Bismillahirrahmanirrahim.
Tunggu dan jangan lupa join ya!Â
#BergerakBergbagi #GemaAksara2015
seen from Türkiye

seen from Brazil
seen from United States
seen from Spain
seen from China

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Mexico

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States
seen from China
seen from Poland
seen from France
seen from Russia

seen from France
seen from China
seen from China
seen from United States
Bismillahirrahmanirrahim.
Tunggu dan jangan lupa join ya!Â
#BergerakBergbagi #GemaAksara2015

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku senang melihatmu tumbuh besar. Meski kadang aku ngeri. Semakin kau besar, semakin cepat tandanya, aku meninggalkanmu.
Semoga Allah selalu beri kita kesempatan untuk merajut temu, ya. Dalam padat dan sibuknya mencari makna, aku akan selalu mengingatmu, satu-persatu. Beserta sejuta kenangan semenjak pertama kita jumpa: balai RW, tepuk warna, dan drama putri salju.
Orang dewasa memang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Meng-iya-kan segala yang ia pikir bisa memupuk ilmu dan membina potensi. Supaya bermanfaat katanya. Padahal, belum tentu ya. Tapi berusaha itu perlu. Dan karenanya, kadang aku harus meninggalkanmu. Maafkan.
Tapi tenang saja. Akan selalu ada yang menjagamu dalam angin yang meniup rambut tipismu: doa ibumu. Dan langit-langit senja yang kutitipkan baris namamu.
Selamat tumbuh besar dan dewasa, tentunya. Jangan berhenti bermain dan berpetualang, ya. Kau tau, menuliskanmu adalah salah satu caraku mengabadikan cerita dan cintaku padamu.
Bandung, 15 Oktober 2014 Meski padat deadline ujian tengah semester, selalu mampir sedikit rindu padamu.
Jamika Nasaputra
Hari-hari Bersamanya : Po
Hari ini saya kembali mengajar di tempat yang sudah hampir tiga tahun saya kenal, setelah beberapa minggu sempat menghilang karena harus menyelesaikan tugas-tugas lainnya.
Seperti biasa, suasanya masjid sepi. Hanya ada beberapa anak yang hadir, semuanya masih berusia dibawah lima tahun dan belum bersekolah. Kami memulai dengan berdoa. Biasanya kami mengaji setelah itu, namun kali ini situasi benar-benar tidak kondusif, akhirnya kami putuskan untuk membaca surat-surat pendek saja.
Kemudian datanglah seorang adik kecil, sebut saja namanya Po. Po adalah satu-satunya adik yang benar-benar tidak bisa aku pahami. Tingkahnya begitu aktif, cara bicaranya bahkan sudah seperti orang-orang dewasa, tak jarang kami kewalahan menghadapinya. Po mungkin masih berusia empat tahun, tapi ia sudah menjadi "public enemy" di kalangan teman-temannya sendiri. Semua adik yang saya kenal selalu berbisik pada saya setiap Po mendekat pada saya. Mereka bilang
"Po mah teu bageur. Baong pisan dia teh."Â Kira-kira seperti itu bahasa sundanya. Terkadang pula, ada adik yang langsung berteriak pada kami,
"Jangan mau sama dia kak!"Â
Terus terang saya bingung. Tapi saya memilih untuk tidak membeda-bedakannya dengan teman yang lain. Saya tetap pangku dia, mengusap-usap kepalanya, atau mengajaknya duduk bersama kami.Â
Pernah suatu hari, ketika kami sedang asyik belajar, datanglah sekumpulan adik yang memang (istilahnya) berkuasa di daerah tersebut. Tiba-tiba dia mendekat bersama teman-temannya, kemudian memukuli Po. Padahal pada waktu itu, bisa kubilang Po sedang nurut-nurutnya. Astagfirullah.. Miris sekali rasanya. Mereka benar-benar seperti menaruh dendam padanya. Mereka benar-benar seperti orang-orang yang sedang memukuli pencuri ayam di kampung. Sekuat tenaga saya pisahkan Po dari teman-temannya sementara rekan-rekan saya yang lain mencoba menenangkan adik-adik tersebut. Detik itu, saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi.
