Oleh-oleh dari Seminar Hasil Skripsi Untuk Calon Ibu
Hari ini saya menghadiri Seminar Hasil Skripsi teman saya untuk pertama kalinya. Ya, karena teman saya ini merupakan mahasiswa di jurusan & angkatan kami yang pertama kali melakukan Seminar Hasil. (FYI, kalau di fakultas saya, Seminar Hasil itu step terakhir menuju sidang skripsi). Kebetulan Dosen Pembimbing Utama-nya (DPU) adalah Ketua Komisi Pembimbingan Skripsi, yang bernama Bu Triana.
Bu Triana adalah seseorang yang religius dan memegang kuat syari’at, salah satunya tercermin dari sikap beliau yang tidak pernah sekalipun menjulurkan tangannya kepada non mahram. Beliau memiliki seorang anak (dan satu-satunya) bernama Farhan, yang usianya 6 tahun. Farhan sering sekali diajak ke Jurusan, terkadang ikut beliau mengajar di kelas juga. Farhan ini anaknya super duper nakal dan annoying (wajar banget, ya begitulah anak-anak, apalagi laki-laki).
Pada saat Seminar Hasil teman saya berlangsung, tiba-tiba ada ‘selingan iklan’. Farhan tiba-tiba masuk ruangan seminar dengan menggebrak pintu dan membuat orang-orang di dalam ruangan terkejut. “Mi, tolong bukain ini!!!” Bentak Farhan sambil menghampiri ibunya untuk minta dibukakan snack.
Kemudian Farhan loncat-loncat dan teriak-teriak gak jelas di sebelah papan tulis. Tak lama kemudian dia mengambil penghapus papan tulis beserta spidolnya, lalu berjalan merangkak di bawah meja moderator seminar, kemudian berdiri lagi sambil melemparkan penghapus dan spidol itu ke arah saya. Setelah itu Farhan keluar ruangan sambil menggebrak pintu. Beberapa menit kemudian, Farhan masuk ke dalam ruangan seminar lagi sambil menggebrak pintu lagi, kemudian dia melempar kerupuk yang masih dibungkus plastik kepada ibunya, tapi akhirnya justru mengenai wajah moderator Seminar Hasil. Dia minta plastik itu dibuka. Kemudian dia menuju layar proyektor sambil menggulung-gulung layar proyektor dan melepaskannya sambil menggebrak layar proyektor. Ampun deh sama kelakuan Farhan!!! Hahaha. Suasana Seminar Hasil jadi gaduh.
Maaf ya kalo ada selingan. Anak saya memang seperti itu. Kadang saya bingung mau gimana lagi, namanya juga anak-anak.
Jadi ini contoh ya, anak saya ini adalah contoh dari seorang anak yang kurang perhatian. Jadi dia itu butuh perhatian ibunya. Saya memang kurang memperhatikan dia. Kan gak bagus to kalo ngurus anak itu disambi bekerja. Jadi untuk Anda yang akan jadi ibu nanti, ingat bahwa anak itu selalu ingin jadi nomor satu.
Anak saya ini kalo ibunya kerja itu gak suka. Jadi untuk melampiaskan itu, dia melakukan hal-hal yang tidak disukai oleh ibunya agar dia mendapatkan perhatian. Dia sebetulnya tidak ingin melakukan hal-hal seperti itu tadi. Dia hanya ingin tahu kalo dia melakukan hal yang seperti itu, saya pasti gak suka. Farhan tahu kalo saya paling gak suka saat dia menggebrak layar proyektor, makanya dia lakukan itu. Kalo dia berdiri di depan sambil loncat-loncat, dia tahu kalo saya gak suka, makanya dia lakukan itu, karena pasti saya akan memperhatikan dia.
Dia ingin perhatian karena dia tahu bahwa saya selalu kerja terus, dan dia tidak ingin saya bekerja. Dia ingin saya segera pensiun katanya. Dia tanya ke saya, “Pensiun itu apa, mi?”. Saya jawab, “Pensiun itu kalo seseorang sudah tidak bekerja lagi.” Katanya Farhan, “Ya udah kalo gitu ummi pensiun aja!!”.
Jadi itulah contoh pikiran-pikiran sederhana yang sangat natural, bahwa anak itu sangat membutuhkan seorang ibu. Jadi nanti kalo misal anak anda dirawat oleh pembantu, kemudian saat anda datang dari bekerja dan anak anda langsung rewel, maka itu adalah hal yang sangat wajar.
Baiklah, itu sedikit pengetahuan tentang ibu. Karena sebentar lagi Anda mau lulus, dan akan menjadi seorang ibu, kan ya? Ini loh sudah kelihatan, wajah-wajah mana yang akan segera “melakukan” (Kata beliau sambil tertawa)
Kemudian seorang adik angkatan sekaligus rekan di organisasi yang duduk di sebelah saya langsung nyolek saya, “Mbak udah siap jadi ibu ya?” Waduh, nih anak sudah lama banget gak ketemu saya, sekalinya ketemu tiba-tiba nyodorin pertanyaan kayak gitu, haha. Ya sudah, cuma saya senyumin aja anak ini. Padahal dalam hati saya berkata, “Kok tahu? Iya ini udah kebelet banget jadi ibu.” Haha!!
Saya yang baru-baru ini mencicil belajar ilmu parenting sangat memaknai kejadian ini, bahwa seorang anak pasti butuh perhatian dari orang tuanya, terutama ibunya. Wahai calon rahim peradaban, mari kita merenung, apakah nanti kita akan bekerja di luar rumah atau memilih di rumah menikmati waktu bersama anak kita? Waktu dan momen-momen bersama anak adalah hal yang tidak bisa ditukar oleh apapun, apalagi saat anak berada di masa golden age dan tumbuh kembang hingga akhirnya menjadi remaja. Tapi memilih bekerja di luar rumah ataupun menjadi ibu rumah tangga yang full mengurus anak adalah sama baiknya. Sebab Allah memberi kondisi yang berbeda-beda untuk setiap rumah tangga, utamanya perihal finansial.
Jember, 8 Juni 2016















