Nak jd melentik camni? pantang cek comi tengok mesti kerrass wasap.my/+60106693321/nakLentik #awekmelayu #naklentik #indahalam #bit.ly/indahalam (at Johor Bahru) https://www.instagram.com/p/B7cTg4HJvIa/?igshid=1mwzyl2quoqzp

seen from Congo - Brazzaville

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Poland

seen from United States
seen from China
seen from France
seen from United States
seen from Kazakhstan
seen from South Korea
seen from Canada

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Russia
Nak jd melentik camni? pantang cek comi tengok mesti kerrass wasap.my/+60106693321/nakLentik #awekmelayu #naklentik #indahalam #bit.ly/indahalam (at Johor Bahru) https://www.instagram.com/p/B7cTg4HJvIa/?igshid=1mwzyl2quoqzp

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
labuh, perahu tak datang
Lama hari telah berganti episode baru akan teruntai layak untuk dapat terpakai di kemudian. Berjalan hendak pergi suatu tradisi indah saat tak ingin ku ganti. Sesuatu itu adalah seseorang yang bebas terbang membentangkan sayapnya dan menjadikan segala sesuatu hal tetap bahagia. Dia yang layak atau tak layak dapat ku rangkul, dia yang mempunyai sejarah buruk, dia yang memang terlihat tanpa ada rasa tersakiti. Hendak pukulan keras dan hantaman tajam hanyalah senyum manis dari bibir kecilnya yang menjadikan tameng dari semua serangan.
Dia adalah orang di balik rasa gundah ku, dia adalah orang di balik ketakutan ku, dia adalah orang di balik tangis ku bawa saat dunia tidak berpihak padaku, dia laksana perekat suatu keyakinan yang pecah saat semua terhampar luas ke penjuru arah. Adalah akhir dari penyesalan dan kekesalan, adalah jawaban apa yang ingin ku lakukan, adalah arah saat mata angin terus berhembus menerpa ku. Saat terang ku lihat dia memandu dengan aura yang mungkin tak di sadarinya, saat gelap datang ku lihat dia sebagai rembulan yang memberikan cahaya.
Layaknya kisah yang tertulis indah, waktu dan detik berjalan berputar pada rotasinya. Dari tinta hitam tergores di kertas putih, menghabiskan lembarannya, memberikan ceritanya agar dapat terkenang dan terus ada. Dia pergi hendak berseberang pulau dengan kapal di sebuah pelabuhan, dengan senyum yang memang tidak terlupakan lambaian tangan terus ku lakukan membawa sedih tertahan saat melihatnya pergi. Teringat memorinya yang terucap saat duduk bersama, mengatakan kesedihan itu layaknya suatu bencana, akan datang dan pergi begitu saja, tapi ada suatu bunga yang akan tumbuh indah saat beberapa waktu yang terlewati. sebagian pesannya yang sulit terlupakan membuat penaku tak henti menulis, puluhan lembar pun terisi, manis ku baca, ingin ku terjadi kembali saat waktu berpihak pada ku dan senyum terlihat padanya. Adakala saat semua yang terjadi ku baca kembali, keinginan untuk memutar waktu, keinginan untuk dahulu ada bersama dia, keinginan untuk ku siap dengan bahu ku untuk sandaran dirinya saat menghadapi rasa sakitnya.
surat-surat telah sampai pada tujuannya, melintasi laut tanpa kurangnya goresan tinta membentuk kalimat. Perbincangan semakin larut, suasana pecah tapi memberi warna baru, kisah ku terlupa, dan tulis ku kini untuknya. Belasan kali kertas dari ku dan darinya terbuka dengan jari-jari ini, belasan kali tinta dari ku dan darinya menggoreskan isyarat-isyarat penuh makna, dan ratusan kali tertulis rasa rindu yang membuat suatu kehangatan tanpa ku melihat senyumnya. Kini, kisah ku terlupa, dan tulis ku kini untuknya.
