i comforted her and she stopped crying, but outside it kept on raining
Ia mencoba. Dari dulu hingga sekarang yang ia lakukan selalu mencoba—mencoba menjadi anak berbakti, menjadi pelajar dengan nilai sempurna, menjadi kapten yang bisa dijadikan panutan, menjadi pewaris dari kerajaan bisnis keluarganya. Istilah trial and error tidak pernah ada dalam kamusnya, ia dituntut untuk tidak memiliki cacat dalam hal apa pun. Dan, ya, ya, ia mencoba. Ia masih terus mencoba.
Untuk menjadi suami yang baik.
Ayahnya punya alasan lain dibalik rasa suka citanya pada pernikahan ini, bahagia atas pernikahan putra pertamanya bukan salah satunya. Kontrak bisnis akhirnya terealisasi, jabat tangan tanda deal untuk kerja sama sekian tahun ke depanlah alasan kenapa ayahnya yang biasanya minim ekspresi kini terlihat girang sepanjang hari.
Adik perempuannya memeluknya erat ketika mengucapkan selamat sambil membisikkan doa agar ia selalu bahagia, dan ia membalas seraya melirik laki-laki yang dibawa adiknya ke pernikahan ini sambil berucap `Kamu sakiti adikku, kupatahkan tulangmu`. Laki-laki itu akan mundur, takut, seperti biasa. Ibunya lebih formal dan memberikan kecupan singkat di pipi kanannya sambil berkata bahwa ia beruntung menikahi gadis secantik itu. Ia tersenyum ketika membalas, `Ya, ya, Ibu, dia memang cantik sekali, bukan?`. Semua teman-temannya datang memenuhi undangan tanpa terkecuali—teman SMA, teman kuliah, rekan kerja di kantor—ucapan selamat dan siulan-siulan tanda menggoda hanya ia tanggapi dengan seulas senyum tipis saja.
`Kalian kapan nyusul?`
Satu kalimat balasan darinya yang sukses membuat mereka hanya mengeluarkan cengiran sambil bubar jalan serempak untuk kembali berburu makanan.
Kemudian, ketika acara ini selesai, orang-orang mengatakan bahwa pernikahan ini sungguh berbahagia.
Mereka ini tahu apa?
"Kamu akan baik-baik saja," Itu yang ia ucapkan pada gadis yang sudah resmi ia persunting, gadis dengan air mata yang belum berhenti mengalir sejak upacara pernikahan berakhir beberapa jam lalu. "Kita akan baik-baik saja."
Ia tidak menjanjikan kebahagiaan pada gadisnya, ia tidak bisa menjanjikan itu. Kebahagiaan adalah hal yang keduanya sudah sama-sama korbankan hanya untuk pernikahan ini, untuk apa menjanjikan sesuatu yang ia tahu tidak bisa ia tepati? Ia juga tidak bisa memberikan cinta seperti yang diinginkan gadis-gadis ketika ada seorang pria yang meminang mereka. Ia bukan pangeran berkuda putih, tidak pernah menjadi itu. Mungkin bagi gadisnya sosoknya lebih erat diasosiaskan sebagai monster.
"Kamu tahu aku tidak membencimu," Suara gadisnya lirih terdengar di antara isak tangis. "Dan kamu juga tahu aku tidak mencintaimu. Lalu apa sebenarnya kita ini?"
Ia tahu jawabannya tanpa berpikir panjang.
"Dua orang yang sedang berpura-pura."
Karena semenyedihkan itulah hidup keduanya.
"Kita akan baik-baik saja." Lagi, ia mengatakannya bagai mantra. Seakan ia sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri alih-alih menenangkan gadisnya. Ia lalu menyentuh bahu gadisnya dengan agak ragu, sudah mengantisipasi jika sentuhannya mungkin akan dielak dengan kasar. Tapi gadisnya bergeming, membiarkan tangannya tetap bertahan di bahunya yang masih bergetar akibat tangis.
Keduanya tahu mereka tidak akan pernah sepenuhnya bahagia.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming