Bagaimana jika nasi tidak ada, nasi, manusia bisa hidup tanpa nasi,
seen from China
seen from Macao SAR China
seen from United Kingdom
seen from Hong Kong SAR China
seen from Türkiye
seen from Morocco
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Italy

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Singapore
seen from Mexico
seen from Singapore
seen from Brazil

seen from Malaysia
Bagaimana jika nasi tidak ada, nasi, manusia bisa hidup tanpa nasi,

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pada Ndak Tahukan? Ini Loh Sejarah Tradisi Baju Baru Saat Lebaran
MALANGTODAY.NET - "Baju baru Alhamdulillah, Tuk dipakai di hari raya, Tak punya pun tak apa-apa, Masih ada baju yang lama". Gak asing kan dengan penggalan lagu ini, lagu berjudul Baju Baru yang dipopulerkan oleh penyanyi Dea Ananda memang iconic baget. Tapi, kalian pernah berfikir sejak kapan tradisi memakai baju baru waktu lebaran dimulai? Salah satu tradisi yang tak dilewatkan oleh masyaraat Indonesia adalah membeli dan memakai baju baru. Mungkin kamu selama ini menganggap hal tersebut hanya semacam kebiasaan saja. Padahal, ternyata ada sejarahnya lho. Orang-orang dulu nyatanya sudah melakukan hal ini. Dan berikut ini adalah penjelasan tentang sejarah tradisi baju baru lebaran yang mungkin selama ini belum pernah kamu dengar. Yuk, langsung saja simak penjelasannya yang berhasil MalangTODAY rangkum dari berbagai sumber!
Sudah Ada Sejak Tahun 50-an
[caption id="attachment_286037" align="alignnone" width="890"] Ilustrasi suasana lebaran tempo dulu (Istimewa)[/caption] Ternyata tradisi baju baru saat lebaran ini sudah ada dalam buku Sejarah Nasional Indonesia karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto. Diceritakan bahwa tradisi ini berawal di daerah kesultanan Banten. Untuk menyemarakkan datangnya hari raya idul fitri waktu itu, warga berbondong-bondong mencari baju baru. Untuk yang punya uang sih bisa tinggal beli di pasar. Namun untuk yang tidak punya uang, mereka harus menjahit dulu bajunya. Oleh karenanya, waktu itu banyak petani yang tiba-tiba alih profesi menjadi penjahit waktu lebaran datang.
Gak Hanya di Banten, di Yogyakarta Juga Ada
[caption id="attachment_286038" align="alignnone" width="944"] Jogja tempo dulu@twitter/juju[/caption] Ternyata waktu itu bukan hanya Banten yang memiliki tradisi mengenakan baju baru saat lebaran tiba. Tepatnya di kerajaan Mataram baru, Yogyakarta, warga yang mayoritas muslim melakukan tradisi serupa. Terutama saat hari-hari terakhir bulan Ramadan, semua orang bersiap menyambut datangnya lebaran dengan baju baru. Sama halnya dengan masyarakat Banten, masyarakat di Yogyakarta juga berbondong-bondong untuk mencari baju baru baik beli maupun menjahit sendiri baju barunya. Setelah lebaran semakin dekat, malam takbiran diiringi cahaya obor di sana sini. Sejak saat itulah muncul pula tradisi takbiran keliling yang mirip dengan yang sekarang.