Po memang memiliki emosi yang mudah sekali marah. Tak jarang tubuhnya gemetar, tangannya mengepal, geram. Geram dengan teman-temannya yang sering sekali tiba-tiba memukilinya. Tak jarang saya harus memeluknya erat, menenangkannya, mencoba menahan aksi yang sudah pasti akan berlanjut pada perkelahian.
Ya Allah.. Kadang saya tidak tahu harus bagaimana. Saya mengerti mengapa Po menjadi seperti itu. Saya sempat mendengar bagaimana latar belakang keluarganya, siapa ayahnya, ibunya, dan melihat sendiri bagaimana cara ibunya berinteraksi dengan Po. Kesemuanya memang menjadi faktor utama yang membuat Po menjadi seperti itu. Emosinya tidak stabil, tingkah dan ucapannya sudah melampaui adik-adik seusianya.Â
Sekuat tenaga kami lindungi dia. Sekuat tenaga kami tenangkan teman-temannya, mengajaknya berbicara satu per satu, mencoba membuat mereka saling memahami dan mengerti. Namun nampaknya, sampai saat ini apa yang kami lakukan masih belum berhasil.
Ini bukan salah Po. Kalau kalian tahu, siapapun yang bertemu Po, kesan pertama yang mereka katakan pasti "Ini anak lucu banget yaa." Ya, memang lucu. Kulitnya putih, pipinya sedikit tembam, gigi susunya bugis karena terlalu sering makan permen, tidak bisa mengucapkan huruf R, dan tubuhnya yang mungil. Po, usianya masih empat tahun. Po yang kehilangan masa-masa emasnya. Po yang sebenarnya senang sekali bila kami bermain tepuk dan bernyanyi.
Entah apa yang terjadi padamu, sayang. Sungguh tak mampu aku membayangkan bagaimana perasaanmu ketika teman sebayamu memusuhimu, memukulimu seperti pencuri, memberimu julukan yang tidak pantas di usiamu yang masih empat tahun. Kadang hati ini tersayat, sayang, ketika kau menjadi bahan olok-olokan teman-temanmu. Kadang hati ini berontak, ketika kepolosan dan ketidaktahuanmu diracuni oleh dunia yang tak pernah ramah padamu. Tawa, canda, dan indahnya masa kanak-kanak yang seharusnya menjadi milikmu, entah direnggut oleh siapa. Po, adikku sayang, maafkan kakak yang kadang tak mampu melindungimu atau menenangkanmu. Atau kakak yang belum bisa membantumu lebih dari ini.Â
Po masih empat tahun. Po, adikku sayang.
Bandung, 25 Mei 2014 Jamika Nasaputra
Hari-hari Bersamanya : Sebentar Lagi
Eneng mau sama kakak yang mana? Ehmm.... Sama kak Jamika.
Wahh, sudah kenal ya, Kak. Sudah lama disini? Alhamdulillah sudah. Oh iya? Dari tahun berapa kak? Dari tahun pertama kuliah. Sekarang sudah tahun ketiga. Berarti dari mereka masih kecil-kecil ya. Iyaa, dari masih belum sekolah sampe udah kelas dua sekarang :)
Dan Eneng langsung menghampiri saya, diantara belasan kakak lain yang ada di hadapannya. Iya. Sudah lama ya ternyata. Dari jaman Eneng masih TK, Rara yang belum jelas mengucapkan kata, Dela yang masih memakai setelan baju muslim warna merah muda, Yesa yang masih terbata-bata belajar membaca, Syahrul, Ibo, Fadhil, Kiki, Sifa, dan dua pasang malaikat kembar. Sekarang Eneng sudah kelas dua, Rara sudah cerewet sekali bila bercerita, Dela sudah mengenal istilah pacar, Yesa yang suka menulis, Syahrul, Ibo, dan Fadhil yang sudah tidak lagi belajar di Masjid, dan sepasang malaikat kembar yang salah satunya sedang bermain di surga. Sudah lama ya ternyata. Saatnya regenerasi. Regenerasi? Berarti, saya harus pergi ya? Sebentar lagi saya sudah tidak disini, pergi dan kembali melanjutkan mimpi. Sebentar lagi, adik-adik akan bertemu kakak-kakak yang baru, menemukan cerita dan pengalaman yang baru. Sebentar lagi.