Bait-bait terhantar, kalimat-kalimat terlepas, kini ku lihat benar-benar suatu rasa yang memang sulit di ucap. Dari kata-kata yang tertulis, makna lebih akan keadaan yang ada ku siratkan pada kertas-kertas itu, dengan apa yang ku rasa, kejujuran itu tertuang pada kalimatnya. Suatu keingian lebih tapi tak ingin menyakiti, suatu makna besar dengan rasa ku untuknya, suatu cerita yang benar-benar ingin diri ku dan dirinya tulis bersama. Harap waktu dapat berputar, harap singgahan membuat ku sadar, harap ku dahulu lebih tau hal ini akan terjadi, hal ini akan ada, dan hal ini yang ku inginkan. Barisan-barisan kata itu yakin tertulis dan tanpa suatu pemikiran apa yang terjadi nanti, aku pun kirimkan kertas itu. Menunggu dengan harapan, jujur ku terlontar, harap ku sadar bahwa semua ini ku lakukan karena rasa yang berbeda telah singgah dan ingin ku rasa itu dapat menetap.
Kertas itu pun terbang melintasi arus-arus laut dan menerjang ombak-ombak yang menghantam kapal. Suara burung camar senantiasa terlantun menemani kejujuran ku. Harapan terus berharap, terfikir terus terfikir, mimpi-mimpi ku akan buruknya kejadian yang sungguh tak ingin ku lihat, pernah ku ceritakan padanya, ketakutan-ketakutan ku saat lemah menghadap telah ku bincangkan padanya, kini mimpi itu mengarah padanya, kini ketakutan dan lemah ku ada padanya. Malam yang terlewatkan bersama ribuan bintang mengisyaratkan rasaku untuknya. Terangnya rembulan saat ku bersandar dan melantunkan nyanyian sunyi bagai hendak ku menatap matanya. Pagi yang datang, embun yang mengering hendak berharap pucukan kertas itu datang, dan berisikan apa yang ku inginkan.
Ingin ku itu pun datang, matahari sungguh terik bersinar, sinar yang ia pancarkan sungguh terasa berbeda. Panas yang terik membakar kulit yang basah dengan keringat. Pijakan kaki ku pun mulai melangkah beriringan. Lihat ku mencari kertas itu saat rasa tak sabar menyelimuti, dengan senyum penuh percaya akan apa yang di harapkan itu terwujut. Lihat ku pada pucukan kertas yang ku mau, berlari kecil menuju bangku taman hendak duduk dan tersenyum. Sobek pada ujung kertas, buka lipatan dan ku baca kata demi kata. Harap ku pun tiba-tiba sirna, terbaca makna jelas bahwa harap ku tak sebaiknya ada. Kecewa ku rasa, kembalinya mimpi buruk yang hadir, membawakan suasana yang sangat jelas degan sinar matahari yang memberikan teriknya itu. Aku mengerti hari ini tartanda, hari ini tertulis, hari ini akan termimpi, dengan sebuah suasana rasa sakit hati.
Awal rasa yang terhadapi dalah suatu sosok penyayang, dengan batasan yang sama-sama terbangun, suatu batasan dari apa yang di sadari, suatu batasan yang sekiranya saat kita bercerita bersama tak ada satu kesalahan kecil yang akan terjadi. Senang saat duduk di balkon rumah dengan berbagai cerita pilu ku, senang saat sama-sama menghabiskan makanan dan saling bertatapan, senang saat berjalan berarah ke satu tujuan yang sama dengan kisah pilu yang telah di ketahui dan tak ingin terulang. Kini musnah.
Episode ini adalah diriku yang selalu ingat dimana dia hadir, gegas ku membaca kata demi kata dari goresan tinta itu. Mengisyaratkan kepulangannya yang dapat menghitung hari, tapi kekecewaannya yang akan terhitung tahun. Hembusan terpaan yang dihadapi ku membuat semua ini terasa berat, gemuruh petir atau hempasan ombak pun laksana beban yang harus di hadapai, tapi dari mulut kecilnya, pemberian ilahi yang tak ada taranya membuat ku merasakan itu semua hanyalah sesuatu hal yang sebenarnya dapat di hadapi dan terlewati. dari semua rasa yang bercampur aduk, dari seluruh putaran matahari, dan dari seluruk cahaya bulan yang memberikan suatu kenangan tersirat, memang aku adalah orang pelanggar, aku adalah orang yang menghancurkan pembatas itu.
