para kadernya. Hasilnya kini bisa disimak, di antaranya di sini, betapa banyaknya dosen IAIN yang bersuara nyeleneh.#
ADA PEMURTADAN di IAIN Oleh : H. Hartono Ahmad Jaiz
Kunjungi juga: http://jaketbaseball.org/ http://jualjaketbaseball.com/ http://www.artizara.com/ http://tokoseragamonline.com/ http://pelaminan-minang.safirkonveksi.com/

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch âą No registration required âą HD streaming
Sin embargo.
El cielo se ha nublado desde aquĂ©l dĂa en que rocĂ© sus labios, desde aquĂ©l momento en el que me estrechĂł entre sus brazos. QuerĂa correr a detener el tiempo, pero lĂłgicamente implicaba moverme del lugar de comodidad. Recuerdo ese instante en el que su mano rozĂł mi piel, estaba mĂĄs que segura de que era el lugar en donde querĂa estar.
Sin embargo, pretendo guardar el momento para mi; vivir anclada a su cuello hubiera sido una buena soluciĂłn. Sin embargo, el tiempo, aquella efĂmera medida, acabĂł con el momento; ese pequeño instante en el que me sentĂ suya. La memoria, desde aquellos instantes, apela al sentimiento, a la sensaciĂłn de esos dĂas, a la charla que envolvĂa sin reparos esa unidad de medida. Desde aquĂ©l instante, supe que Ă©l serĂa la Ășnica persona que podrĂa hacer feliz en este universo en donde el amor ya no es una opciĂłn. Desde ese instante, me di cuenta, que el tiempo se volviĂł un factor en contra; que el motivo de nuestro andar, no era el amor, y que a pesar de que este sentimiento ha sido el que me ha traĂdo hasta aquĂ el dĂa de hoy, todo se resume a algo que no ha podido ser.
Y, sin embargo, me sobran motivos para quererte. Y, sin embargo, ya no soy la misma desde aquel instante. Y, sin embargo, extraño sentir el latir de su corazĂłn agitado. Y, sin embargo, el cielo de tornĂł nublado desde ese dĂa, el sol no ha brillado, el tiempo llegĂł a su lĂmite, aunque aĂșn no se sĂ todo tĂ©rmino en ese instante. Y, sin embargo, te quiero, te esperoâŠ