Nabi Palsu
Telinga gue masih bisa belum lepas dengan album Menari Dengan Bayangan. Satu-satunya CD yang ada di mobil gue cuma itu. Tinggal memindahkan sumber musik ke-CD album itu langsung terputar secara otomatis. Melakukan single song repeat pada lagu Rumah ke Rumah dipagi hari atau pulang dari kantor sambil emndengar berulang kali lagu Evaluasi dan Secukupnya. Album ini umurnya sudah hampir 3 tahun, tapi masih sangat relevan. Entah karena kehidupan gue yang statis atau lirik dialbum ini yang visioner.
Tahun 2023 lahir album kedua, yang buat gue memiliki emosi yang lebih dalam. Album ini rasanya lebih dark, namun disisi lain terasa lebih jujur. Mungkin dialbum Menari Dengan Bayangan, Hindia terasa seperti duta kesehatan mental, tapi dialbum ini rasanya seperti orang yang ingin berhenti memotivasi dan menekankan konsep Thanks yourself for saving you yang kerap ia pakai sebagai visual saat manggung.
Lima juta lagi untuk botol minum keras
Tiga juta kosmetik dalam game terus ku kuras
Hanya segelintir uang yang terus keluar deras
Ku sekarang bernafas tanpa tujuan jelas
Karena tak ada lagi yang kucari di sini
Mimpi menjadi besar tak menggiurkan lagi
Anganku hanya sampai sejauh tanah sendiri
Hanya ingin mengeluh tak bisa bijak lagi
Dalam sebuah wawancara Hindia mengaku kalau dia sebagai pecandu alkohol dan gamers yang tidak sehat. Gue tahu rasanya menjadi orang yang selalu dicap baik. Menunjukan diri dengan sisi yang tidak bisa diterima semua orang kadang seperti sebuah ekspresi yang penuh dengan konsekuensi. Mengambil lirik lagu Kunto Aji gue percaya kalau yang harus gue jaga adalah diri sendiri. Gak perlu berbicara terhadap kepedulian dengan sesama jika diri sendiri saja tidak bisa kamu tolong. Terdengar seperti egois, tapi piramida Marslow mengatakan hal itu. Ada dimana tingkatan gue, gue paham jelas. You do not have to win every single battle.
Mencoba menjadi orang yang peduli pada lagu Kami Khawatir Kawan, lalu body positivity pada lagu Perkara Tubuh dan menjadi orang yang penuh kecemasan pada lagu Masalah Masa Depan, Janji Palsu serta semua wawancara Iyaz Lawrence dan monolog-monolog lainnya. Lihat begitu jujurnya dan realistisnya pada setiap lirik lagu ini.
Gue tidak bisa memungkiri jika gue gak bisa menahan diri untuk tidak sing along jika mendengar lagu Cincin, di Part I gue rasa tidak ada yang lebih besar dari lagu ini. Percintaan tak ada habisnya, tapi lagu ini seakan menggambarkan bahwa semua orang tidak ada yang sempurna. Dan menjaga hidup seperti saat ini dalam kondisi yang baik-baik saja rasanya sudah cukup. Yang menyakiti, benahi lagi. Kita Kesana dan Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah mungkin bisa memberikan semangat setelah lagu Iya Sebentar yang sangat gloomy.
Bunuh Idolamu, Pesisir, Ibel, dan Alexandra mungkin tidak terlalu bisa gue nikmati. Tapi punya lirik yang bagus. Rasanya seperti mendengar lagu Membasuh untuk pertama kalinya. Lagu yang buat gue cukup nimkati saja liriknya.
Maka ia berpesan, pada dasarnya semua orang hipokrit
Percaya hanya pada dirimu, bukan idolamu yang liriknya berbelit
Juga dengan mereka, yang menjual air mata setiap menit
Atau dengan pelaku skena, yang bagimu keren selangit
Pada akhirnya gue akan berterimakasih pada Hindia dengan lirik yang dia tulis. Terimakasih telah jujur dalam berkarya tanpa harus merangkai kata indah yang mendayu-dayu.
This is my lovely part :
Bayangkan jika kita tidak menyerah
Tantangan apa pun dari Ayah atau dunia
Kita hadapi, kita lewati, kita ikuti, kita nikmati
Pemanasan global dan perbedaan agama
Kita hadapi, kita lewati
Bayangkan jika kita tidak menyerah
Bayangkan jika kita tidak menyerah