Menjadi Sebuah Tradisi yang Mengakar Sampai Zaman Sekarang
[caption id="attachment_286039" align="alignnone" width="1068"] Baju lebaran zaman sekarang (Istimewa)[/caption] Kini, Lebaran seperti bukan lebaran kalau nggak beli baju baru. Beli baju baru ini kemudian seolah menjadi suatu hal yang wajib, padahal tentu tidak. Pada dasarnya, lebaran merupakan hari raya di mana mereka yang telah berpuasa kembali suci seperti bayi, karena segala dosanya diampuni. Dan berarti harus memakai baju baru. Coba deh kamu perhatikan orang di luar negeri sana apakah mereka memakai baju yang baru untuk lebaran? Kalau masih banyak pakaianmu yang bagus, nggak ada salahnya juga kok kamu pakai pakaian yang lama. Toh di luar sana juga banyak orang yang tidak mampu membeli baju baru dan berlebaran dengan seadanya. Lagi pula esensi dari Idul fitri sebenarnya bukan hanya dari baju baru, tetapi juga dari hati dan kepribadian yang baru, yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. (End)
Source : https://malangtoday.net/inspirasi/pada-ndak-tahukan-ini-loh-sejarah-tradisi-baju-baru-saat-lebaran/
Masya Allah, Ini 5 Al Quran Terunik yang Dimiliki oleh Indonesia
MALANGTODAY.NET – Bagi umat Islam, Al Quran merupakan peganggan hidup untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Semestinya, kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dibaca dan diamalkan isinya. Terlebih ketika bulan suci Ramdhan, umat Islam harus lebih giat lagi dalam mempelajarinya. Berbicara mengenai Al-Quran memang tidak hanya memiliki keistimewaan saja. Tapi juga memiliki beragam bentuk tersendiri. Seperti yang dimiliki oleh beberapa daerah di Indonesia ini, Al Qurannya sangat indah dan membuat orang yang melihatnya terpana. Memang seperti apa sih bentuk Al Quran tersebut dan dari daerah mana saja? Yuk, simak ulasannya!
Al Quran Marmer, Pekalongan
[caption id="attachment_286009" align="alignnone" width="871"] Al Quran marmer (Istimewa)[/caption] Jika biasanya ayat-ayat Al Quran ditulis di kertas, berbeda dengan Al Quran di Masjid Al Muhtarom, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah ini. Lembaran-lembaran ayat Al Quran di masjid ini tertulis dalam bebatuan marmer berukuran 60x90 cm dengan ketebalan kira-kira 2 cm. Al-Quran dibuat oleh Hidayat Siba, pengrajin prasasti yang berasal dari Kota Kajen.
Al Quran Ukiran Kayu, Palembang
[caption id="attachment_286006" align="alignnone" width="1068"] Al Quran ukir (Istimewa)[/caption] Tak hanya dari marmer, ada juga loh Al Quran yang terbuat dari dari bilah-bilah kayu. Di sini, semua ayat Al-Quran tidak ditulis, akan tetapi dipahat dengan indah di permukaan papan kayu yang berukuran 177 x 140 centimeter. Karena Al-Quran tersebut dipahat, maka waktu membuatnya pun cukup lama, yakni mulai tahun 2002 sampai dengan 2008.
Al Quran Terbesar yang Ditulis Tangan, Wonosobo
[caption id="attachment_286007" align="alignnone" width="798"] al quran terbesar yang ditulis tangan @flickr.com[/caption] Al Quran yang satu ini tetap mempertahankan keasliannya dengan ditulis menggunakan kertas. Hanya saja, kertas yang digunakan untuk menulis berukuran besar sehingga menghasilkan Al Quran dalam ukuran besar. Mungkin sebagian dari kalian akan berpikir bahwa kitab besar satu ini dicetak menggunakan printer. Tapi, anggapanmu itu keliru sebab Al-Quran Akbar Wonosobo ditulis menggunakan tangan. Penulisnya bernama Hayatudin dan dibantu rekannya yaitu Anas sebagai penghias mushafnya.
Al Quran Mini yang Menggunakan Tinta Emas, Polewali Mandar
Pada umumnya, Al-Quran yang kita temui biasanya berukuran paling kecil sebesar 14 x 9 cm. Namun ternyata, ada mushaf lain yang ukurannya lebih kecil yakni; 3x2 cm. Kitab satu ini dimiliki oleh Asrul, orang Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang mengaku kalau Al-Quran tersebut sudah menjadi warisan turun temurun. Keistimewaan lain yang dimiliki oleh kitab mini tersebut adalah tulisan Arabnya menggunakan tinta emas dan merupakan hasil goresan tangan. Kebayang gak sih gimana membuatnya?
