Yaumu-l-Hisaab
Engga bisa bayangin, berat banget ya bagaimana Allah menghisab semua amal perbuatan kita. Semua amal perbuatan, bukan cuma harta benda material, tapi ilmu, perkataan, perasaan, dan apa yang terjadi dalam hidup kita dihitung.
Kamu belajar, kamu mengerti.
Tapi kenapa kamu tidak kembali mengajarkan? Kenapa kamu tidak kembali mengamalkan? Kenapa kamu diam, sedangkan kamu tahu mana yang buruk, mana yang benar. Kamu tahu mana yang harus diutamakan? Kenapa kamu dzhalim?
Kamu makan, kamu kenyang.
Sedangkan kamu tahu, saudaramu masih lapar. Kamu meninggalkannya dalam perut kosong, sedangkan kamu terlena dalam kenikmatan. Kamu tahu, bahwa mereka membutuhkan, tetapi mengapa kamu tidak datang memberi makan?
Kamu cukup, kamu punya uang, kamu punya harta.
Tapi, kenapa saudaramu masih saja ada yang mencuri? Masih ada yang belum tercukupi, masih ada yang tidak merasa bahwa Allah itu Maha Memberi.
Kamu sehat,
Tapi kenapa kamu tidak menjaga apa yang ada dalam diri. Kamu sering kali mengeluh. Bukannya Allah menyuruhmu untuk menjaga segala titipan dan apa yang diberi. Mengapa kamu tidak bersyukur?
Kamu sehat,
Tapi sering kali mengeluh tentang nikmat apa saja yang Allah titipkan. Kamu bisa melakukan dibandingkan mereka yang cukup dan bahkan kurang darimu, tetapi kenapa kamu tidak bersyukur?
Sekali kali, kamu dzhalim jika kamu tak memohon ampunan kepada Allah. Dan sungguh sangat merugi, bagi mereka yang tidak mensyukuri apa yang Allah beri. Hari Perhitungan dan yaumul hisaab, adalah pedih perih, bagi mereka yang tidak meminta kemudahan pada Allah.
Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Inni kuntu minadzh dzhaalimin!















