Jika ditakdirkan untuk memilih, aku akan lebih memilih untuk tidak membuka hati jika akhirnya tak ditakdirkan untuk bersama.
Rasanya masih sama. Sesak tak karuan, melihatnya sudah memilih jalannya sendiri. Tidak denganku, yang belum ingin membuka jalanku.
Nyatanya, aku jenuh dan terlalu awam untuk melangkah lebih maju. Berbeda denganmu, yang sudah banyak jam terbangnya mengenai urusan hati.
Prinsipku, membuka hati adalah urusan yang jarang atau bahkan sulit. Tergantung pada siapa aku bertemu.
Apakah memang laki-laki ditakdirkan lebih banyak mencintai daripada perempuan? Ah, nyatanya memang begitu.
Terima kasih sudah memilih-nya, bukan memilih-ku. Jika ditanya hal yang sama, mengenai rasa, mungkin aku jawab : tidak lagi-lagi bermain dengan rasa.
Lagi dan lagi, aku lemah soal merelakan. Segala memori yang kadang berputar di otak membuatku terhambat. Bukan soal ia terus berbahagia.. Tapi soal ia yang dengan mudahnya rela.
Sosokku mungkin sering ia temukan dimana-mana. Bertebaran di semesta? Mungkin. Jadi, dengan mudahnya ia rela.
Arrghh...urusan hati sulit diterjemahkan. Cepat ikhlas ya. Supaya aku dan hidupku melangkah maju menuju ridho-Mu. Semoga aku, dan diriku, menemukan sosok yang jaaaauuh lebih baik dari dirinya.
Teruntuk siapapun itu, semoga bisa menggantikan sosok ia yang sedang ku relakan.