Di hari itu aku tunggu dia di pelabuahan, dimana maaf ku mengiringi untuk ku sampaikan. Hari penuh dengan tetesan hujan seakan langit pun menangis karena dosa ku, langit pun kecewa pada ku, dan langit pun menghalangi ku untuk menuju ke pelabuhan itu. Tahap ku melangkah berputar berbalik arah pada gubuk tua yang ku singgahi, pikiran tertitik ke satu tujuan yaitu maaf. Ku ulangi itu terus ribuan kali teriring nafas ku yang terhentak, berayun ku dalam ketakutan tertera menuntun bersama detak jantung. Hanyut ku bersama derasnya hujan yang semakin kencang, angin laut pun menyisir daun-daun pohon kelapa, angin laut pun seakan mendobrak bambu-bambu gubuk, angin laut pun mengencangkan derasnya hujan tapi tak lebih dari apa yang ku pikirkan. Apakah aku saat ini, apakah aku layak menunggu, apakah maaf ku akan diterima, apakah mulut ku ini, mengucap tak terfikir, beranjak karena ego.
Lama ku menunggu, lama ku terus berfikir, lama ku tak tersadar, air laut pun pasang, ombak berhamburan, apa ini yang terjadi, apa ini penolakan alam atas semua perbuatan ku, apa ini akhir dimana kata maaf ku tidak akan dapat tersampaikan. Terdiam masih ku menunggu, terdiam ku dengan kesabaran, terdiam ku dengan kesabaran yang ku anggap pastilah ada. Aku duduk, aku termenu, aku bersandar di untaian lembaran bambu tipis sambil ku pegang kepala ku, menekukan kaki ku dan terus berdoa dari bibir tajam ku.
Tengok ku terhalang tangan, sinar matahari pun tibanya mengarah ke wajah penyesalan ini, saat beberapa saat ku sadari hendak terlewat hujan deras, pastilah warna-warna yang indah akan terlihat. Harap ku kembali datang, harap ku kembali cerah, senyum ku terlepas, kaki ku pun ku coba luruskan, beranjak dan berjalan keluar. Gemetarnya tubuh saat melangkah, terlebihnya rasa gelisah tertetes-nya keringat dan air mata lekas terusap. Langkah terhenti, ku buka pintu kayu teranyam bambu, terteduh hati ketila terlihat langit yang indah dengan pesona warna-warna yang indah berkilau. Lihat ku terhenti indah pesona yang sejuk akan perasaan yang terdera badai.
Tapi senyum itu tidaklah lama, detik itu kembali menjauh sebab ku lihat dan tercengang akan apa yang ku lihat. PELABUHAN ITU TENGGELAM, bersama apa yang ku harapkan. Apa yang terjadi, akankah kejadian ini tidak akan mengubah rotasi kehidupan walah hanya satu inci, mulut ini terus lah mengucap doa, hati ini terus menerus di teduhkan dengan awan yang membawa badai hati. Apa yang terjadi, aku hanya diam menahan tubuh, berdiri di terpa angin laut yang kunjung pelan dan menjadi sejuk. Matahari pun masih tetap bersinar menemani, pelangi tetap menunjukan kilau warna-warninya. AKU BERSAMA KEINDAHAN YANG MENEMANI, TAPI DIRI INI SERASA MENOLAKNYA. Terus ku berdiri sampai langit itu luntur dan menghitam, menunggu dengan kepercayaan yang selalu ku yakini, “pasti akan datang” kalimat itu yang selalu aku ucapkan dan selalu ku percayai. Apa ini, hanya menunggu, aku selalu sabar, hanya menunggu, gelap pun datang, walau hanya mununggu.
