“Ayah, benarkah seorang laki-laki pantang menangis? Bahkan dalam titik terendah dalam hidupnya?”, aku tiba-tiba saja bertanya.
Ayah diam sejenak, lalu tersenyum. “Nak, bukankah laki-laki juga manusia?”
Eh. Aku terdiam, mengapa Ayah malah bertanya balik. Kan Aku yang bertanya duluan.
“Karena laki-laki juga manusia, maka ia juga berhak memiliki perasaan”, sambung Ayah, seolah bisa membaca pikiranku.
Aku seperti mendapat kesempatan, “Lalu mengapa kami seperti dilarang menangis, seperti kami dilarang menjadi manusia?”, aku menyecar Ayah.
Ayah menggeser tempat duduknya, mendekat ke arahku.
“Memang tidak ada yang melarang, tapi laki-laki harus tetap terlihat tegar. Menagislah, tapi sembunyikan tangismu. Ungkapkan kepada siapa dan melalui apa dengan benar. Ada Sang Maha Mendengar yang akan setia menerima isakmu, dalam sujud panjangmu, dalam lirih doamu”.
Deg. Nasihat Ayah ini seperti pertama kali kudengar.
“Lho kenapa diam Nak? Ada yang salah dengan perkataan Ayah?”, Ayah bertanya lembut.
“Kamu sedang ada masalah ya? Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan? Segera selesaikan ya. Ingat, Allah sebaik-baik pengatur skenario dalam hidup kita”, Ayah seperti bisa menebak keadaanku.
“Iya Yah, sekarang aku tahu apa yang harus ku lakukan”, Aku mengangguk perlahan.
“Baik, itu baru anak Ayah. Tetap jaga husnudzhan kita sama Allah. Bisa jadi kecewa kita hari ini bila kita lalui dengan sabar, Allah akan siapkan penggantinya lebih baik. Entah di dunia atau akhirat sana”. Ayah memberi petuah terakhir dan menutup percakapan.
Ayah benar, meski hari ini aku kecewa betul bahwa yang selama ini diperjuangkan telah kandas karena diriku belum siap di saat ada orang lain yang lebih siap, tapi aku harus tetap menjaga prasangka baik padaNya.
Seberapa besar kita boleh berharap, sebesar itu pula kita menyiapkan ruang dalam hati kita untuk kecewa, kalimat Nazrul Anwar di bukunya mengingatkanku. Sambil menarik nafas panjang, aku hapus air mataku, mencoba ikhlas. Lalu tersenyum.