Al Quran Terindah-Mushaf Istiqlal, Jakarta
[caption id="attachment_238677" align="alignnone" width="696"] Mushaf Istiqlal @rul-sq.info[/caption] Al Quran yang disebut Mushaf Istiqlal ini melibatkan para perancang yang sangat mumpuni. Tim pembuatnya terdiri dari para Khattat (penulis indah) dan pakar desain grafis Institut Teknologi Bandung (ITB). Tim pembuat Al-Quran ini rela menghabiskan waktu selama empat tahun hanya untuk menghasilkan mushaf yang indah dan juga berkualitas. Kalau kalian ingin melihatnya, kitab ini dihadirkan pada pameran Al-Quran Exhibition yang berada di Pasaraya Blok M, Jakarta. Itulah kelima Al Quran unik yang dimiliki Indonesia. Meskipun masing-masing memiliki keunikan tersendiri tentunya isinya sama saja, dan sama-sama merupakan pedoman bagi kita. ah, alangkah lebih baik lagi jika di bulan Ramadan ini kita tidak malas untuk membacanya. Selain kita akan mendapatkan pahala sebanyak 700 kali lipat, Al Quran ini juga menjadi penyelamat kita saat di Padang Masyar nanti. Jadi, yuk bekali diri dengan mengaji! (End)
Source : https://malangtoday.net/inspirasi/masya-allah-ini-5-al-quran-terunik-yang-dimiliki-oleh-indonesia/
Terfavorit saat Lebaran, Ternyata dari Negara Ini Kastengel dan Nastar Berasal!
MALANGTODAY.NET - Lebaran sebentar lagi, banyak hal yang biasanya kita persiapkan ketika hari kemenangan itu, termasuk soal hal menyiapkan camilan untuk tamu yang datang ke rumah. Biasanya ibu kita sudah menyiapkan berbagai jenis kue kering untuk hari raya Idul Fitri nanti. Di antara banyaknya kue lebaran, pasti ada dua kue hampir selalu ada di meja tamu rumah kalian. Ya apalagi kalau bukan kue Nastar dan Kaasstengels. Namun tahu kah kalian bagaimana asal usul kue Nastar dan Kaasstengels itu? Berikut ini adalah asal usul dua kue kering yang selalu jadi favorit saat lebaran itu. [irp]
Kue Kaasstengels
[caption id="attachment_285986" align="alignnone" width="683"] Kue kaasstengels (Istimewa)[/caption] Kue ini tercipta dari hubungan kolonial Belanda dan Indonesia. Di Belanda kue ini disebut dengan Kaasstengels, yang terdiri dari dua kata, yakni: "Kaas" yang berarti keju, dan "Stengels" yang berarti tongkat. Di sisi lain, Kaasstengels bisa diartikan pula sebagai jari (tengels) dan keju (kaas) atau camilan berbentuk"jari-jari keju". Nah, karena lidah orang Indonesia terlalu sulit mengeja Kaasstengels maka disebutlah dengan lebih simple, kastengel. Di Belanda Kaastengels berukuran lebih panjang dan besar. Bahkan panjangnya mencapai 30 centimeter. Biasanya kue ini diisi dengan keju gouda atau edam, yang telah digoreng. Dan Kaastengels Belanda disajikan dengan semangkuk kecil saus sambal pedas. Tentunya hal ini berbeda sekali dengan kastengel Indonesia yang hanya sebesar ukuran jari, sekitar 5 cm. Kue ini pun memiliki rasa gurih dan asin, dan tidak perlu disajikan dengan sambal. [irp]
Kue Nastar
[caption id="attachment_285987" align="alignnone" width="691"] Kue Nastar (Istimewa)[/caption] Ternyata istilah kue nastar itu hanya ada di Indonesia saja, tapi bukan berarti kue ini punya Indonesia. Sebenarnya kue nastar punya nama internasional yaitu, Pineapple tarts (nanas tart). Di luar negeri, seperti; Malaysia, Singapure, Taiwan, dan Australia, kue nastar dikenal dengan nama pineapple cake atau pineapple pastry yang menggunakan selai nanas sebagai isiannya. Lalu mengapa orang Indonesia menyebutnya dengan nastar? Ada kemungkinan itu adalah singkatan dari arti Pineapple tarts atau nanas tart. Namun menurut Inacookies.co.id, Nastar berasal dari bahasa Belanda yaitu "ananas" dan "taart". "Ananas" berarti nanas dan "tart" berarti kue tar. Jika