Malam pun membuat hari ini menjadi panjang, sinar sore dengan keindahannya pun berganti rembulan yang indah, aku lihat itu, aku perhatikan itu, bersama warna tunggal bercahaya dari ribuan bintang yang menggantikan warna-warni pelangi yang telah menghilang. Rembulan ku, telah berubah, aku pikir indahnya, cahaya yang menemai, hawa sejuk yang di beri adalah dia yang selalu dalam pikiran, selalu dalam mimpi, selalu dalam harapan. Harapan itu pun tetap menunggu sampai kelopak mata ini terasa berat lagi untuk terangkat, tubuh ini pun mulai goyak tertiup angin malam, and tubuh ini terjatuh dengan tatapan akhir melihat ribuan bintang yang indah, dan tertutuplah kedua mata ini.
Tubuh ini tumbang, mata ini lelah, raga yang tergeletak pada pasir pantai putih terselimuti oleh gelap malam indah dengan taburan bintang, tanpa mimpi yang kuharapkan datang membawa kabar indah agar angan ku dapat berharap kisah mimpi itu kan menjadi nyata. Saat mata kembali terbuka dengan tubuh penuh dengan perasaan luka batin, dan kaku pada tubuh ini. Ku paksa untuk berdiri, ku paksa untuk tegakkan badan ini, ku paksa untuk menatap hari yang telah terpasrahkan untuk berubah. Seketika itu ku lihat pelabuhan itu telah hancur, seketika itu ku lihat mentari cerah, seakan memberikan suatu energi layak untuk melewati hari yang baru. Sungguh apalah cerita ini, apalah kisah ini, kembali ku dudukan raga ini bersandar pada kayu anyaman bambu berfikir, dan menatap langit dan indahnya alam yang sebenarnya dapat di nikmati dengan segala rupa yang di berikan dari sang pencipta. Aku berfikir, aku usap lara ku, aku tegakkan badan ini, aku tatap pada alam, dan aku tersenyum, menatap dan mengingat malam yang seharusnya dapat di nikmati keindahannya diluar harapan yang kini telah sirna. Sadar ku kembali, pulang pada rumah yang seharusnya, di ikuti raga ini yang kembali pada tempat aku seharusnya mengistirahatkan tubuh dari hidup dan kehidupan ku. Tersadar, menahan tawa ku yang menertawakan diri sendiri dengan langkah-langkah kecil menuju atap ku. Istirahat, aku butuhkan itu, jiwa dengan luka lekas di sembuhkan. Tak lama hari berganti sepucuk kertas dengan goresan tinta dengan tanda tangannya ku dapatkan kembali, aku duduk pada kursi tua terletak pada taman di halaman depan rumah dan membaca kertas itu. Air mata pun jatuh pada rerumputan, senyum ku pun menarik selua lara, dan aku bebaskah tubuh ini, aku lepaskan semua lara, aku biarkan otak ini berfikir luas, dan aku baru dapat kembali merasakan bagaima rasanya tertawa bebas.
Alam telah bicara dengan caranya, semua keindahan sebenarnya telah menemani ku saar air mata itu jatuh ke bumi, luasnya samudra sebenarnya mencoba menyadarkan, hembusan angin sebenarnya coba meneduhkan hati yang terbakar semua emosi, bentangan langit luas sebenarnya telah telah memberikan semua energi cahayanya untuk ku menyadari hal yang sepantasnya ku sadari sejak awal. Semua telah membantu ku dengan caranya masing-masing. Kini ku sadar, keyakinan dahulu hanyalah emosi layak pendeknya waktu untuk melihat, dan singkatnya berfikir dengan lebatnya kata-kata kejujuran. Kini ku selalu percaya walau awan di atas laut setiap harinya akan tertiup pergi, berbeda dari sebelumnya, atau tiap jam pun akan berbeda, tapi langit itu akan selalu biru. Layaknya dia disana dan aku di sini akan tetap mencoba tidak akan berubah walau semua rasa ku akan musnah di makan detik yang bergulir meninggalkan waktu yang lalu dan menyeberang pada hari esok. Kau akan selalu ada pada ingatan ku, tapi tersingkir dari harap yang dahulu ku inginkan. LABUH KU MASIH AKAN ADA UNTUK APA YANG KAU MAU, tapi labuh ku kini hanya ada gubuk tua yang benar-benar dapat di gunakan pada mereka yang sudi untuk bermalam di sana. TERIMA KASIH ATAS MEMORI YANG TELAH DI BERIKAN.