Jangan lupakan kakak yaa! :)
Bandung, 8 Februari 2014
Hari-hari Bersamanya : Hari Pertama
Sudah lama tidak bertemu. Sudah lama tidak menyentuh dan menggenggam jari-jarinya. Menyenangkan sekali rasanya, ketika dia datang dan menyapaku dengan ceria. Dengan logatnya yang masih belum jelas, dia bercerita tentang ini dan itu, kemudian duduk di pangkuanku.Â
Aku memeluknya dan membisikkan kalimat-kalimat pendek di telinganya. Rindu. Mungkin sudah hampir satu bulan kita tidak bertemu.
Sudah lama aku tidak mendengar tawanya. Dan ini hari pertama aku dan beberapa teman datang, berkunjung ke rumah orang tuanya, lalu menemukannya menghambur dalam dekapan. Kami berbincang sebentar, bertanya tentang kondisi keluarganya, mencari tahu bagaimana respon orang tuanya terhadap segala bentuk kegiatan kami di Masjid tempat biasa kami mengajar, harapan mereka, dan tentu saja, permintaan maaf kami atas kesalahan yang tak terduga selama kami hadir di lingkungannya.
Sistem Door-to-door ini akhirnya kami lakukan, setelah sekian lama menunggu keputusan, kepastian dan kabar dari pihak yang bertanggung jawab disana, tentang bagaimana respon serta kondisi masyarakat di lingkungan tempat kami mengajar. Dengan sedikit canggung kami datangi satu per satu rumah adik-adik kami. Alhamdulillah, sebagian besar warga mengetahui kegiatan kami dan sepakat memberikan kami waktu dan kesempatan untuk kembali menyapa dan menemani adik-adik bermain.
Hari ini juga, saya kembali belajar tentang keempat hal yang menjadi kunci utama ketika berinteraksi dengan masyarakat setempat. Mereka adalah kejujuran, keramahan, kesopanan, dan kesederhanaan. Bagaimana secara jujur dan gamblang kami ceritakan tentang kondisi rumah belajar, dengan tutur lembut dan hangat kami coba sampaikan ide dan keinginan kami, dengan kesopanan kami tanyakan kebutuhan, kritik, saran dan masukan terhadap kegiatan kami, dan dengan kesederhanaan kami memberi pengertian, tentang pentingnya dukungan serta kerja sama orang tua demi suksesnya kegiatan ini. Tanpa memberikan janji, tapi akan kami upayakan sepenuh hati.Â
Sudah lama tidak merasakan hangatnya kebersamaan dengan mereka, adik-adikku tersayang. Semakin terasa hangat ketika beberapa pasang tangan mungil berebut tempat di kedua telapak tanganku. Dedek yang selalu memelukku erat setiap aku datang, Rara yang malu-malu, Adrian yang tanpa segan duduk di pangkuan, Lisda, Reza, Vini, serta Dela dan Kiki yang sudah semakin besar. Mereka adalah adik-adik yang sudah tiga tahun menerima kedatangan kami dengan hangat. Adik-adik yang selalu bersemangat mengantarkan kami kerumahnya atau mengantarkan kami pulang sampai hilang dari pandangannya.
Ah, sudah tidak sabar bertemu lagi. Semoga kami masih dapat memberikan yang terbaik dan yang lebih baik untuk adik-adik disana.
Minggu depan kami datang lagi, tunggu kami yaa! :)
Bandung, 31 Januari 2014

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Apa Coba Kira-kira?
A : Ada satu kegiatan pengabdian masyarakat yang bisa dilakukan siapa saja, dimana saja, kapan saja, bahkan bisa jadi, tanpa biaya. Ia konkrit dan memberikan manfaat kepada siapa saja yang melakukan maupun yang diberi perlakuan. Ia mampu memberikan pengalaman yang luar biasa pada diri pelaku dan memberikan dampak yang bisa dirasakan langsung oleh yang diberi perlakuan.
B : Hmm... apa ya?
A : Apa coba kira-kira..
B : *geleng-geleng*
A : Mengajar
Sudah pergi satu. Rasanya waktu begitu sedikit, sedang saya rasanya belum memberi apa-apa untuk adik-adik. Tidak ingin kehilangan yang lain, tidak ingin meninggalkan sedikit saja waktu bersama mereka. Tidak mau menyisakan saat-saat tertawanya, tangisnya, rengek dan cemburunya. Tidak mau luput dari perkembangan dan tumbuh kembang mereka.