digabung menjadi "ananastaart" atau tar nanas. Di Belanda tar nanas ini lebih mirip seperti kue pai. Nastar di Indonesia telah diadaptasi dengan buah-buahan lokal karena di Belanda nanas tidak tumbuh.Mungkin para Meener Belanda mengadaptasi dari pai apel atau cherry jika di sana. Sementara itu orang sunda di Bandung, menyebut kue Nastar dengan istilah “ganas jeung tarigu” (nanas dan terigu). [irp] Tak hanya muncul saat lebaran saja, saat Hari Raya Natal dan Tahun Baru Cina (Imlek) biasanya juga ada kue isi selai nanas ini. Nastar bahkan sudah lama menjadi kue yang wajib disajikan pada Tahun Baru China (Imlek). Dalam Bahasa Hokian, berarti "ong lai" (yang artinya adalah buah pir emas), yang memiliki arti "kemakmuran datang kemari." Di samping itu, warna emas serta manis dan lembutnya isian nanas melambangkan rezeki yang manis, dan melimpah. Sekarang kamu sudah tahu kan bagaimana sejarah kue kastengel dan nastar. Apa kamu sudah menyiapkan kedua kue tersebut untuk lebaranmu nanti? Mana nih yang menjadi favoritmu? (End)
Source : https://malangtoday.net/inspirasi/terfavorit-saat-lebaran-ternyata-dari-negara-ini-kastengel-dan-nastar-berasal/
Saking Cintanya! Orang Tua Ini Namakan Anaknya Joko Widodo Ma'ruf
MALANGTODAY.NET - Setiap orang tua tentu ingin memberikan nama terbaik pada anaknya. Seperti halnya orang tua di Banaran, Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah, yang memberi nama anaknya Joko Widodo Ma'ruf. Seperti diketahui nama tersebut mirip dengan pasangan Capres-Cawapres nomor urut 01. Kejadian menarik tersebut dikatahui melalui sebuah unggahan oleh pemilik akun Twitter bernama @GibranAbimanyu3 pada 16 Februari lalu. Dalam unggahan tersebut terdapat sebuah foto undangan dalam acara Selapanan. [irp] Sebagai informasi, Selapanan merupakan tradisi yang biasa dilakukan masyarakat Jawa pada bayinya saat mencapai usia kelahiran 35 hari. Dalam foto tersebut terlihat sebuah undangan berwarna merah muda. Menariknya dalam undangan terdapat nama Joko Widodo Ma'ruf yang diketahui sebagai nama anak tersebut. "Saking cintanya sama pak @jokowi keluarga di Sragen Jawa Tengah memberi nama anaknya Joko Widodo Ma'ruf, semoga kelak bisa menjadi seperti pak Jokowi," tulis pemilik akun Twitter @GibranAbimanyu3. Tidak tertera tanggal pelaksanaan pasti dari acara Selapanan tersebut. Namun diketahui dalam undangan acara akan digelar Februari 2019. Hingga berita ini ditulis, unggahan tersebut telah mendapar 304 retweet, 876 penyuka dan 56 komentar. Seperti tidak kalah dengan unggahannya, komentar dari para warganet pun juga cukup banyak menarik perhatian. [irp] "siapkan mental anaknya sedari dini buat menghadapi semua bulian di bangku sekola kelak", tulis akun @pagarajy. "Ngakak wkwk semoga jadi anak sholeh btw," ujar @wonokonowono24 dalam cuitannya. "Semoga besar nanti bisa menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa,bagi kedua orangtuanya,bagi agamanya,bagi lingkungannya dan bagi diri sendiri..... Amiin" tulis @iyl_159. (HAM)
Source : https://malangtoday.net/featured/namakan-anak-joko-widodo-maruf/

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Pernah Nikah 6 Kali hingga Sebatang Kara, Kakek Ini Gali Makam Untuk Dirinya