Kepergian Kakak membuat saya sadar, waktu saya tidak banyak. Kapanpun dimanapun, nafas bisa berhenti, hidup bisa saja berganti mati. Apa yang sudah dilakukan, tidak akan pernah cukup. Tidak akan pernah cukup menggantikan apa yang sudah mereka berikan untuk saya. Ribuan momen, cerita, dan segala sesuatu yang selalu membuat saya merasa menjadi manusia yang sebenarnya.
Ya Allah, saya sayaaang banget sama mereka. Semoga masih ada kesempatan.
Bandung, 1 Januari 2014
Hari-hari bersamanya : Untuk Kakak
Sudah lama aku ingin menuliskan ini untukmu. Sudah sebelas hari berlalu, semenjak kau tertidur lelap dalam peristirahatan terakhirmu.Â
Untuk Kakak yang sedang bermain riang disana.
Aku masih ingat ketika kali pertama Kakak  datang mengaji di masjid bersama Dedek, dengan setelan busana muslim strawberry pink yang memikat hati. Semenjak saat itu, aku tidak pernah lupa pada sosokmu. Pada rambut keriting dan pipi tembammu.
Aku masih ingat, kali kedua kau datang ke masjid. Kamu, masih dengan setelan baju strawberry kesukaanmu. Aku datang, kau berteriak memanggil namaku, lalu berlari memeluk tubuhku. Semenjak saat itu dan seterusnya, selalu ada dua buah strawberry yang menempel di tubuhku setiap aku datang. Si kembar yang susah sekali ditebak mana yang Kakak, mana yang Dedek.Â
Aku masih ingat, terakhir kali bermain denganmu. Di lapang hijau itu, kita berlarian saja kesana kemari. Kemudian kau mengeluhkan gatal pada kakimu, akibat rumput-rumput yang memang sedikit tinggi dan menyentuh kaki-kakimu. "Jangan di garuk, sayang, nanti makin gatal." Kataku. Lalu aku usap-usap kakimu perlahan. "Garuknya gini aja yaa..." Kataku sambil mencontohkan. "Wah kak, sudah nggak gatal!" Katamu bersemangat. Lalu kau berlari, menemui teman-temanmu yang juga mengalami hal yang sama. Kau lakukan apa yang aku lakukan sambil berkata, "Tadi kakiku digarukin sama Kak Jamika kaya gini, terus jadi nggak gatel lagi loh!"Â
Aku hanya tertawa.Â
Pulangnya, kau kembali merengek capek, tidak ingin pulang berjalan kaki. Lalu aku bersenandung dengan nada seadanya, berharap supaya kau lupa dengan lelahmu sebentar, sampai kita tiba di masjid. Begitu aku berhenti bersenandung sejenak, kau tiba-tiba mengikuti segala yang aku sandungkan sebelumnya. "Lagi, kak! Lagi!" katamu, memintaku untuk bernyanyi lagi dan lagi. Aku masih ingat, ada dua bidadari yang menemaniku bersenandung. Dua-duanya menggandeng tanganku erat. Entah Dedek di sebelah kanan, Kakak di sebelah kiri. Di setiap jeda senandung yang aku ciptakan, dua-duanya selalu mengikuti dan mengulangi lirik yang aku nyanyikan. Begitu saja seterusnya, sampai kita sampai di masjid, sampai kau akhirnya lupa tentang lelahmu.
Untuk Kakak, yang selalu kami rindukan. Yang selalu meramaikan setiap kegiatan, melindungi Dedek, menggandeng Adi, meminjamkan pensil warnanya untuk Eneng dan Ara, menyambut dengan senyum hangat dan polosnya binar cahaya mata.
Di hari kepergianmu, Dedek bilang,
"Kakak masih ada kok. Dedek kan disini, Kakak di sebelah sini." Katanya, sambil menunjuk pundak kanan dan kirinya secara bergantian.
Untuk Kakak, Terima kasih atas ratusan momen yang kau ciptakan tanpa sengaja, pelajaran berharga yang yang kau berikan ketika kau ada sampai detik ini, sampai ketika kau ada dalam hati kami masing-masing. Terima kasih sudah selalu menyambut kami dengan hangat dan ceria. Terima kasih sudah menjadi adik yang paling kami nanti dan kami tanyakan keberadaannya.
Untuk Kakak Gari Tercinta. I love you, I miss you, always.
Bandung, 1 Januari 2014