MALANGTODAY.NET – Tak ada satu pun manusia yang mengetahui bagaimana caranya menyambut kematian. Hal ini karena kematian adalah rahasia ilahi yang tak ada satu pun insan mengetahui kapan pastinya ia mati. Namun seorang kakek di Sulawesi Selatan diberitakan telah mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Bahkan, ia diketahui telah menggali makam untuk dirinya sendiri. Dilansir dari Detik.com, Minggu (10/2/2019), seorang kakek bernama Lasikkiri (78) menjadi perbincangan di Desa Massulowalie, Kecamatan Mattirosompe, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Ia diketahui telah menggali dan menyiapkan makam untuk dirinya sendiri saat meninggal kelak. Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sekkang dipilih menjadi persemayaman terakhirnya.[irp] Lasikkiri mengaku bahwa motifnya menggali makam sendiri karena ia tak ingin merepotkan orang lain nantinya. Ia bahkan diketahui telah memasang keramik di sekitar liang lahat dan membangun bangunan seperti rumah di atasnya. “Biar nanti ketika saya meninggal, tidak merepotkan orang, liang ini saya kerjakan sendiri selama 4 hari,” kata Lasikkiri. Saat ini, Lasikkiri merupakan pria sebatang kara dan tak memiliki keturunan. Ironisnya, ia mengaku telah menikah hingga 6 kali namun juga tak kunjung diberi keturunan. Ia sempat mengangkat seorang anak dan dirawat hingga dewasa. Namun anak tersebut memilih meninggalkannya setelah menemukan tambatan hati.[irp] “Tidak tahu apa salah saya, sehingga diperlakukan seperti itu,” imbuhnya. Sementara itu, Kepala Desa Massulowalie, Musdalifa, membenarkan kabar tentang Lasikkiri itu. Ia juga menuturkan bahwa kakek tua itu selama ini hidup di TPU. “Betul, Lasikkiri salah seorang warga yang menggali liang kubur untuk dirinya,” tuturnya. (sig)
Source : https://malangtoday.net/flash/nasional/kakek-gali-makam-untuk-dirinya/
Sebut Kucing Benda Cair, Ahli Fisika Ini Berhasil Raih Nobel!
MALANGTODAY.NET – Jika kita lihat dan nalar secara logika, makhluk hidup seperti kita adalah benda padat karena memiliki bentuk dan ukuran tetap dan tak mengalami perubahan bentuk saat dipindahkan. Hal serupa juga berlaku pada hewan, dan makhluk hidup lainnya. Namun pernyataan ini perlu diralat adanya. Sebab, seorang pakar fisika asal Prancis bernama Marc-Antoine Fardin berhasil memenangkan nobel karena menyebutkan teorinya bahwa kucing memiliki sifat yang mirip dengan benda cair. Makalah teoritisnya yang berjudul On the Rheology of Cats mengantarkannya meraih Ig Nobel Prize 2017 lalu.[irp] Dilansir dari The Conversation, Ig Nobel Prize merupakan penghargaan yang diberikan oleh organisasi bernama Improbable Research. Organisasi ini mendedikasikan diri untuk sains dan humor yang bertujuan untuk menyoroti humor dalam perspektif kajian sains. Upacara penyerahan penghargaan ini diadakan setiap tahunnya di Harvard University, Amerika Serikat (AS). Dalam risetnya, Fardin menjelaskan bahwa cairan merupakan zat yang mampu menyesuaikan bentuk sesuai dengan wadah yang ditempatinya. Ia menilai bahwa kucing juga memiliki sifat benda cair dengan mengupasnya dalam bidang ilmu reologi. Reologi sendiri adalah studi tentang deformasi dan aliran materi. Fardin mengungkapkan fakta bahwa kucing ternyata memiliki potensi untuk mencair. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana kucing bisa menyesuaikan bentuknya berdasarkan wadah yang ditempatinya. Namun dengan syarat bahwa kucing diberi waktu relaksasi lebih dulu untuk menjadi ‘cairan’. Dalam studi reologi, fenomena ini dinamakan tiksotropi.[irp] Dalam fisika, ada suatu fenomena yang diberi nama Bilangan Debora. Bilangan ini adalah contoh bilangan tanpa dimensi yang dalam reologi bisa digunakan untuk menentukan keadaan atau karakteristik suatu benda atau sistem. Bilangan Debora tanpa dimensi, dan rasionya tidak memiliki dimensi. Sudah pusing? Ya sudah, mari kita tertawai sejenak. Lalu berpikir. (sig)
Source : https://malangtoday.net/inspirasi/tekno/kucing-benda-cair/
Ceroboh Parah, 3 Kejadian Ini Hampir Datangkan Kiamat Lebih Cepat!
MALANGTODAY.NET – Tak bisa dipungkiri, di balik anugerah sebagai makhluk Tuhan yang memiliki akal budi, manusia juga dikenal sebagai makhluk paling ceroboh di muka bumi ini. Sejarah mencatatkan bahwa beberapa kali para anak-anak Adam ini telah melakukan beberapa hal yang sebenarnya tak perlu namun hampir bisa dikatakan mempercepat kiamat. Yap, itulah manusia. Kita sendiri terkadang menyadari bahwa tingkah laku kita cenderung mengantarkan pada hal-hal yang sifatnya menghantarkan kehancuran. Redaksi MalangTODAY merangkum dari berbagai sumber tentang 4 kejadian akibat kecerobohan manusia yang bisa saja mempercepat kiamat. Apa saja itu? Berikut ulasannya![irp]
Kelaparan di China
[caption id="attachment_272498" align="aligncenter" width="1064"] Ilustrasi kelaparan di China @Flashbak[/caption] Sebelum menjadi negara adidaya seperti sekarang ini, China pernah melalui masa kelam. Pada tahun 1952 – 1962, Negeri Tirai Bambu ini pernah dilanda bencana kelaparan parah yang memakan korban hingga 45 juta orang. Penyebabnya adalah salah sangka masyarakat terhadap burung pipit yang dituduh memakan hasil pertanian mereka. Alhasil, penduduk China melakukan pemberantasan terhadap burung pipit. Ironisnya, binasanya burung pipit justru membuat serangga pemakan tanaman berkembang subur tanpa pemangsa alami mereka, yakni burung pipit. Kehadiran serangga itu mampu menurunkan hasil panen di sleuruh China mencapai 70 persen![irp]
Kebakaran Hutan di California
[caption id="attachment_272497" align="aligncenter" width="1064"] Ilustrasi kebakaran hutan @The San Diego Union-Tribune[/caption] Salah satu wilayah besar di Amerika Serikat (AS), California, pernah menjadoi korban kecerobohan tidak perlu. Pasalnya, terjadi kebakaran hutan terbesar sepanjang sejarah AS pada tahun 2003 lalu. Kebakaran ini bahkan menghabiskan hampir 800.000 hektar hutan. Kebakaran ini juga memakan korban 15 orang dan kerugian jutaan dolar. Lalu apa penyebabnya? Sederhana! Seorang pemburu tersesat di hutan dan berusaha memanggil bantuan dengan menyalakan api untuk menunjukkan sinyal penyelamatan. Namun sayang seribu sayang, apa yang dilakukannya malah membakar hutan. Pemburu itu hanya diganjar hukuman 6 bulan penjara saja, lho![irp]
Pertempuran Bunuh Diri
[caption id="attachment_272500" align="aligncenter" width="1064"] Ilustrasi Pertempuran Karansebes @Wikipedia[/caption] Identiknya, pertempuran adalah upaya membunuh lawan. Namun yang terjadi antara Kekaisaran Ottoman dan Austria pada tahun 1787 – 1791 sungguh berbeda. Austria memang kalah telak dari Ottoman. Namun terlepas dari itu semua, Pasukan Austria sempat keliru mengira kawan sebagai lawan saat Pertempuran Karansebes. Alhasil, pertempuran bodoh nan sia-sia itu memakan korban hingga 10 ribu jiwa.
Penulis: Radea Hafidh Editor: Radea Hafidh
Source : https://malangtoday.net/inspirasi/hiburan/3-kejadian-datangkan-kiamat/